<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956</id><updated>2011-12-29T05:44:44.496-08:00</updated><category term='KAJIAN BAHASA ARAB'/><category term='Sekilas tentang madu'/><title type='text'>SEHAT DENGAN MADU</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-4020555041671011996</id><published>2011-12-29T05:43:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T05:44:44.519-08:00</updated><title type='text'>PEMBAGIAN CATATAN AMAL</title><content type='html'>&lt;p style="font-size:13px;color:#555;margin:9px 0 3px 0;font-family:Georgia, Helvetica, Arial, Sans-Serif;line-height:140%;font-size:13px;"&gt; &lt;span&gt;Posted:&lt;/span&gt; 28 Dec 2011 03:00 PM PST&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Segala puji hanya bagi Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt;. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diriwayatkan dari ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma, &lt;/em&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p dir="RTL"&gt;نَحْنُ آخِرُ الأُمَمِ وَأَوَّلُ مَنْ يُحَاسَبُ، يُقَالُ:  أَيْنَ الأُمَّةُ الأُمِّيَّةُ وَنَبِيُّهَا؟ فَنَحْنُ الآخِرُوْنَ  الأَوَّلُوْنَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Kita adalah umat yang terakhir (di dunia), tapi yang pertama dihisab (di akherat).” &lt;/em&gt;Seorang sahabat bertanya, “Dimanakah umat-umat yang lainnya dan Nabi mereka?” Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda: &lt;em&gt;“Kita adalah yang terakhir dan yang pertama.” &lt;/em&gt;(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam &lt;em&gt;Sunan-&lt;/em&gt;nya, no. 4280, dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam &lt;em&gt;as-Silsilah ash-Shohiihah, &lt;/em&gt;no. 2374)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Malaikat Pencatat Amal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum muslimin &lt;em&gt;rahimakumullah&lt;/em&gt;, Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; telah  menugaskan para Malaikat yang mulia untuk mengawasi dan mencatat  perbuatan dan ucapan manusia. Mereka mencatatnya dalam lembaran catatan  amal yang akan dibaca oleh manusia pada hari Kiamat kelak. Para Malaikat  yang mulia ini benar-benar sangat amanah dan teliti dalam mencatat.  Mereka mencatat semua ucapan dan perbuatan manusia, secara detail dan  terperinci, baik yang zhohir maupun batin. Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p dir="RTL"&gt;وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوْهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَكَبِيْرٍ مُسْتَطَرٌ (53)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam  buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan)  yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.”&lt;/em&gt; (QS. Qomar: 52-53)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;Ta’ala &lt;/em&gt;juga berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p dir="RTL"&gt;وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ  مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَ  يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَلاَ كَبِيْرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوْا مَا  عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلاَ يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang  bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka  berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan  yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’  Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan  Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.”&lt;/em&gt; (QS. Al-Kahfi: 49)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu, apakah hikmah dicatatnya amal perbuatan manusia, padahal Allah Maha Mengetahui segala sesuatu? Salah satu hikmahnya, &lt;em&gt;Wallohu Ta’ala a’lam&lt;/em&gt;, pencatat ini dilakukan untuk menampakkan keadilan Allah &lt;em&gt;‘Azza wa Jalla.&lt;/em&gt;  Karena di hari Kiamat kelak, manusia akan disuruh membaca catatan  amalnya dan menghisab dirinya, sehingga tidak ada alasan lagi bagi orang  yang bermaksiat untuk mengingkari dosa-dosanya, karena semua telah  tertulis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Ketika Catatan Amal Dibagikan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum muslimin &lt;em&gt;rahimakumullah&lt;/em&gt;, tatkala lembaran catatan amal  dibagikan, setiap umat berlutut di atas lutut mereka dan menanti  panggilan untuk menghadap Rabb semesta alam. Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p dir="RTL"&gt;وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ (28)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut.  Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari  itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”&lt;/em&gt; (QS. Al-Jaatsiyaat: 28).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semua berlutut menunggu dipanggil untuk menghadap Rabb semesta alam.  Ketika seorang hamba tahu bahwa dirinyalah yang dicari dengan panggilan  itu, maka seruan itu akan langsung menggetarkan hatinya. Tubuhnya  gemetar dan ketakutan yang besar langsung menyelimutinya. Berubahlah  rona wajahnya dan menjadi hampalah pikirannya. Kemudian kitab catatan  amalnya dibentangkan dan dibuka di hadapannya. Lalu dikatakan kepadanya:&lt;/p&gt; &lt;p dir="RTL"&gt;اِقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًا (14)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”&lt;/em&gt; (QS. Al-Isro’: 13-14)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada saat itulah semua manusia akan teringat apa yang dulu telah ia  lakukan. Semua telah tercatat dengan lengkap dan tiada kekeliruan  sedikit pun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagian ulama mengatakan, “Sungguh, Allah telah berlaku adil, karena menjadikan dirimu sebagai penghisab atas dirimu sendiri.”&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sungguh tepat perkataan ini. Adakah kebijaksanaan yang lebih adil  selain itu? Dikatakan kepadanya: “Silakan periksa, inilah amal  perbuatanmu dan silakan engkau hisab sendiri!” Bukankah ini  kebijaksanaan yang paling adil?! Bahkan inilah kebijaksanaan yang paling  adil. Pada hari Kiamat kelak, kitab catatan amal akan dibentangkan dan  dibuka di hadapan masing-masing hamba tanpa tertutup sedikitpun. Ia akan  membacanya dan akan jelas baginyabahwa pada hari ini dan di tempat ini,  ia telah melakukan ini dan ini. Semua telah tercatat tanpa penambahan  dan pengurangan sedikit pun. Jika ia mengingkari dengan lesannya, maka  lesannya akan dikunci dan bangkitlah para saksi yang akan memberikan  kesaksian atasnya. Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p dir="RTL"&gt;اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ (65)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada  Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang  dahulu mereka usahakan.” &lt;/em&gt;(QS. Yaasiin: 65)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Cara Menerima Kitab&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah dihisab, setiap hamba akan diberikan bukunya masing-masing  yang berisi catatan lengkap seluruh amal perbuatan yang telah ia lakukan  dalam kehidupan dunia. Cara penyerahan buku itu berbeda-beda. Ada yang  kitab amalnya diterima dengan tangan kanannya. Mereka itulah orang yang  bahagia. Ada pula yang menerima kitab dengan tangan kirinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang mukmin akan diberikan bukunya dari arah depan dan ia terima  dengan tangan kanannya. Ia dihisab dengan mudah dan kembali kepada  kaumnya yang sama-sama beriman di Surga dengan gembira. Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p dir="RTL"&gt;فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ (7) فَسَوْفَ  يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيْرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوْرًا  (9)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka  dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali  kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.”&lt;/em&gt; (QS. Al-Insyiqaaq: 7-9)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; mengatakan bahwa setelah dihisab, ia kembali kepada sesama kaum beriman di Surga dengan hati yang gembira. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  mengabarkan bahwa rombongan pertama yang masuk Surga, wajah mereka  seperti bulan purnama. Ini menunjukkan kegembiraan hati mereka. Karena  apabila hati gembira, maka wajah akan ceria.” (&lt;em&gt;Tafsiir Juz ‘Amma&lt;/em&gt;, hal. 114)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, mereka akan menerima kitabnya dengan tangan kirinya. Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p dir="RTL"&gt;وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُوْلُ يَا  لَيْتَنِي لَمْ أُوْتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ  (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي  مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah  kirinya, maka dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak  diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab  terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala  sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah  hilang pula kekuasaanku daripadaku.”&lt;/em&gt; (QS. Al-Haqqoh: 25-29)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kitab catatan amal mereka diberikan dari arah belakang punggung mereka. Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p dir="RTL"&gt;وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوْرًا (11)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.”&lt;/em&gt; (QS. Al-Insyiqaaq: 10)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;  mengatakan bahwa mereka menerima kitab dengan tangan kiri kemudian  tangannya memelintir ke belakang sebagai isyarat bahwa mereka telah dulu  di dunia telah mencampakkan aturan-aturan al-Qur’an ke belakang  punggung mereka. Mereka telah berpaling dari al-Qur’an, tidak  mempedulikannya, tidak mengacuhkannya, dan merasa tidak ada masalah bila  menyelisinya. Lalu Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman: &lt;em&gt;“…maka dia akan berteriak: “Celakalah aku…”&lt;/em&gt;  yakni ia berteriak menyesali dirinya. Akan tetapi penyesalan tidaklah  berguna lagi pada hari itu, karena habis sudah waktu untuk beramal.  Waktu untuk beramal adalah di dunia, sedangkan di akherat tidak ada lagi  amal, yang ada hanyalah pembalasan. (&lt;em&gt;Tafsiir Juz ‘Amma&lt;/em&gt;, hal. 114)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita memohon kepada Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; agar Allah berkenan memaafkan kesalahan-kesalahan kita dan memberikan ampunan-Nya kepada kita. Aamiin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://attaubah.com/"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1325165574_4"&gt;dr. Muhaimin Ashuri&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Muroja’ah: &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://ustadzaris.com/"&gt;Ustadz Aris Munandar, MA&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-4020555041671011996?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/4020555041671011996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=4020555041671011996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/4020555041671011996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/4020555041671011996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2011/12/pembagian-catatan-amal.html' title='PEMBAGIAN CATATAN AMAL'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-3604009978704766945</id><published>2011-12-16T14:30:00.000-08:00</published><updated>2011-12-16T14:31:45.350-08:00</updated><title type='text'>Tata Cara Adzan dan Iqomah</title><content type='html'>&lt;p style="margin: 1em 0pt 3px;"&gt; &lt;a rel="nofollow" name="2" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 18px;" target="_blank" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-adzan-dan-iqomah.html"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1324074540_3"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adzan dan Iqomah merupakan di antara amalan  yang utama di dalam Islam. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa salam&lt;/em&gt;  bersabda :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai  yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk kepada para imam dan  memberi ampunan untuk para muadzin” &lt;/em&gt;[1]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut sedikit penjelasan yang berkaitan dengan tata cara adzan dan  iqomah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengertian Adzan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara bahasa adzan berarti pemberitahuan atau seruan. Sebagaimana  Allah berfirman dalam surat At Taubah Ayat 3:&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt; وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ  وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat  manusia”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun makna adzan secara istilah adalah seruan yang menandai  masuknya waktu shalat lima waktu dan dilafazhkan dengan lafazh-lafazh  tertentu. [2]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hukum Adzan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ulama berselisih pendapat tentang hukum Adzan. Sebagian ulama  mengatakan bahwa hukum azan adalah sunnah muakkad, namun pendapat yang  lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan &lt;strong&gt;hukum  adzan adalah fardu kifayah&lt;/strong&gt;[3]. Akan tetapi perlu diingat,  hukum ini hanya berlaku bagi laki-laki. Wanita tidak diwajibkan atau pun  disunnahkan untuk melakukan adzan[4].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Syarat Adzan&lt;/strong&gt;[5]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Telah Masuk Waktu Shalat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syarat sah adzan adalah telah masuknya waktu shalat, sehingga adzan  yang dilakukan sebelum waktu solat masuk maka tidak sah. Akan tetapi  terdapat pengecualian pada adzan subuh. Adzan subuh diperbolehkan untuk  dilaksanakan dua kali, yaitu sebelum waktu subuh tiba dan ketika waktu  subuh tiba (terbitnya fajar shadiq). [6]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Berniat adzan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hendaknya seseorang yang akan adzan berniat di dalam hatinya (tidak  dengan lafazh tertentu) bahwa ia akan melakukan adzan ikhlas untuk Allah  semata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Dikumandangkan dengan bahasa arab&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut sebagian ulama, tidak sah adzan jika menggunakan bahasa  selain bahasa arab. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah  ulama dari Madzhab Hanafiah, Hambali, dan Syafi’i.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Tidak ada &lt;em&gt;lahn &lt;/em&gt;dalam  pengucapan lafadz adzan yang merubah makna&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maksudnya adalah hendaknya adzan terbebas dari kesalahan-kesalahan  pengucapan yang hal tersebut bisa merubah makna adzan. Lafadz-lafadz  adzan harus diucapkan dengan jelas dan benar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;5.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Lafadz-lafaznya diucapkan sesuai  urutan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hendaknya lafadz-lafadz adzan diucapkan sesuai urutan sebagaimana  dijelaskan dalam hadits-hadits yang sahih. Adapun bagaimana urutannya  akan dibahas di bawah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;6.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Lafadz-lafadznya diucapkan  bersambung&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maksudnya adalah hendaknya antara lafazh adzan yang satu dengan yang  lain diucapkan secara bersambung tanpa dipisah oleh sebuah perkataan  atau pun perbuatan di luar adzan. Akan tetapi diperbolehkan berkata atau  berbuat sesuatu yang sifatnya ringan seperti bersin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;7.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Adzan diperdengarkan kepada orang  yang tidak berada di tempat muadzin&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adzan yang dikumandangkan oleh muadzin haruslah terdengar oleh orang  yang tidak berada di tempat sang muadzin melakukan adzan. Hal tersebut  bisa dilakukan dengan cara mengeraskan suara atau dengan alat pengerasa  suara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sifat Muadzin&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Muslim&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disyaratkan bahwa seorang muadzin haruslah seorang muslim. Tidak sah  adzan dari seorang yang kafir. [7]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Ikhlas hanya mengharap wajah Allah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sepatutnya seorang muadzin melakukan adzan dengan niat ikhlas  mengaharap wajah Allah. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa salam&lt;/em&gt; bersabda  : &lt;em&gt;“Tetapkanlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah dari  adzannya itu.”&lt;/em&gt;[8]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Adil dan amanah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yaitu hendaklah muadzin adil dan amanah dalam waktu-waktu shalat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Memiliki suara yang bagus&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa salam&lt;/em&gt; bersabda kepada  sahabat Abdullah bin Zaid: &lt;em&gt;“pergilah dan ajarkanlah apa yang kamu  lihat (dalam mimpi) kepada Bilal, sebab ia memiliki suara yang lebih  bagus dari pada suaramu” &lt;/em&gt;[9]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;5.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Mengetahui kapan waktu solat masuk&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hendaknya seorang muadzin mengetahui kapan waktu solat masuk sehingga  ia bisa mengumandangkan adzan tepat pada awal waktu dan terhindar dari  kesalahan. [10]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sifat Adzan [11]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terdapat tiga cara adzan, yaitu :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Adzan dengan 15 kalimat, yaitu dengan lafazh [12]: &lt;p style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;4x اَللهُ  اَكْبَرُاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ ×2&lt;br /&gt;اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ ×2&lt;br /&gt;حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ ×2&lt;br /&gt;حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ ×2&lt;br /&gt;2x اَللهُ اَكْبَرُ&lt;br /&gt;1x لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adzan seperti ini adalah cara yang dipilih oleh abu hanifah dan imam  ahmad. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adzan dengan 19 kalimat [13], yaitu sama seperti adzan  cara  pertama akan tetapi ditambah dengan tarji’ (pengulangan) pada  syahadatain. Tarji’ adalah mengucapkan &lt;em&gt;syahadatain&lt;/em&gt; dengan suara  pelan –tetapi masih terdengar oleh orang-orang yang hadir- kemudian  mengulanginya kembali dengan suara keras. Jadi lafazah &lt;em&gt;“asyhadu alla  ilaaha illallaah”&lt;/em&gt;dan&lt;em&gt;“asyhadu anna muhammadarrasulullah”&lt;/em&gt;masing-masing  diucapkan empat kali. Adzan seperti ini adalah cara yang dipilih oleh  Imam Asy Syafi’i.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adzan dengan 17 kalimat, yaitu sama dengan cara adzan kedua akan  tetapi takbir pertama hanya diucapkan dua kali, bukan empat kali. Adzan  seperti ini adalah cara yang dipilih oleh Imam Malik dan sebagian Ulama’  Madzhab Hanafiah. Akan tetapi menurut penulis &lt;em&gt;Shahiq Fiqh Sunnah&lt;/em&gt;,  hadits yang menjelaskan kaifiyat ini adalah hadits yang tidak sahih.  Sehingga adzan dengan cara ini tidak disyariatkan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Yang Dianjurkan bagi Muadzin&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Adzan dalam keadaan suci&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini berdasarkan dalil-dalil umum yang menganjurkan agar manusia  dalam keadaan suci ketika berdizikir (mengingat) kepada Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Adzan dalam keadaan berdiri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana sabda Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa salam&lt;/em&gt;dalam  hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar : &lt;em&gt;“berdiri wahai bilal!  Serulah manusia untuk melakukukan solat!”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Adzan menghadap kiblat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Memasukkan jari ke dalam telinga&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh sahabat Bilal ketika  adzan. [14]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;5.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Menyambung tiap dua-dua takbir&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maksudnya adalah menyambungkan kalimat Allahu akbar-allahu akbar,  tidak dijeda antara keduanya. [15]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;6.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Menolehkan kepala ke kanan ketika  mengucapakan &lt;em&gt;“hayya ‘alas shalah”&lt;/em&gt;dan menolehkan kepala ke kiri  ketika mengucapakan &lt;em&gt;“hayya ‘alal falah”.&lt;/em&gt; [16]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;7.      &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Menambahkan “&lt;em&gt;ash shalatu khairum  minannaum”&lt;/em&gt; pada azan subuh. [17]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengertian Iqamah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Iqamah secara istilah maknanya adalah pemberitahuan atau seruan bahwa  sholat akan segera didirikan dengan menyebut lafazh-lafazh khusus. [18]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hukum Iqamah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hukum iqamah sama dengan hukum adzan, yaitu fardu kifayah. Dan hukum  ini juga tidak berlaku untuk wanita. [19]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sifat Iqamah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada dua cara iqamah [20]:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Dengan sebelas kalimat [21], yaitu :&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 18px; text-align: center;"&gt;2x اَللهُ اَكْبَرُ&lt;br /&gt;1x اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ&lt;br /&gt;1x اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ&lt;br /&gt;1x حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ&lt;br /&gt;1xحَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ&lt;br /&gt;2xقَدْ قَامَتِ الصَّلاَةِ&lt;br /&gt;2x اَللهُ اَكْبَرُ&lt;br /&gt;1x لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Dengan tujuh belas kalimat [22], yaitu :&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 18px; text-align: center;"&gt; 4xاَللهُ اَكْبَرُ&lt;br /&gt;2x اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ&lt;br /&gt;2x اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ&lt;br /&gt;2x حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ&lt;br /&gt;2x حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ&lt;br /&gt;2x قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةِ&lt;br /&gt;2x اَللهُ اَكْبَرُ&lt;br /&gt;1x لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Apakah yang Melaksanakan Iqamah Harus Orang yang  Mengumandangkan Adzan?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagian besar ulama’ mengatakan hukumnya adalah hanya anjuran dan  tidak wajib, sebagaimana kebiasaan Sahabat Bilal, beliau yang adzan  beliau pula yang iqamah. Dan boleh hukumnya jika yang adzan dan iqamah  berbeda. [23]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;—&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Catatan Kaki&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi  (207), dan Ahmad (II/283-419)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[2] Lihat &lt;em&gt;Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam&lt;/em&gt;, hal 84,   cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh Abdullah Al Bassam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[3] Diantara ulama yang berpendapat bahwa hukum adzan adalah fardu  kifayah adalah sebagian Ulama’ Mazhab Malikiyah dan Syafi’iah, Imam  Ahmad, Atha’ bin Abi Robah, Mujahid, Al Auza’i, Ibnu Hazm, dan Ibnu  Taimiyah. Sedangkan ulama’ yang berpendapat hukumnya adalah sunnah  muakkad adalah Imam Abu Hanifah, sebagian Ulama’ Madzhab Syafi’iah dan  Malikiyah. Lihat &lt;em&gt;Shahih Fiqh Sunnah&lt;/em&gt;, cetakan Darut Taufiqqiyyah  Litturotsi, Jilid I,halaman 240,karya Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[4] Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari  Sahabat Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa  salam&lt;/em&gt; bersabda &lt;em&gt;“Tidak ada adzan dan iqomah bagi wanita”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[5] Lihat &lt;em&gt;Shahih Fiqh Sunnah&lt;/em&gt;, cetakan Darut Taufiqqiyyah  Litturotsi, Jilid I,halaman 243, karya Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[6] Ulama’ berselisih pendapat tentang hukum adzan sebelum waktu  subuh tiba. Pendapat yang benar adalah hal tersebut dianjurkan. Ulama’  yang berpendapat bahwa hal tersebut dianjurkan diantaranya adalah Imam  Malik, Syafi’i, Ahmad, Al Auza’i, Ishaq, Abu Tsauri, Abu Yusuf, dan Ibnu  Hazm.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[7] Lihat &lt;em&gt;Taudihul Ahkam Syarah Bulughul Maram&lt;/em&gt;, Cetakan  Darul Mayman, Jilid I, halaman 605, karya Karya Syaikh Abdullah Al  Bassam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[8] Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Daud (531), At Tirmidzi  (672), Ibnu Majah (714), dan An Nasa-i (672)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[9] Hadits Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud (499), At Tirmidzi (189),  Ibnu Majah (706), dan lain-lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[10] Lihat &lt;em&gt;Shahih Fiqh Sunnah&lt;/em&gt;, cetakan Darut Taufiqqiyyah  Litturotsi, Jilid I, halaman 247, karya Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[11] Lihat &lt;em&gt;Shahih Fiqh Sunnah&lt;/em&gt;, cetakan Darut Taufiqqiyyah  Litturotsi, Jilid I, halaman 247, karya Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[12]Hadits Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud (499), At Tirmidzi (189),  Ibnu Majah (706), dan lain-lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[13] Hal ini berdasarkan sebuah hadits hasan dari Sahabat Abi  Mahdzuroh yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (500-503), At Tirmidzi (192),  Ibnu Majah (709), dan An Nasa’i (II/4).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[14] Hadits Shahih diriwayatkan oleh At Tirmidzi (197) dan Ahmad  (IV/308).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[15] Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Umar bn  Khattab oleh Imam Muslim (385) dan Abu Dawud (523).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[16] Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari (187)  dan Muslim (503) dari Sahabat Abu Juhaifah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[17] Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad (16043),  Abu Dawud (499),  At Tirmidzi (189), dan Ibnu Khuzaimah (386) dari  Sahabat Anas bin Malik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[18] Lihat &lt;em&gt;Taudihul Ahkam Syarah Bulughul Maram&lt;/em&gt;, Cetakan  Darul Mayman, Jilid I, halaman 573, karya Syaikh Abdullah Al Bassam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[19] Ulama’ yang berpendapat bahwa adzan hukumnya adalah fardu  kifayah maka mereka juga berpendapat iqomah hukumnya adalah fardu  kifayah. Begitu juga dengan ulama’ yang berpendapat bahwa adzan itu  sunnah muakkad, maka iqomah juga sunnah muakkad. Lihat &lt;em&gt;Taisirul  ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam&lt;/em&gt;, hal 85,  cetakan Maktabah Al Asadi dan  Taudihul Ahkam Syarah Bulughul Marom, Cetakan Darul Mayman, Jilid I,  halaman 573, keduanya Karya Syaikh Abdullah Al Bassam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[20] Lihat &lt;em&gt;Shahih Fiqh Sunnah&lt;/em&gt;, cetakan Darut Taufiqqiyyah  Litturotsi, Jilid I, halaman 254, karya Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[21] Berdasarkan hadits hasan yang diriwayatkan oleh Abu Daud (499),  At Tirmidzi (189), Ibnu Majah (706), dan lain-lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[22] Hal ini berdasarkan sebuah hadits hasan dari Sahabat Abi  Mahdzurah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (500-503), At Tirmidzi (192),  Ibnu Majah (709), dan An Nasa’i (II/4)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[23] Lihat &lt;em&gt;Shahih Fiqh Sunnah&lt;/em&gt;, cetakan Darut Taufiqqiyyah  Litturotsi, Jilid I, halaman 255, karya Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Catatan editor&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Syaikh Shalih Al Fauzan &lt;em&gt;hafizhahullah &lt;/em&gt;menjelaskan bahwa  kita disunnahkan melatunkan adzan dengan suara yang baik dan hukum  melagukan adzan itu makruh. (Demikian perkataan beliau dari durus  Al  Muntaqa Al Akhbar ketika menjelaskan masalah Adzan). Karena melagukan  adzan sering terjadi lahn (kesalahan dalam pengucapan). &lt;em&gt;Wallahu  a’lam&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sedangkan dalil yang menyebutkan, “&lt;em&gt;Siapa yang adzan,  maka  hendaklah dialah yang iqamah&lt;/em&gt;”, hadits ini adalah hadits yang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;dha’if&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.  Hadits ini dikatakan &lt;em&gt;dha’if&lt;/em&gt; oleh Syaikh Al Albani dalam Irwaul  Ghalil no. 237.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;—&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Muhammad Rezki Hr&lt;br /&gt;Editor: M. A. Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.muslim.or.id/"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1324074540_4"&gt;www.muslim.or.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-3604009978704766945?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/3604009978704766945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=3604009978704766945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/3604009978704766945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/3604009978704766945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2011/12/tata-cara-adzan-dan-iqomah.html' title='Tata Cara Adzan dan Iqomah'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-465985036946695886</id><published>2011-10-02T06:53:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T06:54:49.287-07:00</updated><title type='text'>Cara Duduk Tasyahhud Terakhir Sholat Subuh</title><content type='html'>&lt;div class="newsitem_tools"&gt; &lt;div class="newsitem_info"&gt;     &lt;span class="createdate"&gt;    Friday, 24 September 2010 18:54  &lt;/span&gt;      &lt;span class="createby"&gt;    administrator  &lt;/span&gt;                      &lt;/div&gt;  &lt;div class="buttonheading"&gt;         &lt;span class="email"&gt;    &lt;a href="http://firanda.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&amp;amp;link=aHR0cDovL2ZpcmFuZGEuY29tL2luZGV4LnBocC9rb25zdWx0YXNpL2ZpcWgvNTUtY2FyYS1kdWR1ay10YXN5YWhodWQtdGVyYWtoaXItc2hvbGF0LXN1YnVo" title="E-mail"&gt;&lt;img src="http://firanda.com/images/M_images/emailButton.png" alt="E-mail" /&gt;&lt;/a&gt;   &lt;/span&gt;           &lt;span class="print"&gt;    &lt;a href="http://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/55-cara-duduk-tasyahhud-terakhir-sholat-subuh?tmpl=component&amp;amp;print=1&amp;amp;page=" title="Print" rel="nofollow"&gt;&lt;img src="http://firanda.com/templates/yoububble/images/printButton.png" alt="Print" /&gt;&lt;/a&gt;   &lt;/span&gt;           &lt;span class="pdf"&gt;    &lt;a href="http://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/55-cara-duduk-tasyahhud-terakhir-sholat-subuh?format=pdf" title="PDF" rel="nofollow"&gt;&lt;img src="http://firanda.com/templates/yoububble/images/pdf_button.png" alt="PDF" /&gt;&lt;/a&gt;   &lt;/span&gt;      &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;a class="addthis_button" href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=250&amp;amp;username=firanda0com"&gt;&lt;img src="http://s7.addthis.com/static/btn/v2/lg-share-en.gif" alt="Bookmark and Share" style="border:0" height="16" width="125" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/div&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img class="border" src="http://firanda.com/images/stories/iftirosy-tawarruk2.jpg" alt="duduk iftirosy dan tawarruk" style="float: left; margin: 5px;" border="0" width="250" /&gt;Pertanyaan :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Manakah yang benar tatkala duduk  tasyahhud terakhir sholat subuh, apakah dengan duduk tawarruk (yaitu  duduk dengan mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan, dan  tidak menduduki kaki kirinya) ataukah dengan duduk iftirosy(duduk dengan  menghamparkan kaki kirinya dan duduk diatasnya serta menegakkan kaki  kanan)?. Mohon penjelasannya ustadz.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jawab :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Permasalahan ini adalah permasalahan khilaf (perbedaan pendapat) klasik. Namun &lt;strong&gt;pada kesempatan kali ini penulis mencoba untuk menjelaskan khilaf &lt;/strong&gt;yang  kuat antara madzhab Imam Ahmad dan madzhab Syafi'i. Tentunya  masing-masing madzhab sama-sama memiliki dalil yang kuat. Oleh karenanya  tulisan ini hanya usaha kecil dari penulis untuk memandang yang terkuat  dari dua pendapat tersebut -tentunya menurut hemat penulis yang lemah  ini-. Dan tulisan berikut ini tidak pantas dikatakan sebagai bantahan  terhadap tulisan-tulisan yang bagus yang telah ada tentang permasalahan  ini, akan tetapi hanya sebagai tambahan wacana bagi para pembaca yang  budiman. Oleh karenanya tidak pantas jika kita menuduh bahwa orang yang  berselisih dengan kita dalam permasalahan ini bahwa ia "&lt;strong&gt;pada hakekatnya tidak memberikan hak yang semestinya terhadap pembahasan ini"&lt;/strong&gt;,  karena masing-masing telah berusaha berdalil dan berijtihad dalam  memahami dalil, dan toh permasalahan ini adalah permasalahan khilaf  klasik yang sejak dulu telah ada. Semoga Allah senantiasa merahmati para  ulama yang berusaha memudahkan pemahaman agama kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Catatan  : Madzhab As-Syafi'i dan madzhab Hanbali bersepakat bahwa untuk sholat  yang memiliki dua tasyahhud maka tasyahhud awal dengan duduk iftirosy  dan tasyahhud kedua dengan duduk tawarruk. Khilaf yang terjadi diantara  kedua madzhab ini adalah pada sholat-sholat yang hanya memiliki satu  tasyahhud seperti sholat subuh dan sholat jum'at, apakah dengan duduk  iftirosy ataukah dengan duduk tawarruk.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendapat Madzhab As-Syafi'i&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Madzhab Syafi'i  berpendapat bahwa duduk pada setiap rakaat yang terakhir baik sholat  yang memiliki dua tasyahhud (seperti sholat dhuhur, ashar, magrib, dan  isyaa') maupun sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud (seperti sholat  subuh, sholat jum'at,  sholat witir satu rakaat, atau sholat-sholat  sunnah 2 rakaat) maka semuanya dilakukan dengan duduk tawarruk.&lt;br /&gt;Dalil yang dikemukakan oleh madzhab As-Syafi'i adalah hadits Abu Humaid As-Sa'idi&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ  رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا  كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ  يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ  اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ  يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ  أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ  جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي  الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى  وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;”Aku adalah orang yang paling  menghafal diantara kalian tentang shalatnya Rasulullah – shallallahu  ‘alaihi wa sallam -. Aku melihatnya tatkala bertakbir , menjadikan kedua  tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ruku’, beliau  menetapkan kedua tangannya pada kedua lututnya, lalu meluruskan  punggungnya. Dan jika beliau mengangkat kepalanya , maka ia berdiri  tegak hingga kembali setiap dari tulang belakangnya ke tempatnya. Dan  jika beliau sujud, maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa  menidurkan kedua lengannya dan tidak pula melekatkannya (pada  lambungnya), dan menghadapkan jari-jari kakinya kearah kiblat. &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Dan jika beliau duduk pada raka’at kedua&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;,  maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk  iftirasy), dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir, maka beliau  mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk  diatas tempat duduknya – bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk). (HR  Al-Bukhari no 828).&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi berkata, "Imam As-Syafi'i dan para sahabat kami (dari madzhab As-Syafi'i) berkata:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالأَصْحَابُ :  فَحَدِيْثُ أَبِي حُمَيْدٍ وَأَصْحَابِهِ صَرِيْحٌ فِي اْلفَرْقِ بَيْنَ  التَّشَهُّدَيْنِ. وَبَاقِيَ اْلأَحَادِيْثُ مُطْلَقَةٌ فَيَجِبُ حَمَلَهَا  عَلَى مُوَافَقَتِهِ, فَمَنْ رَوَى التَّوَرُّكَ أَرَادَ اْلجُلُوْسَ فِي  التَّشَهُّدِ اْلأَخِيْرِ, وَمَنْ رَوَى اْلاِفْتِرَاشَ أَرَادَ  اْلأَوَّلَ. وَهذَا مُتَعَيِّنٌ لِلْجَمْعِ بَيْنَ اْلأَحَادِيْثِ  الصَّحِيْحَةِ لاَ سِيَمَا وَحَدِيْثُ أَبِي حُمَيْدٍ وَافَقَهُ عَلَيْهِ  عَشَرَةٌ مِنْ كِبَارِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ. وَاللهُ  أَعْلَمُ.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;”Hadits Abu Humaid dan para  shahabatnya jelas membedakan antara dua duduk tasyahhud, sedangkan  hadits-hadits yang lainnya adalah hadits yang mutlak, sehingga wajib  untuk dibawakan sesuai dengan hadits ini (hadits Abu Humaid-pen). Barang  siapa yang meriwayatkan hadits duduk tawarruk, maka yang dimaksud  adalah duduk pada tasyahhud akhir, dan yang meriwayatkan duduk iftirasy ,  yang dimaksud adalah tasyahhud awal. dan harus dilakukan untuk  menggabungkan antara hadits-hadits yang shahih, terlebih lagi hadits Abu  Humaid As-Sa’idi telah disetujui oleh sepuluh orang dari para pembesar  shahabat radhiallahu anhum. Wallahu a’lam”. (Al-Majmu’ Syarhul  Muhadzdzab, 3/413)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hadits Abu Humaid ini juga datang  dalam lafal-lafal yang lain yang semakin memperkuat madzhab As-Syafi'i.  Diantara lafal-lafal tersebut adalah:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;حتى إذا كانت السَّجْدَةُ التي فيها التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا على شِقِّهِ الْأَيْسَرِ&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Hingga tatkala sampai&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt; sujud yang terakhir yang ada salamnya&lt;/span&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;maka  Nabi mengeluarkan kaki kirinya dan beliau duduk dengan tawaruuk di atas  sisi kiri beliau" (HR Abu Dawud no 963 dan Ibnu Maajah no 1061)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Diantaranya juga&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي  تَكُوْنُ خَاتِمَةَ الصَّلاَةِ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْهُمَا وَأَخَّرَ  رِجْلَهُ وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى رِجْلِهِ&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;"Hingga tatkala&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt; sampai pada sujud yang merupakan penutup sholat&lt;/span&gt;,  maka beliau mengangkat kepala beliau dari dua sujud tersebut dan  mengeluarkan kaki beliau dan duduk tawarruk di atas kakinya" (HR Ibnu  Hibbaan no 1870)&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Diantaranya juga&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;إذا كان في الرَّكْعَتَيْنِ  اللَّتَيْنِ تَنْقَضِي فِيهِمَا الصَّلَاةُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى  وَقَعَدَ على شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا ثُمَّ سَلَّمَ&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Jika Nabi berada &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;pada dua rakaat yang pada keduanya berakhir sholat&lt;/span&gt; maka Nabi mengakhirkan kaki kirinya dan duduk tawaruuk di atas sisi beliau kemudian beliau salam" (HR An-Nasaai no 1262)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sisi pendalilan madzhab As-Syafi'i:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sisi pendalilan mereka adalah keumumann dari lafal-lafal yang datang dalam hadits Abu Humaid As-Sa'idi diatas seperti "&lt;strong&gt;  dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir", "sujud yang terakhir yang  ada salamnya", "sujud yang merupakan penutup sholat" dan "pada dua  rakaat yang pada keduanya berakhir sholat"&lt;/strong&gt;. Lafal-lafal ini  umum mencakup seluruh tasyahhud di rakaat yang terakhir yang merupakan  penutup sholat, apakah pada sholat yang memiliki dua tasyahhud ataukah  sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud seperti sholat subuh dan  sholat jum'at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendapat Madzhab Hanbali&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk sholat yang hanya ada satu tasyahhud (seperti sholat subuh dan sholat jum'at) maka duduknya adalah duduk iftirosy. &lt;br /&gt;Ibnu  Qudaamah berkata, "Dan tidaklah dilakukan duduk tawarruk kecuali pada  sholat yang memiliki dua tasyahhud yaitu pada tasyahhud yang dedua"  (al-Mughni 2/227)&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Dalil Madzhab Hanbali adalah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hadits Aisyah –radhiyallahu 'anhaa-, beliau berkata&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Adalah beliau (Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – ) mengucapkan tahiyyat &lt;strong&gt;pada setiap dua raka’at,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt; dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).”&lt;br /&gt;(HR. Muslim no 498).&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hadits Abdullah bin Az-Zubair&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِيْ الرَّكْعَتَيْنِ افْتَرَشَ اْليُسْرَى، وَنَصَبَ اْليُمْنَى&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Adalah Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – &lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;jika duduk pada dua raka’at,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; beliau menghamparkan yang kiri, dan menegakkan yang kanan (duduk iftirasy, pent).” (HR. Ibnu Hibban no 1943).&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hadits Wail bin Hujr – radhiyallahu ‘anhu – bahwa beliau berkata:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ جَلَسَ فِيْ الصَّلاَةِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ  اْليُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ اْليُمْنَى&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Aku melihat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – &lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;ketika duduk dalam shalat, &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” (HR. Ibnu Khuzaimah no 691)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafal yang lain&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ  افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى  فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Maka tatkala beliau duduk untuk  tasyahhud, beliau menghamparkan kaki kirinya dan meletakkan tangan  kirinya di atas pahanya , dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy,  pent).” (HR. Tirmidzi  no 292)&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafal yang lain :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;وإذا جَلَسَ افْتَرَشَ&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan jika Nabi duduk (dalam sholat-pent) beliau beriftirosy (HR At-Thobrooni dalam Al-Mu'jam Al-Kabiir 22/33 no 78)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sisi pendalilan madzhab Hanbali&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sisi pendalilan mereka adalah  keumuman lafal-lafal hadits ini, dan semua lafal-lafal di atas termasuk  lafal-lafal umum, seperti, &lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;"Ketika duduk", "Jika duduk", "Tatkala beliau duduk"&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama :&lt;/strong&gt; Apakah hadits yang dijadikan dalil oleh madzhab Asy-Syafi'i –yaitu hadits Abu Hamid As-Sa'idi- memberi faedah keumuman?&lt;br /&gt;Jika  merenungkan dan mengamati hadits ini, ternyata hadits ini adalah sebuah  kisah yang disampaikan oleh Abu Humadi As-Sa'idi tentang jenis sholat  tertentu, yaitu sholat yang memiliki dua tasyahhud. Hal ini Nampak  sangat jelas jika kita kembali melihat lafal-lafal hadits ini. Oleh  karenanya lafal-lafal yang datang yang seakan-akan memberi faedah  keumuman pada hakekatnya adalah penjelas tentang sholat yang memiliki  dua tasyahhud tersebut, dan tidak mencakup seluruh sholat.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebagai pendekatan logika:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Misalnya penulis berkata kepada para  pembaca sekalian tentang sholatnya Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad,  lantas penulis berkata; "Aku adalah orang yang paling tahu tentang cara  sholatnya Syaikh Abdul Muhsin, tatkala beliau duduk di rakaat kedua maka  beliau duduk iftirosy. Dan tatkala beliau duduk di rakaat yang terakhir  yaitu rakaat penutup sholat, yang ada salamnya maka beliau duduk  tawarruk".&lt;br /&gt;Coba para pembaca yang budiman renungkan, apakah perkataan  penulis "Pada rakaat terakhir" dipahami bahwasanya maksud penulis untuk  seluruh sholat secara umum, baik sholat subuh dan sholat jum'at?,  ataukah dipahami dari perkataan penulis "Pada rakaat yang terakhir"  maksudnya adalah rakaat yang keempat yang berkaitan dengan sholat Syaikh  Abdul Muhsin yang sedang penulis ceritakan?&lt;br /&gt;Tentunya yang dipahami  adalah yang kedua. Dan tidaklah penulis mengatakan "Pada rakaat yang  terakhir yang merupakan penutup sholat yang ada salamnya" kecuali untuk  membedakan antara tasyahhud awal dan tasyahhud akhir yang merupakan  penutup sholat.&lt;br /&gt;Maka demikian pula perihalnya hadits Abu Humaid As-Saa'idi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua :&lt;/strong&gt; Dalil yang  digunakan oleh madhab Hanbali keumumannya lebih kuat. Adapun hadits  Aisyah keumumannya dari sisi فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ "Pada setiap dua  rakaat". Disini ada lafal "كُلِّ", dan ini merupakan lafal yang kuat  dalam menunjukan keumuman .&lt;br /&gt;Demikian juga hadits Abdullah bin Zubair  semakna dengan hadits Aisyah, hanya saja kemumumannya diambil dari  lafal إِذَا "Jika" yaitu dalam lafal إِذَا جَلَسَ فِيْ الرَّكْعَتَيْنِ  افْتَرَشَ "Nabi jika duduk di dua rakaat maka beliau duduk iftirosy".  Hal ini menunjukan bahwa beliau duduk dengan iftirosy di setiap dua  rakaat -secara umum baik pada sholat dua rakaat yang hanya memiliki satu  tasyahhud atau pada sholat 3 atau 4 rakaat yang memiliki dua  tasyahhud-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peringatan 1:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sisi pendalilan  yang digunakan oleh madzhab Hanabilah dari hadits Aisyah ini bukan  dengan mafhuum al-'adad (mafhuum bilangan) sebagaimana persangkaan  sebagian orang.&lt;br /&gt;(lihat :  http://jalansunnah.wordpress.com/2009/12/07/cara-duduk-tasyahhud-akhir-dalam-setiap-sholat/  dan  http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3191-cara-duduk-tasyahud-iftirosy-atau-tawarruk.html)&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya madzhab Hanbali yang  berdalil dengan hadits ini sama sekali tidak pernah menyebutkan tentang  mafhuumul 'adad, karena memang mafhuumul 'adad lemah menurut para ulama  ahli ushul.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maksud dari mafhuum al-'adad:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mafhuum  al-'adad adalah salah satu jenis dari jenis-jenis mafhuum  al-mukhoolafah (yaitu kebalikan dari suatu manthuuq/teks kalimat).  Sebagai ceontoh misalnya hadits Nabi :"Barangsiapa yang Allah kehendaki  kebaikan baginya maka Allah akan pahamkan agama baginya". Ini adalah  manthuuq hadits, adapun mafhuum al-mukhoolafah dari hadits ini (yaitu  makna kebalikannya) adalah ; Barang siapa yang tidak Allah kehendaki  kebaikan baginya maka Allah tidak akan memahamkan agama baginya.&lt;br /&gt;Contoh  lain sabda Nabi :"Jika air telah mencapai dua kullah maka tidak akan  ternajisi". Mafhuum al-mukhoolafahnya adalah : Jika air kurang dari dua  kullah maka ternajisi"&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Adapun mafhhum al-'adad yang  merupakan salah satu bentuk mafhuum al-mukhoolafah definisinya adalah  :تعليق الحكم بعدد مخصوص Pengkaitan suatu hukum dengan bilangan tertentu  (Ma'aalim ushuul al-fiqh hal 461)&lt;br /&gt;Maka jika Aisyah berkata : “Adalah  Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – jika duduk pada dua  raka’at, beliau menghamparkan yang kiri, dan menegakkan yang kanan  (duduk iftirasy, pent).”&lt;br /&gt;Maka mafhuumul 'adad dari hadits ini yaitu :  "Jika Rasulullah tidak duduk pada dua rakaat maka beliau tidak duduk  iftirosy". Karena mafhuumul 'adad merupakan salah satu bentuk mafhuum  al-mukhoolafah.  Dan tidak ada seorangpun yang berdalil dengan hadits  Aisyah ini –sepanjang penelitian penulis yang terbatas ini- dengan  mafhuumul 'adad.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Peringatan 2:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagian  orang mengkhususkan keumuman hadits Aisyah diatas dengan hadits Rifa'ah  yaitu sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلاَةِ فَاطْمَئِنَّ وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;“Maka jika engkau duduk di  pertengahan shalat, maka lakukanlah thuma’ninah, dan hamparkan paha  kirimu – agar engkau duduk diatasnya – (duduk iftirasy), lalu lakukanlah  tasyahhud”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(HR. Abu Dawud dari Rifa’ah bin Rafi’, dan  Al-Albani berkata: sanadnya hasan. Lihat kitab: Aslu Shifatis Shalaah,  Al-Albani: 3/831-832).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pengkhususan ini kuranglah tepat, karena tiga hal :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;-    Kedua hadits ini adalah dua hadits yang berbeda&lt;br /&gt;-     Penyebutan sebagian anggota dari keumuman tidaklah mengkhususkan  keumuman tersebut. Kaedah ini telah dijelaskan oleh Syaikh Al-Utsaimin  dengan panjang lebar. Sebagai contoh : jika Pak Dosen berkata,  "Muliakanlah semua mahasiswa", ini merupakan lafal umum. Kemudian ia  berkata lagi, "Muliakanlah mahasiswa yang bernama Muhammad". Dan  Muhammad adalah salah satu anggota dari keumuman lafal "semua  mahasiswa". Maka tidaklah dipahami dari perkataan pak dosen bahwasanya  keumuman tersebut dikhususkan sehingga yang dimuliakan hanyalah si  Muhammad. Hal ini juga sebagaimana dalam permasalahan ini. Jika  disebutkan dalam sebuah hadits bahwasanya Nabi asalnya duduk dalam  sholat dengan cara iftirosy, lantas datang dalam hadits yang lain  –seperti hadits Rifa'ah- bahwasanya Nabi memerintahkan bahwa untuk duduk  iftirosy di tengah sholat (tasyahhud awal) maka hal ini tidak  melazimkan kalau di akhir sholat maka tidak iftirosy&lt;br /&gt;-    Pendalilan  seperti ini (pengkhususan dengan hadits Rifa'ah) merupakan pendalilan  dengan mafhuum al-mukhoolafah, sejenis dengan mafhuumul 'adad&lt;br /&gt;-     Justru dzohir dari hadits Rifa'ah yaitu Nabi sedang berbicara tentang  sholat yang ada dua tasyahhudnya, karena Nabi mensifati tasyahhud awal  dengan di tengah sholat, berarti di akhir sholat adalah tasyahhud akhir.  Dan ini semakna dengan hadits Abu Humaid, dan keluar dari medan khilaf,  karena khilaf yang sedang kita bahas antara madzhab Syafi'i dan madzhab  Hanbali adalah pada sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga :&lt;/strong&gt;  Dalil yang dikemukakan oleh Madzhab Hanbali bukan hanya hadits Aisyah,  ada hadits yang lainnya yang lebih umum lagi yaitu hadits Wail bin Hujr.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ جَلَسَ فِيْ الصَّلاَةِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ  اْليُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ اْليُمْنَى&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Aku melihat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – &lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;ketika duduk dalam shalat,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” (HR. Ibnu Khuzaimah no 691)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafal yang lain&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ  افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى  فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Maka tatkala beliau duduk untuk  tasyahhud, beliau menghamparkan kaki kirinya dan meletakkan tangan  kirinya di atas pahanya , dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy,  pent).” (HR. Tirmidzi  no 292).&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafal yang lain : &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;وإذا جَلَسَ افْتَرَشَ&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Dan jika Nabi duduk (dalam sholat-pent) beliau beriftirosy. (HR At-Thobrooni dalam Al-Mu'jam Al-Kabiir 22/33 no 78)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Penulis katakan bahwasanya hadits  Wail bin Hujr lebih umum karena menjelaskan bahwasanya Nabi setiap duduk  dalam sholat beliau duduk iftirosy. Mencakup segala bentuk duduk,  apakah duduk diantara dua sujud, ataukah duduk istirohah, ataukah duduk  tatkala sholat dua rakaat, ataukah duduk tatkala sholat satu rakaat.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keempat :&lt;/strong&gt;  keumuman dalil-dalil yang digunakan oleh Hanabilah (seperti hadits  Aisyah, Abdullah bin Az-Zubair dan Wail Bin Hujr) dikhususkan oleh  madzhab Hanabilah dengan hadits Abu Humaid. Oleh karenanya meskipun  hadits-hadits tersebut menjelaskan bahwasanya Nabi duduk iftirossy pada  setiap duduk beliau dalam sholat akan tetapi hadits tersebut dikhususkan  dengan hadits Abu Humaid, sehingga untuk sholat yang memiliki dua  tasyahhud maka pada tasyahhud yang kedua dengan duduk tawarruk. Oleh  karenanya Madzhab Hanabilah dan madzhab As-Syafi'i bersepakat dalam hal  ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Adapun sholat yang memiliki hanya  satu tasyahhud –baik sholat dua rakaat atau satu rakaat- maka tidak  dikhususkan oleh hadits Abu Humaid, jadi kita kembalikan kepada asal  keumuman hadits Wail bin Hujr bahwasanya Nabi jika duduk dalam sholat  beliau duduk dengan duduk iftirosy. Inilah yang dipahami oleh Syaikh  Al-Utsaimin dan Syaikh Al-Albani rahimahumallah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al-'Utsaimin pernah ditanya ما كيفية الجلسة للتشهد في صلاة الوتر؟ "Bagaiamanakah cara duduk tasyahhud pada sholat witir?"&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;فأجاب فضيلته بقوله: الإنسان في صلاة  الوتر يجلس مفترشاً؛ لأن الأصل في جلسات الصلاة الافتراش، إلا إذا قام دليل  على خلاف ذلك، وعلى هذا فنقول يجلس للتشهد في الوتر مفترشاً، ولا تورك إلا  في صلاة يكون لها تشهدان فيكون التورك في التشهد الأخير للفرق بينه وبين  التشهد الأول هكذا جاءت السنة، والله أعلم&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab, "Seseorang  tatkala sholat witir duduk iftirosy, karena asal dalam duduk dalam  sholat adalah iftirosy. Kecuali jika ada dalil yang menunjukan yang  lain. Oleh karenanya kami katakan : ia duduk iftirosy tatkala sholat  witir, dan ia tidak duduk tawarruk kecuali pada sholat yang memiliki dua  tasyahhud, maka duduk tawarruk dilakukan tatkala tasyahhud akhir karena  adanya perbedaan antara tasyahhud akhir dan tasyahhud awal. Demikianlah  sunnah. Wallahu A'lam" (Majmuu' Fataawaa wa Rosaail Syaikh  Al-'Utsaimiin 14/159 no 784)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al-Albani berkata,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;والصواب الذي تدل عليه الأحاديث  الصحيحة : أن الافتراش هو الأصل و السنة ؛ على حديث ابن عمر المخرج في «  الإرواء » ( 317 ) ، ونحوه حديث عائشة الذي قبله ( 316 ) ؛ فيفترش في كل  جلسة وفي كل تشهد ؛ إلا التشهد الأخير الذي يليه السلام ؛ كما جاء مفصلاً  في حديث أبي حميد الساعدي&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Yang benar sebagaimana  ditunjukan oleh hadits-hadits yang shahih bahwasanya duduk iftirosy  adalah asal (duduk dalam sholat-pen) dan merupakan sunnah berdasarkan  hadits Ibnu Umar yang telah ditakhrij di kitab Al-Irwaa no 317, dan juga  semisalnya hadits Aisyah sebagaimana ditakhrij sebelumnya no 316. Maka  seseorang duduk iftirosy di setiap duduk (dalam sholat) dan di setiap  tasyahhud, kecuali tasyahhud akhir yang diikuti dengan salam,  sebagaimana telah datang secara terperinci dalam hadits Abu Humaid  As-Saa'idi" (Silsilah Al-Ahaadits Ad-Dlo'iifah 12/268) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dialog&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  pengkritik berkata, "Jika kita beramal berdasarkan keumuman duduk  iftirasy dalam hadits tersebut, lalu bagaimana dengan keumuman hadits  Abdullah bin ‘Umar yang menyebutkan duduk tawarruk dalam shalat dan  tidak merinci apakah duduk dipertengahan shalat ataukah di akhir  shalat?, &lt;br /&gt;Bukankah Ibnu Umar berkata&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;إنما سُنَّةُ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ الْيُمْنَى وَتَثْنِيَ الْيُسْرَى&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya sunnahnya sholat  (ketika duduk-pent) adalah engkau menegakkan kaki kananmu dan melipat  kaki kirimu" (HR Al-Bukhari no 793).&lt;br /&gt;Ibnu Hajar telah menjelaskan  bahwasanya meskipun hadits ini belum jelas tentang bagaimana cara Ibnu  Umar melipat kaki kirinya, apakah dengan duduk iftirosy atauhkah dengan  tawaruuk. Akan tetapi dalam riwayat yang lain dalam Muwatto' Imam Malik  dijelaskan bahwasanya maksud cara melipatan kaki kiri tersebut adalah  dengan duduk tawarruk (lihat Fathul Baari 2/306)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Adapun riwayat tersebut adalah sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dari Yahya bin Sa’id bahwasanya&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ الْقَاسِمَ بن مُحَمَّدٍ  أَرَاهُمُ الْجُلُوسَ في التَّشَهُّدِ فَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وثني  رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَجَلَسَ على وَرِكِهِ الأَيْسَرِ ولم يَجْلِسْ على  قَدَمِهِ ثُمَّ قال أَرَانِي هذا عبد الله بن عبد الله بن عُمَرَ  وَحَدَّثَنِي أَنَّ أَبَاهُ كان يَفْعَلُ ذلك&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Al-Qasim bin Muhammad memperlihatkan  kepada mereka cara duduk ketika tasyahhud, lalu beliau menegakkan kaki  kanannya dan melipat kaki kirinya, dan duduk di atas pantat kirinya dan  tidak duduk di atas kakinya. Lalu dia berkata: Abdullah bin Abdullah bin  ‘Umar telah memperlihatkan kepadaku demikian, dan mengabariku bahwa  ayahnya (Abdullah bin ‘Umar) melakukan yang demikian itu"  (Al-Muwaththa”, dalam Bab: Al-’Amal Fil Juluus Fis Shalaah 1/90 no 202)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi tidak diragukan lagi bahwa maksud Ibnu Umar dalam hadits diatas adalah duduk tawaruuk.&lt;br /&gt;Lantas  kenapa kalian tidak mengamalkan keumuman hadits Ibnu Umar ini sehingga  kalian duduk tawaruuk pada setiap tasyahhud dalam sholat, termasuk pada  sholat yang tasyahhudnya hanya satu?" (lihat  http://jalansunnah.wordpress.com/2009/12/07/cara-duduk-tasyahhud-akhir-dalam-setiap-sholat/  dan  http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3191-cara-duduk-tasyahud-iftirosy-atau-tawarruk.html &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Jawab: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah hadits Ibnu Umar ini bersifat umum?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya  sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar bahwasanya ada dua riwayat  yang lain yang menjelaskan akan hal ini. Satu riwayat dalam kitab  Al-Muwatto menjelaskan bahwa maksud Ibnu Umar dalam hadits di atas  adalah cara duduk tatkala tasyahhud terakhir. Beliau berkata&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;لِأَنَّ فِي الموطأ أَيْضًا عن عبد  الله بن دينار التَّصْرِيْحُ بِأَنَّ جُلُوْسَ ابْنِ عُمَرَ الْمَذْكُوْرَ  كَانَ فِي التَّشَهُّدِ الأَخِيْرِ&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Karena di dalam kitab Muwatto'  juga dari Abdullah bin Diinaar menegaskan bahwa duduknya Ibnu Umar yang  disebutkan dalam hadits di atas adalah pada tasyahhud yang terakhir"  (Fathul Baari 2/306)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Adapun riwayat yang diisyaratkan oleh Ibnu Hajar adalah sbb:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;عن مَالِكٍ عن عبد الله بن دِينَارٍ *  أَنَّهُ سمع عَبْدَ الله بن عُمَرَ وَصَلَّى إلى جَنْبِهِ رَجُلٌ فلما  جَلَسَ الرَّجُلُ في أَرْبَعٍ تَرَبَّعَ وثني رِجْلَيْهِ فلما انْصَرَفَ  عبد الله عَابَ ذلك عليه فقال الرَّجُلُ فَإِنَّكَ تَفْعَلُ ذلك فقال عبد  الله بن عُمَرَ فَإِنِّي أَشْتَكِي&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Dari Imam Malik, dari  Abdullah bin Diinaar bahwasanya ia mendengar Ibnu Umar, dan ada  seseorang yang sholat di sisinya. Tatkala orang tersebut &lt;strong&gt;duduk di raka'at yang keempat &lt;/strong&gt;maka  diapun duduk bersila dan melipat kedua kakinya. Tatkala Ibnu Umar  selesai sholat maka diapun menegur orang tersebut. Maka orang itupun  berkata, "Engkau juga melakukan hal itu". Maka Ibnu Umar berkata, "Aku  sedang sakit" (Al-Muwattho' 1/88 no 199)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Ibnu Hajar juga  menjelaskan ternyata ada riwayat yang lain dari Ibnu Umar yang maknanya  sebaliknya, yaitu Nabi selalu duduk iftirosy. Beliau berkata&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;وَرَوَى النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيْقِ  عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيْدٍ أن القاسم حدثه عن عبد  الله بن عبد الله بن عمر عن أبيه قال مِنْ سُنَّةِ الصَّلاَةِ أَنْ  يَنْصِبَ الْيُمْنَى وَيَجْلِسَ عَلَى الْيُسْرَى فإذا حملت هذه الرواية  على التشهد الأول ورواية مالك على التشهد الأخير انتفى عنهما التعارض&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Dan An-Nasaai meriwayatkan dari jalan  'Amr bin Al-Haarits dari Yahyaa bin Sa'iid bahwasanya Al-Qoosim  mengabarkan kepadanya dari Abdullah bin Abdullah bin Umar dari ayahnya  (Ibnu Umar) berkata, "Termasuk sunnahnya sholat menegakkan kaki kanan  dan duduk di atas kaki kiri". Maka jika riwayat ini dibawakan pada  tasyahhud awal dan riwayat Imam Malik dibawakan pada tasyahhud akhir  maka hilanglah pertentangan dari dua riwayat ini" (Fathul Baari 2/306,  adapun riwayat tersebut diriwayatkan oleh Al-Nasaai dalam sunannya  al-mujtabaa no 1158 dengan lafal من سُنَّةِ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ  الْقَدَمَ الْيُمْنَى وَاسْتِقْبَالُهُ بِأَصَابِعِهَا الْقِبْلَةَ  وَالْجُلُوسُ على الْيُسْرَ tatkala An-Nasaai menjelaskan tentang sifat  tasyahhud awal)&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan Ibnu Hajar diatas jelaslah kurang tepatnya orang yang berkata &lt;strong&gt;"Hadits  Ibnu ‘Umar lebih umum lagi, dimana Ibnu ‘Umar mengatakan “sesungguhnya  sunnahnya shalat (ketika duduk)” dan beliau tidak menyebutkan raka’at ke  berapa, dan shalatnya berapa raka’at. Maka jika anda beramal dengan  keumuman hadits Wail dan yang semisalnya, maka amalkan pula hadits  Abdullah bin ‘Umar secara umum,dengan duduk tawarruk pada setiap duduk  ketika shalat" &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan sangat penting:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman, lihatlah  bagaimana Ibnu Hajar bermu'amalah (mensikapi) hadits Ibnu Umar di atas.  Beliau tidak langsung menilai bahwa lafal yang datang dalam hadits Ibnu  Umar tersebut bersifat umum. Akan tetapi beliau berusaha mencari  jalan-jalan dan riwayat-riwayat yang lain dari hadits Ibnu Umar ini agar  jelas maksud hadits Ibnu Umar. Setelah beliau menemukan riwayat yang  menjelaskan bahwa perkataan Ibnu Umar tersebut berkaitan dengan sebuah  kejadian dimana Ibnu Umar duduk di raka'at yang keempat maka Ibnu Hajar  membawa hadits tersebut dalam kondisi tasyahhud yang terakhir, yaitu  bahwasanya duduk tawarruk yang disebutkan oleh Ibnu Umar adalah  maksudnya pada duduk tasyahhud akhir.&lt;br /&gt;Cara inilah yang sedang penulis  tempuh. Karena hadits Abu Humaid As-Saa'idi menjelaskan tentang sebuah  sholat tertentu yaitu yang memiliki dua tasyahhud dan beliau tidak  sedang berbicara tentang semua jenis sholat, maka kita bawakan keumuman  lafal yang disebutkan oleh Abu Humaid adalah pada sholat yang memiliki  dua tasyahhud, sehingga duduk tawarruk dalam hadits Abu Humaid hanyalah  berlaku pada tasyahhud kedua. Dan inilah yang dilakukan oleh mayoritas  ulama sunnah abad ini, seperti Syaikh Al-Albani dan Syaikh Bin Baaz.&lt;br /&gt;Kemudian bukankah lafal hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari yaitu&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;إنما سُنَّةُ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ الْيُمْنَى وَتَثْنِيَ الْيُسْرَى&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya sunnahnya sholat  (ketika duduk-pent) adalah engkau menegakkan kaki kananmu dan melipat  kaki kirimu " (HR Al-Bukhari no 793). &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ada penjelasan tentang  bagaimana cara duduknya, apakah dengan iftirosy ataukah dengan  tawarruk?. Apakah hanya dengan berpegang dengan lafal Bukhari ini lantas  kita katakana bahwa bebas bagi seseorang untuk dalam sholat apakah  tasyahhud awal atau tasyahhud akhir dengan duduk tawarruk atau iftirosy,  karena lafal Bukhari tersebut yang tidak jelas?&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya tidak. Sebagaimana yang  dilakukan oleh pengkritik, ternyata ia membawa lafal Bukhari ini, yang  mana lafal tersebut masih umum untuk dikhususkan dengan lafal yang  terdapat di Muwathho' yang menjelaskan bahwa duduk yang dimaksud Ibnu  Umar adalah duduk tawaruuk.&lt;br /&gt;Maka demikian pula yang penulis lakukan,  dengan membawa seluruh lafal-lafal hadits Abu Humaid yang bersifat umum  kepada lafal yang menunjukan bahwa maksud Abu Humaid adalah untuk sholat  yang memiliki dua tasyahhud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dari pemaparan sederhana di atas  maka penulis lebih condong pada pendapat madzhab Hanabilah, bahwasanya  sholat yang memiliki satu tasyahhud saja maka duduknya adalah iftirosy  karena keumuman hadits Wail bin Hujr. Dan inilah pendapat yang dikuatkan  oleh Syaikh Bin Baaz (lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah 7/17-18 soal no  2232), Syaikh Albani (Ashl sifat sholaat An-Nabiy 3/829 dan Irwaaul  Golil 2/23) dan Syaikh Al-Utsaimin (lihat Majmuu' Fataawaa wa Rosaail  Syaikh Al-'Utsaimiin 14/159 no 784).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Bagaiamanapun ini adalah  permasalahan khilafiyah ijtihadiah yang kita harus toleransi terhadap  orang yang menyelisihi kita. Dan bagaimanapun penulis berusaha untuk  memaparkan permasalahan ini toh penulis tidak mampu untuk memenuhi hak  pembahasan permasalahan ini dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 15 Syawal 1431 H / 24September 2010 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun oleh Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: www.firanda.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-465985036946695886?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/465985036946695886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=465985036946695886' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/465985036946695886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/465985036946695886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2011/10/cara-duduk-tasyahhud-terakhir-sholat.html' title='Cara Duduk Tasyahhud Terakhir Sholat Subuh'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-7752370268684592970</id><published>2011-06-03T06:51:00.000-07:00</published><updated>2011-06-03T06:52:30.712-07:00</updated><title type='text'>Waktu-waktu sholat</title><content type='html'>&lt;p style="margin:1em 0 3px 0;"&gt; &lt;a rel="nofollow" name="3" style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:18px;" target="_blank" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/waktu-waktu-shalat.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-size:13px;color:#555;margin:9px 0 3px 0;font-family:Georgia, Helvetica, Arial, Sans-Serif;line-height:140%;font-size:13px;"&gt; &lt;span&gt;Posted:&lt;/span&gt; 30 May 2011 05:00 PM PDT&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala &lt;/em&gt;dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya &lt;em&gt;Robbul ‘Alamin.&lt;/em&gt; Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi was sallam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum muslimin sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut penjelasan waktu-waktu sholat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Sholat&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Zhuhur]&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara bahasa Zhuhur berarti waktu Zawal yaitu waktu tergelincirnya  matahari (waktu matahari bergeser dari tengah-tengah langit) menuju arah  tenggelamnya (barat).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sholat zhuhur adalah sholat yang dikerjakan ketika waktu zhuhur telah masuk. Sholat zhuhur disebut juga sholat Al Uulaa (&lt;strong&gt;الأُوْلَى&lt;/strong&gt;) karena sholat yang pertama kali dikerjakan Nabi &lt;em&gt;shollallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;bersama Jibril &lt;em&gt;‘Alaihis salam&lt;/em&gt;. Disebut juga sholat Al Hijriyah (&lt;strong&gt;الحِجْرِيَةُ&lt;/strong&gt;)&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Awal Waktu Sholat Zhuhur&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Awal waktu zhuhur adalah ketika matahari telah bergeser dari tengah  langit menuju arah tenggelamnya (barat). Hal ini merupakan kesepakatan  seluruh kaum muslimin, dalilnya adalah hadits Nabi &lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;strong&gt;وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ……..&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Waktu Sholat Zhuhur adalah ketika telah tergelincir matahari (menuju  arah tenggelamnya) hingga bayangan seseorang sebagaimana tingginya  selama belum masuk waktu ‘Ashar……….”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Akhir Waktu Sholat Zhuhur&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama bersilisih pendapat mengenai akhir waktu zhuhur namun  pendapat yang lebih tepat dan ini adalah pendapat jumhur/mayoritas ulama  adalah hingga panjang bayang-bayang seseorang semisal dengan tingginya  (masuknya waktu ‘ashar). Dalil pendapat ini adalah hadits Nabi &lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu &lt;/em&gt;di atas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Catatan :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu sholat zhuhur dapat diketahui dengan menghitung waktu yaitu  dengan menghitung waktu antara terbitnya matahari hingga tenggelamnya  maka waktu zhuhur dapat diketahui dengan membagi duanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Disunnahkan Hukumnya Menyegerakan &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Sholat Zhuhur&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; di Awal Waktunya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Samuroh &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الظُّهْرَ إِذَا دَحَضَتِ الشَّمْسُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Nabi Shollallahu ‘alaihi was sallam biasa mengerjakan sholat zhuhur ketika matahari telah tergelincir”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Disunnahkan Hukumnya Mengakhirkan&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; Sholat Zhuhur&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; Jika Sangat Panas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini berdasarkan hadits Nabi &lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi was sallam&lt;/em&gt;,&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم –  إِذَا اشْتَدَّ الْبَرْدُ بَكَّرَ بِالصَّلاَةِ ، وَإِذَا اشْتَدَّ  الْحَرُّ أَبْرَدَ بِالصَّلاَةِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Nabi Shollallahu ‘alaihi was sallam biasanya jika keadaan sangat  dingin beliau menyegerakan sholat dan jika keadaan sangat panas/terik  beliau mengakhirkan sholat”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Batasan&lt;/strong&gt; dingin berbeda-beda sesuai keadaan selama tidak terlalu panjang hingga mendekati waktu akhir sholat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Sholat&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;‘Ashar]&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;‘Ashar secara bahasa diartikan sebagai waktu sore hingga matahari memerah yaitu akhir dari dalam sehari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sholat ‘ashar adalah sholat ketika telah masuk waktu ‘ashar, sholat ‘ashar ini juga disebut sholat woshtho (&lt;strong&gt;الوُسْطَى&lt;/strong&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Awal Waktu Sholat ‘Ashar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika panjang bayangan sesuatu telah semisal dengan tingginya (menurut pendapat jumhur ulama). Dalilnya adalah hadits Nabi &lt;em&gt;shollallahu ‘alaihi was sallam&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ  وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ  الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ…….&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Waktu Sholat Zhuhur adalah ketika telah tergelincir matahari (menuju  arah tenggelamnya) hingga bayangan seseorang sebagaimana tingginya  selama belum masuk waktu ‘ashar dan waktu ‘ashar masih tetap ada selama  matahari belum menguning………”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;A&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;khir&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; Waktu Sholat ‘Ashar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits-hadits tentang masalah akhir waktu ‘ashar seolah-olah terlihat saling bertentangan.&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu &lt;/em&gt;ketika Jibril ‘&lt;em&gt;alihissalam&lt;/em&gt; menjadi imam bagi Nabi &lt;em&gt;shollallahu ‘alaihi was sallam&lt;/em&gt;,&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام إِلَى  النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ  فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الظُّهْرَ حِينَ مَالَتْ الشَّمْسُ  ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا كَانَ فَيْءُ الرَّجُلِ مِثْلَهُ جَاءَهُ  لِلْعَصْرِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الْعَصْرَ ثُمَّ مَكَثَ  حَتَّى إِذَا غَابَتْ الشَّمْسُ……مَا بَيْنَ هَذَيْنِ وَقْتٌ كُلُّهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Jibril mendatangi Nabi &lt;em&gt;shollallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;ketika  matahari telah tergelincir ke arah tenggelamnya kemudian dia  mengatakan, “Berdirilah wahai Muhammad kemudian shola zhuhur lah.  Kemudian ia diam hingga saat panjang bayangan seseorang sama dengan  tingginya. Jibril datang kemudian mengatakan, “Wahai Muhammad berdirilah  sholat ‘ashar lah”. Kemudian ia diam hingga matahari  tenggelam………….diantara dua waktu ini adalah dua waktu sholat seluruhnya”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin ‘Amr &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu,&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dan waktu ‘ashar masih tetap ada selama matahari belum menguning………”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hadits Nabi &lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;yang diriwayatkan dari sahabat Abu Huroiroh &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu,&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Barangsiapa yang mendapati satu roka’at sholat ‘ashar sebelum matahari tenggelam maka ia telah mendapatkan sholat ‘ashar”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kompromi dalam memahami ketiga hadits yang seolah-olah saling bertentangan ini adalah :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits tentang sholat Nabi &lt;em&gt;shollallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;dan Jibril &lt;em&gt;‘Alaihissalam&lt;/em&gt;  dipahami sebagai penjelasan tentang akhir waktu terbaik dalam  melaksanakan sholat ‘ashar. Adapun hadits ‘Abdullah bin ‘Amr dipahami  sebagai penjelasan atas waktu pelaksanaan sholat ‘ashar yang masih  boleh. Sedangkan waktu hadits Abu Huroiroh sebagai penjelasan tentang  waktu pelaksanaan sholat ‘ashar jika terdesak artinya makruh mengerjakan  sholat ‘ashar pada waktu ini kecuali bagi orang yang memiliki udzur  maka mengerjakan sholat ‘ashar pada waktu itu hukumnya tidak makruh.  Allahu a’lam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Disunnahkan Hukmnya Menyegerakan &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Sholat ‘Ashar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini berdasarkan hadits Nabi &lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;yang diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ حَيَّةٌ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rosulullah &lt;em&gt;shollallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;sering melaksanakan sholat ‘ashar ketika matahari masih tinggi”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sunnah ini lebih dikuatkan ketika mendung, hal ini berdasarkah hadits yang diriwayatkan dari Sahabat Abul Mulaih &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;. Dia mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;كُنَّا مَعَ بُرَيْدَةَ فِى غَزْوَةٍ فِى  يَوْمٍ ذِى غَيْمٍ فَقَالَ بَكِّرُوا بِصَلاَةِ الْعَصْرِ فَإِنَّ  النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ  فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;Kami bersama Buraidah pada saat perang di hari yang mendung. Kemudian ia mengatakan, “Segerakanlah sholat ‘ashar karena Nabi &lt;em&gt;shollallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;mengatakan, “Barangsiapa yang meninggalkan sholat ‘ashar maka amalnya telah batal”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits ini juga menunjukkan betapa bahayanya meninggalkan sholat ‘ashar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Sholat&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Maghrib&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;]&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara bahasa maghrib berarti waktu dan arah tempat tenggelamnya  matahari. Sholat maghrib adalah sholat yang dilaksanakan pada waktu  tenggelamnya matahari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Awal Waktu Sholat&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Maghrib&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum Muslimin sepakat awal waktu sholat maghrib adalah ketika  matahari telah tenggelam hingga matahari benar-benar tenggelam sempurna.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Akhir Waktu Sholat&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Maghrib&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama berselisih pendapat mengenai akhir waktu maghrib.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat pertama mengatakan bahwa waktu maghrib hanya merupakan satu  waktu saja yaitu sekadar waktu yang diperlukan orang yang akan sholat  untuk bersuci, menutup aurot, melakukan adzan, iqomah dan melaksanakan  sholat maghrib. Pendapat ini adalah pendapat Malikiyah, Al Auza’i dan  Imam Syafi’i. Dalil pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan dari  Jabir ketika Jibril mengajarkan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;sholat,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;ثُمَّ جَاءَهُ لِلْمَغْرِبِ حِينَ غَابَتْ  الشَّمْسُ وَقْتًا وَاحِدًا لَمْ يَزُلْ عَنْهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ  فَصَلَّى الْمَغْرِبَ…..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kemudian Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam  ketika matahari telah tenggelam (sama dengan waktu ketika Jibril  mengajarkan sholat kepada Nabi pada hari sebelumnya) kemudian dia  mengatakan, “Wahai Muhammad berdirilah laksanakanlah sholat  maghrib………..”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat kedua mengatakan bahwa akhir waktu maghrib adalah ketika  telah hilang sinar merah ketika matahari tenggelam. Pendapat ini adalah  pendapatnya Sufyan Ats Tsauri, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Mahzab  Hanafi serta sebahagian mazhab Syafi’i dan inilah pendapat yang dinilai  tepat oleh An Nawawi &lt;em&gt;rohimahumullah.&lt;/em&gt; Dalilnya adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;….وَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ…..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Waktu sholat maghrib adalah selama belum hilang sinar merah ketika matahari tenggelam”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat inilah yang lebih tepat Allahu a’lam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Disunnahkan Menyegerakan&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; Sholat&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Maghrib&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini berdasarkan hadits Nabi &lt;em&gt;shollallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;dari Sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ – أَوْ قَالَ عَلَى الْفِطْرَةِ – مَا لَمْ يُؤَخِّرُوا الْمَغْرِبَ إِلَى أَنْ تَشْتَبِكَ النُّجُومُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Umatku akan senantiasa dalam kebaikan (atau fithroh) selama mereka  tidak mengakhirkan waktu sholat maghrib hingga munculnya bintang (di  langit)”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Sholat&lt;/strong&gt; ‘&lt;strong&gt;Isya’]&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;‘Isya’ adalah sebuah nama untuk saat awal langit mulai gelap (setelah  maghrib) hingga sepertiga malam yang awal. Sholat ‘isya’ disebut  demikian karena dikerjakan pada waktu tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Awal Waktu Sholat&lt;/strong&gt; ‘&lt;strong&gt;Isya’&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama sepakat bahwa awal waktu sholat ‘isya’ adalah jika telah hilang sinar merah di langit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Akhir Waktu Sholat&lt;/strong&gt; ‘&lt;strong&gt;Isya’&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama’ berselisih pendapat mengenai akhir waktu sholat ‘isya’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat pertama mengatakan bahwa akhir waktu sholat ‘isya’ adalah  sepertiga malam. Ini adalah pendapatnya Imam Syafi’i dalam al Qoul  Jadid, Abu Hanifah dan pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki.  Dalilnya adalah hadits ketika Jibril mengimami sholat Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi was sallam,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;….ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعِشَاءِ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ…..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“……Kemudian Jibril mendatangi Nabi &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi was sallam&lt;/em&gt; untuk melaksanakan sholat ‘isya’ ketika sepertiga malam yang pertama………..”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat kedua mengatakan bahwa akhir waktu sholat ‘isya’ adalah  setengah malam. Inilah pendapatnya Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarok,  Ishaq, Abu Tsaur, Mazhab Hanafi dan Ibnu Hazm &lt;em&gt;rohimahumullah&lt;/em&gt;. Dalil pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;…وَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ….&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Waktu sholat ‘isya’ adalah hingga setengah malam”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat ketiga mengatakan bahwa akhir waktu sholat ‘isya’ adalah  ketika terbit fajar shodiq. Inilah pendapatnya ‘Atho’, ‘Ikrimah, Dawud  Adz Dzohiri, salah satu riwayat dari Ibnu Abbas, Abu Huroiroh dan Ibnul  Mundzir &lt;em&gt;Rohimahumullah&lt;/em&gt;. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Qotadah &lt;em&gt;rodhiyallahu ‘anhu,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;…إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى….&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Hanyalah orang-orang yang terlalu menganggap remeh agama adalah  orang yang tidak mengerjakan sholat hingga tiba waktu sholat lain”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat yang tepat menurut Syaukani dalam masalah ini adalah akhir  waktu sholat ‘isya’ yang terbaik adalah hingga setengah malam  berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Amr sedangkan batas waktu bolehnya  mengerjakan sholat ‘isya’ adalah hingga terbit fajar berdasarkan hadits  Abu Qotadah. Sedangkan pendapat yang dinilai lebih kuat menurut Penulis  Shahih Fiqh Sunnah adalah setengah malam jika hadits Anas adalah hadits  yang tidak shohih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Disunnahkan Mengakhirkan Sholat&lt;/strong&gt; ‘&lt;strong&gt;Isya’&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini berdasarkan hadits Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi was sallam&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Jika sekiranya tidak memberatkan ummatku maka akan aku perintah agar  mereka mengakhirkan sholat ‘isya’ hingga sepertiga atau setengah malam”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi hal ini tidak selalu dikerjakan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi was sallam, &lt;/em&gt;sebagaimana dalam hadits yang lain,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;وَالْعِشَاءُ أَحْيَانًا يُقَدِّمُهَا ،  وَأَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا : إذَا رَآهُمْ اجْتَمَعُوا عَجَّلَ ، وَإِذَا  رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Terkadang (Nabi) menyegerakan sholat isya dan terkadang juga  mengakhirkannya. Jika mereka telah terlihat terkumpul maa segerakanlah  dan jika terlihat (lambat datang ke masjid)”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dimakruhkan Tidur Sebelum Sholat&lt;/strong&gt; ‘&lt;strong&gt;Isya’ dan Berbicara yang Tidak Perlu Setelahnya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini berdasarkan hadits Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi was sallam,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;membenci tidur sebelum sholat ‘isya’ dan melakukan pembicaraan yang tidak berguna setelahnya&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt;”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Sholat&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Shubuh/Fajar]&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fajar secara bahasa berarti cahaya putih. Sholat fajar disebut juga sebagai sholat shubuh dan sholat &lt;em&gt;ghodah&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fajar ada dua jenis yaitu fajar pertama (fajar kadzib) yang merupakan  pancaran sinar putih yang mencuat ka atas kemudian hilang dan setelah  itu langit kembali gelap.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fajar kedua adalah fajar shodiq yang merupakan cahaya putih yang  memanjang di arah ufuk, cahaya ini akan terus menerus menjadi lebih  terang hingga terbit matahari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Awal Waktu Sholat&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Shubuh/Fajar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama sepakat bahwa awal waktu sholat fajar dimulai sejak terbitnya fajar kedua/fajar shodiq.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Akhir Waktu Sholat&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Shubuh/Fajar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama juga sepakat bahwa akhir waktu sholat fajar dimulai sejak terbitnya matahari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Disunnahkan Menyegerakan Waktu Sholat&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Shubuh/Fajar Pada Saat Keadaan Gholas (Gelap yang Bercampur Putih)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jumhur ulama’ berpendapat lebih utama melaksanakan sholat fajar pada  saat gholas dari pada melaksanakannya ketika ishfar (cahaya putih telah  semakin terang). Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Imam  Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq dan Abu Tsaur rohimahumullah.  Diantara dalil mereka adalah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin  Malik,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – غَزَا خَيْبَرَ ، فَصَلَّيْنَا عِنْدَهَا صَلاَةَ الْغَدَاةِ بِغَلَسٍ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sesungguhnya Rosulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi was sallam &lt;/em&gt;berperang pada perang Khoibar, maka kami sholat ghodah (fajar) di Khoibar pada saat &lt;em&gt;gholas&lt;/em&gt;”&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah pembahasan singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat. Amin&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diringkas dari Kitab &lt;em&gt;Shohih Fiqh Sunnah&lt;/em&gt; karya Syaikh Abu Malik Kamal bin Said Salim hal. 237-249/I Cet. Maktabah Tauqifiyah, Kairo, Mesir&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sigambal, Sebelum Subuh, 10 Mei 2011 M.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Aditya Budiman bin Usman&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;hr size="1"&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Berdasarkan hadits riwayat Al Bukhori No. 541. &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; HR. Muslim No. 612.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; HR. Muslim No. 618.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; HR. Bukhori No. 906 dan Muslim No. 615.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; HR. Muslim No. 612.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; HR. Nasa’i No. 526, hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani &lt;em&gt;rohimahullah &lt;/em&gt;dalam Al Irwa’ hal. 270/I.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; HR. Muslim No. 612.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; HR. Bukhori No. 579 dan Muslim No. 608.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; HR. Bukhori No. 550 dan Muslim No. 621.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; HR. Bukhori No. 553.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; HR. Nasa’i No. 526, hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani &lt;em&gt;rohimahullah &lt;/em&gt;dalam Al Irwa’ hal. 270/I.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; HR. Muslim No. 612.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; HR. Abu Dawud No. 414 dll. dan dinilai shohih oleh Al Albani dalam Takhrij beliau untuk Sunan Ibnu Majah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; HR. Nasa’i No. 526, hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani &lt;em&gt;rohimahullah &lt;/em&gt;dalam Al Irwa’ hal. 270/I.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; HR. Muslim No. 612.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; HR. Muslim No. 681.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt; HR. Tirmidzi No. 167, Ibnu Majah No. 691, dinyatakan shohih oleh Al Albani di Takhrij Sunan Tirmidzi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt; HR. Bukhori No. 560, Muslim No. 233.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; HR. BukhoriNo. 568, Muslim No. 237.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1307106448&amp;amp;.rand=8gccstdsufi4t#_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt; HR. Bukhori No. 371, Muslim No. 1365.&lt;/p&gt;     &lt;ul class="yiv1627694504socials"&gt;&lt;li class="yiv1627694504sexy-delicious"&gt;    &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://delicious.com/post?url=http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/waktu-waktu-shalat.html&amp;amp;title=Waktu-Waktu+Shalat" title="Share this on del.icio.us"&gt;Share this on del.icio.us&lt;/a&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-7752370268684592970?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/7752370268684592970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=7752370268684592970' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/7752370268684592970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/7752370268684592970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2011/06/waktu-waktu-sholat.html' title='Waktu-waktu sholat'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-7844042183530559627</id><published>2011-04-22T16:17:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T16:18:00.118-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="margin: 1em 0pt 3px;"&gt; &lt;a rel="nofollow" name="1" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 18px;" target="_blank" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/anak-angkat-dan-statusnya-dalam-islam.html"&gt;Anak Angkat dan Statusnya Dalam Islam&lt;/a&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(85, 85, 85); margin: 9px 0pt 3px; font-family: Georgia,Helvetica,Arial,Sans-Serif; line-height: 140%; font-size: 13px;"&gt; &lt;span&gt;Posted:&lt;/span&gt; 20 Apr 2011 09:16 PM PDT&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengadopsi  anak adalah fenomena yang sering kita jumpai di masyarakat kita, entah  karena orang tersebut tidak memiliki keturunan, atau karena ingin  menolong orang lain, ataupun karena sebab-sebab yang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi, karena ketidaktahuan banyak dari kaum muslimin tentang  hukum-hukum yang berhubungan dengan ‘anak angkat’, maka masalah yang  terjadi dalam hal ini cukup banyak dan memprihatinkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Misalnya: menisbahkan anak angkat tersebut kepada orang tua  angkatnya, menyamakannya dengan anak kandung sehinga tidak memperdulikan  batas-batas &lt;em&gt;mahram&lt;/em&gt;, menganggapnya berhak mendapatkan warisan seperti anak kandung, dan pelanggaran-pelanggaran agama lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Padahal, syariat Islam yang agung telah menjelaskan dengan lengkap  dan gamblang hukum-hukum yang berkenaan dengan masalah anak angkat ini,  sehingga jika kaum muslimin mau mempelajari petunjuk Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; dalam agama mereka maka mestinya mereka tidak akan terjerumus dalam kesalahan-kesalahan tersebut di atas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tradisi sejak jaman Jahiliyah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebiasan mengadopsi anak adalah tradisi yang sudah ada sejak jaman Jahiliyah dan dibenarkan di awal kedatangan Islam&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Bahkan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; sendiri melakukannya, ketika beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; mengadopsi Zaid bin Haritsah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; sebelum beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; diutus Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; sebagai nabi, kemudian Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; menurunkan larangan tentang perbuatan tersebut dalam firman-Nya,&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;{وَمَا جَعَلَ  أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ  وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ}&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak  kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu  saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan  (yang benar)” &lt;/em&gt;(QS al-Ahzaab: 4).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Ibnu Katsir berkata, “Sesungguhnya ayat ini turun (untuk menjelaskan) keadaan Zaid bin Haritsah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;, bekas budak Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Sebelum diangkat sebagai Nabi, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; mengangkatnya sebagai anak, sampai-sampai dia dipanggil “Zaid bin Muhammad” (Zaid putranya Muhammad &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;), maka Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;  ingin memutuskan pengangkatan anak ini dan penisbatannya (kepada selain  ayah kandungnya) dalam ayat ini, sebagaimana juga firman-Nya di   pertengahan surah al-Ahzaab,&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;{&lt;/strong&gt;مَا  كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ  وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا&lt;strong&gt;}&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki  di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan  adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu&lt;/em&gt;” (QS al-Ahzaab: 40)”&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote2sym"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Status anak angkat dalam Islam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Firman Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; di atas menghapuskan kebolehan adopsi  anak yang dilakukan di jaman Jahiliyah dan awal Islam, maka status anak  angkat dalam Islam berbeda dengan anak kandung dalam semua ketentuan dan  hukumnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam ayat tersebut di atas Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; mengisyaratkan makna ini:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja”, artinya:  perbuatanmu mengangkat mereka sebagai anak (hanyalah) ucapan kalian  (semata-mata) dan (sama sekali) tidak mengandung konsekwensi bahwa dia  (akan) menjadi anak yang sebenarnya (kandung), karena dia diciptakan  dari tulang sulbi laki-laki (ayah) yang lain, maka tidak mungkin anak  itu memiliki dua orang ayah&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote3sym"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun hukum-hukum yang ditetapkan dalam syariat Islam sehubungan  dengan anak angkat yang berbeda dengan kebiasaan di jaman Jahiliyah  adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1.&lt;/strong&gt; Larangan menisbatkan anak angkat kepada selain ayah kandungnya, berdasarkan firman Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;{ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ  هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ  فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ  فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ  اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama  bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan  jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka  sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu Dan tidak ada dosa  bagimu terhadap apa yang kamu salah padanya, tetapi (yang ada dosanya  adalah) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun  lagi Maha Penyayang&lt;/em&gt;” (QS al-Ahzaab: 5).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Ibnu Katsir berkata, “(Ayat) ini (berisi) perintah (Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;)  yang menghapuskan perkara yang diperbolehkan di awal Islam, yaitu  mengakui sebagai anak (terhadap) orang yang bukan anak kandung, yaitu  anak angkat. Maka (dalam ayat ini) Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; memerintahkan  untuk mengembalikan penisbatan mereka kepada ayah mereka yang sebenarnya  (ayah kandung), dan inilah (sikap) adil dan tidak berat sebelah”&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote4sym"&gt;&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.&lt;/strong&gt; Anak angkat tidak berhak mendapatkan warisan dari  orang tua angkatnya, berbeda dengan kebiasaan di jaman Jahiliyah yang  menganggap anak angkat seperti anak kandung yang berhak mendapatkan  warisan ketika orang tua angkatnya meninggal dunia&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote5sym"&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3.&lt;/strong&gt; Anak angkat bukanlah &lt;em&gt;mahram&lt;/em&gt;&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote6sym"&gt;&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;,  sehingga wajib bagi orang tua angkatnya maupun anak-anak kandung mereka  untuk memakai hijab yang menutupi aurat di depan anak angkat tersebut,  sebagaimana ketika mereka di depan orang lain yang bukan &lt;em&gt;mahram&lt;/em&gt;, berbeda dengan kebiasaan di masa Jahiliyah. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/em&gt; bahwa Salim maula (bekas budak) Abu Hudzaifah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;  tinggal bersama Abu Hudzaifah dan keluarganya di rumah mereka (sebagai  anak angkat), maka (ketika turun ayat yang menghapuskan kebolehan adopsi  anak) datanglah Sahlah bintu Suhail &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;, istri Abu Hudzaifah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; kepada Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  dan dia berkata: Sesungguhnya Salim telah mencapai usia laki-laki  dewasa dan telah paham sebagaimana laki-laki dewasa, padahal dia sudah  biasa (keluar) masuk rumah kami (tanpa kami memakai hijab), dan sungguh  aku menduga dalam diri Abu Hudzaifah ada sesuatu (ketidaksukaan) akan  hal tersebut. Maka Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda kepadanya,”Susukanlah dia agar engkau menjadi &lt;em&gt;mahram&lt;/em&gt;nya dan agar hilang ketidaksukaan yang ada dalam diri Abu Hudzaifah”&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote7sym"&gt;&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;sup&gt;&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote8sym"&gt;8&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4.&lt;/strong&gt; Diperbolehkannya bagi bapak angkat untuk menikahi  bekas istri anak angkatnya, berbeda dengan kebiasaan di jaman  Jahiliyah. Sebagaimana firman Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;{&lt;/strong&gt;وَإِذْ  تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ  أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا  اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ  فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لا يَكُونَ  عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا  مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا&lt;strong&gt;}&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah  telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat  kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah”,  sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan  menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang  lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri  keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan  dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini)  isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu  telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya (menceraikannya).  Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi&lt;/em&gt;” (QS al-Ahzaab: 37).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Sebab turunnya ayat ini adalah bahwa Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;  ingin menetapkan ketentuan syriat yang umum bagi semua kaum mukminin,  (yaitu) bahwa anak-anak angkat hukumnya berbeda dengan anak-anak yang  sebenarnya (kandung) dari semua segi, dan bahwa (bekas) istri anak  angkat boleh dinikahi oleh bapak angkat mereka…Dan jika Allah  menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menjadikan suatu sebab bagi  (terjadinya) hal tersebut, (yaitu kisah) Zaid bin Haritsah  yang  dipanggil “Zaid bin Muhammad” (di jaman Jahiliyah), karena Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; telah mengangkatnya sebagai anak, sehingga dia dinisbatkan kepada (nama) Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, sampai turunnya firman Allah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka&lt;/em&gt;” (QS al-Ahzaab: 5).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka setelah itu dia dipanggil “Zaid bin Haritsah”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Istri Zaid bin Haritsah adalah Zainab bintu Jahsy &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/em&gt;, putri bibi Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Telah terlintas dalam hati Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bahwa jika Zaid menceraikannya maka beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  akan menikahinya. Kemudian Allah menakdirkan terjadinya sesuatu antara  Zaid dengan istrinya tersebut yang membuat Zaid mendatangi Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan meminta izin kepada beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; untuk menceraikan istrinya…(Kemudian setelah itu Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; menikahkan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dengan Zainab bintu Jahsy &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/em&gt; sebagaimana ayat tersebut di atas)”&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote9sym"&gt;&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Memanggil ‘anak atau nak’ kepada orang lain untuk memuliakan dan kasih sayang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini diperbolehkan dan sama sekali tidak termasuk perkara yang dilarang dalam ayat di atas. Karena Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; sendiri melakukannya, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits yang shahih, di antaranya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Dari Ibnu Abbas &lt;em&gt;radhiayallahu ‘anhuma&lt;/em&gt; dia berkata: Ketika malam (menginap) di Muzdalifah, kami anak-anak kecil keturunan Abdul Muththalib datang kepada Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  (dengan menunggangi) keledai, lalu beliau menepuk paha kami dan  bersabda: “Wahai anak-anak kecilku, janganlah kalian melempar/melontar&lt;em&gt; Jamrah ‘aqabah&lt;/em&gt; (pada hari tanggal 10 Dzulhijjah) sampai matahari terbit”&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote10sym"&gt;&lt;sup&gt;10&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Dari Anas bin Malik &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; dia berkata: Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pernah berkata kepada: “Wahai anakku”&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote11sym"&gt;&lt;sup&gt;11&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote12sym"&gt;&lt;sup&gt;12&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu, imam an-Nawawi dalam kitab “shahih Muslim” (3/1692)  mencantumkan hadits ini dalam bab: Bolehnya seseorang berkata kepada  selain anaknya: “Wahai anakku”, dan dianjurkannya hal tersebut untuk  menunjukkan kasih sayang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah penjelasan singkat tentang hukum mengadopsi anak dalam  Islam. Meskipun jelas ini bukan berarti agama Islam melarang umatnya  untuk berbuat baik dan menolong anak yatim dan anak terlantar yang  membutuhkan pertolongan dan kasih sayang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sama sekali tidak! Yang dilarang dalam Islam adalah sikap berlebihan  terhadap anak angkat seperti yang dilakukan oleh orang-orang di jaman  Jahiliyah, sebagaimana penjelasan di atas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Agama Islam sangat menganjurkan perbuatan menolong anak yatim dan  anak terlantar yang tidak mampu, dengan membiayai hidup, mengasuh dan  mendidik mereka dengan pendidikan Islam yang benar. Bahkan perbuatan ini  termasuk amal shaleh yang bernilai pahala besar di sisi Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;, sebagaimana dalam sabda Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;,“&lt;em&gt;Aku dan orang yang menyantuni anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau &lt;/em&gt;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau &lt;/em&gt;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt;, serta agak merenggangkan keduanya&lt;/em&gt;&lt;sup&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote13sym"&gt;&lt;sup&gt;13&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati  kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;sup&gt; &lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote14sym"&gt;&lt;sup&gt;14&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah  dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha  sempurna, agar Dia melimpahkan taufik dan kemudahan dari-Nya kepada kita  untuk mencapai keridhaan-Nya dengan melaksanakan semua kebaikan dalam  agama-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kota Kendari, 18 Rabi’ul awal 1432 H&lt;/p&gt; &lt;p&gt;—&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;—&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt; Lihat “&lt;em&gt;Taisiirul Kariimir Rahmaan&lt;/em&gt;” (hal. 658) dan “Aisarut  tafaasiir” (3/289).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote2anc"&gt;2&lt;/a&gt; Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/615).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote3anc"&gt;3&lt;/a&gt; Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/615).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote4anc"&gt;4&lt;/a&gt; Ibid.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote5anc"&gt;5&lt;/a&gt; Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 3778), lihat juga kitab  “&lt;em&gt;Tafsir al-Qurthubi&lt;/em&gt;” (14/119).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote6anc"&gt;6&lt;/a&gt;  Mahram adalah orang yang tidak halal untuk dinikahi selamanya dengan   sebab yang mubah (diperbolehkan dalam agama). Lihat kitab “&lt;em&gt;Fathul  Baari&lt;/em&gt;” (4/77).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote7anc"&gt;7&lt;/a&gt; HSR Muslim (no. 1453), hadits yang semakna juga terdapat dalam  “Shahih al-Bukhari” (no. 3778).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote8anc"&gt;8&lt;/a&gt; Lihat kitab “&lt;em&gt;Tafsir Ibnu Katsir&lt;/em&gt;” (3/615).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote9anc"&gt;9&lt;/a&gt; Kitab “&lt;em&gt;Taisiirul Kariimir Rahmaan&lt;/em&gt;” (hal. 665).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote10anc"&gt;10&lt;/a&gt; HR Abu Dawud (no. 1940), Ibnu Majah (no. 3025) dan Ahmad (1/234),  dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote11anc"&gt;11&lt;/a&gt; HSR Muslim (no.2151).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote12anc"&gt;12&lt;/a&gt; Lihat kitab “&lt;em&gt;Tafsir Ibnu Katsir&lt;/em&gt;” (3/615).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote13anc"&gt;13&lt;/a&gt; HSR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://us.mc777.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&amp;amp;.tm=1303513256&amp;amp;.rand=39e0bj8job9jv#sdfootnote14anc"&gt;14&lt;/a&gt; Lihat kitab “’&lt;em&gt;Aunul Ma’buud&lt;/em&gt;” (14/41) dan “&lt;em&gt;Tuhfatul  ahwadzi&lt;/em&gt;” (6/39).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-7844042183530559627?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/7844042183530559627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=7844042183530559627' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/7844042183530559627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/7844042183530559627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2011/04/anak-angkat-dan-statusnya-dalam-islam.html' title=''/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-3247671707961946773</id><published>2011-02-02T14:49:00.001-08:00</published><updated>2011-02-02T14:50:53.682-08:00</updated><title type='text'>Cara mudah memahami fiqh umroh</title><content type='html'>&lt;h2 class="title"&gt;Cara Mudah Memahami Fiqh Umroh&lt;/h2&gt;       &lt;div id="stats"&gt;&lt;span style="display: inline;"&gt;&lt;img src="http://darussunnah.or.id/wp-content/themes/darussunnah/images/icons/date.gif" /&gt; 14 October 2010 M | 06 Dhul-Qadah 1431 H&lt;/span&gt;&lt;span style="display: inline;"&gt;&lt;img src="http://darussunnah.or.id/wp-content/themes/darussunnah/images/icons/view.gif" /&gt; 611 views&lt;/span&gt;&lt;span style="display: inline;"&gt;&lt;img src="http://darussunnah.or.id/wp-content/themes/darussunnah/images/icons/comment.gif" /&gt; 0 Tanggapan&lt;/span&gt;&lt;span style="display: inline;"&gt;&lt;a href="http://darussunnah.or.id/artikel-islam/fiqih/cara-mudah-memahami-fiqh-umroh/print/" title="Print" rel="nofollow"&gt;&lt;img class="WP-PrintIcon" src="http://darussunnah.or.id/wp-content/plugins/wp-print/images/printer_famfamfam.gif" alt="Print" title="Print" style="border: 0px none;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://darussunnah.or.id/artikel-islam/fiqih/cara-mudah-memahami-fiqh-umroh/print/" title="Print" rel="nofollow"&gt;Print&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="display: inline; border-right: 0px none;"&gt; &lt;img class="WP-EmailIcon" src="http://darussunnah.or.id/wp-content/plugins/wp-email/images/email.gif" alt="Email" title="Email" style="border: 0px none;" /&gt;        &lt;style type="text/css"&gt;#stafBlock { position: absolute ! important; z-index: 100000; display: none; width: 400px; }#stafForm { background-color: rgb(255, 255, 255); border: 1px solid rgb(198, 198, 198); padding: 5px; margin: 0pt; }#stafForm h2 { margin: 0pt; }#stafForm input, #stafForm label, #stafForm h2 { font-family: 'Lucida Grande',Verdana,Arial,Sans-Serif; font-size: 1em; color: rgb(34, 34, 34); }#stafForm input { width: 110px; height: 15px; margin-top: 5px; border: 1px solid rgb(204, 204, 204); }#stafForm label { float: left; display: block; width: 130px; line-height: 16px; }#stafClose { float: right; margin-right: 5px; }&lt;/style&gt;    &lt;a href="http://darussunnah.or.id/artikel-islam/fiqih/cara-mudah-memahami-fiqh-umroh/#" id="stafLink"&gt;EMAIL&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;    &lt;div&gt; &lt;div&gt; &lt;div&gt; &lt;div&gt;&lt;img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1137.snc4/149917_173637065986824_100000215951796_611138_5340734_n.jpg" alt="" /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Memahami fiqh umroh dalam waktu kurang dari 1/2 menit dalam 4 poin berikut:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ihram dari &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Thawaf&lt;/em&gt; sebanyak 7 putaran mengelilingi kakbah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Sa’yu&lt;/em&gt; sebanyak 7 putaran antara Shafa dan Marwa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memendekkan atau mencukur rambut&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;Dengan   melakukan 4 poin ini saja umroh sudah sah meskipun tanpa  ditambahi   dengan amalan-amalan lainnya. Akan tetapi untuk  kesempurnaannya &lt;em&gt;insya Allah&lt;/em&gt; akan kami jelaskan dalam rincian berikut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-1314"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Waktu Melakukan Umroh&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu melakukan umroh adalah seluruh waktu dalam setahun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tempat Memulai Umroh (dan Haji)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tempat memulai umroh (dan Haji) yang biasa disebut &lt;em&gt;miqot (makani)&lt;/em&gt;  adalah tempat-tempat yang diwajibkan untuk memulai melakukan ihram di    situ, jika seorang yang berniat umroh atau haji melewati tempat  tersebut   tanpa melakukan ihram (yaitu berniat mulai melakukan  amalan-amalan   umroh atau haji) dan tanpa melaksanakan  kewajiban-kewajibannya maka   wajib atasnya &lt;em&gt;hadyu&lt;/em&gt;, berupa menyembelih seekor kambing dan membaginya kepada fakir miskin Mekkah, tanpa mengambil bagian darinya sedikitpun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Adapun &lt;em&gt;miqot-miqot&lt;/em&gt; itu ada lima:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Dzul Hulaifah&lt;/strong&gt; (sekarang dinamakan &lt;strong&gt;Bi’r ‘Ali&lt;/strong&gt;), &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt; penduduk kota Madinah dan yang melalui rute mereka).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Al-Juhfah&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt; penduduk Saudi Arabia   bagian utara dan negara-negara Afrika Utara dan  Barat, negeri Syam   (Lebanon, Yordania, Syiria, Palestina) dan yang  melewati rute mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Qarnul Manazil&lt;/strong&gt; (sekarang dinamakan &lt;strong&gt;As-Sail&lt;/strong&gt;) dan &lt;strong&gt;Wadi Muhrim&lt;/strong&gt; (bagian atas &lt;strong&gt;Qarnul Manazil&lt;/strong&gt;), &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt; penduduk Najed, selatan Saudi di seputar pegunungan Sarat, negara-negara Teluk, Irak, Iran dan yang melewati rute mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Yalamlam&lt;/strong&gt; (sekarang dinamakan &lt;strong&gt;As-Sa’diyyah&lt;/strong&gt;), &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt; penduduk negara Yaman, Indonesia, Malaysia, negara-negara sekitarnya dan yang melewati rute mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Dzatu ‘Irqin&lt;/strong&gt; (sekarang dinamakan &lt;strong&gt;Adh-Dharibah&lt;/strong&gt;), &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt; penduduk negeri Irak (Kufah dan Bashrah) dan yang melewati rute mereka.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Dan bagi orang-orang yang tinggal di Mekkah atau yang tinggal di tempat-tempat yang terletak setelah &lt;em&gt;miqot-miqot&lt;/em&gt; di atas, boleh bagi mereka berihram untuk haji (baik &lt;em&gt;tamattu’, qiron &lt;/em&gt;maupun &lt;em&gt;ifrod&lt;/em&gt;) dari rumah masing-masing tanpa harus pergi ke &lt;em&gt;miqot &lt;/em&gt;lagi. Adapun bagi penduduk Mekkah yang ingin melakukan umroh, mereka harus keluar ke daerah &lt;em&gt;halal&lt;/em&gt; terdekat, seperti &lt;strong&gt;Tan’im&lt;/strong&gt; dan yang lainnya, lalu berihram dari sana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Urutan Amalan-amalan Umroh&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama: Ihram dari &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ihram adalah berniat memulai pelaksanaan ibadah umroh atau haji. Tata caranya sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mendatangi &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mandi seperti mandi janabat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menggunakan wewangian pada tubuh (pada bagian tubuh yang tidak terkena pakaian ihram) bila memungkinkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mandi ini juga berlaku bagi wanita haid dan nifas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi yang &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt;nya  dilewati dengan kendaraan yang tidak   mungkin berhenti seperti pesawat  maka mandinya bisa dilakukan sejak  dari  rumah atau sebelum naik pesawat  maupun setelah berada di pesawat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengenakan pakaian ihram yang  terdiri dari dua helai (yang afdhal   berwana putih), yaitu sehelai  disarungkan pada tubuh bagian bawah dan   sehelai lagi diselempangkan  pada tubuh bagian atas dengan menutup   seluruh tubuh bagian atas  termasuk kedua bahu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi yang &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt;nya dilewati dengan  kendaraan yang tidak   mungkin berhenti seperti pesawat, maka pakaian  ihramnya bisa dikenakan   menjelang naik pesawat terbang atau setelah  berada di atas pesawat   terbang, meskipun jeda waktu yang agak lama  dengan miqatnya agar ketika   melewati miqat dalam kondisi telah  mengenakan pakaian ihram.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adapun pakaian ihram wanita adalah pakaian yang menutup seluruh auratnya yang sesuai dengan batasan-batasan syar’i.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah mengenakan pakaian ihrom, lakukan sholat dua raka’at dengan niat sholat sunnah waudhu’.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketika masih berada di &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt;, naik ke kendaraan lalu mulai berniat ihram untuk melakukan umrah dengan mengucapkan:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;لَبَّيْكَ عُمْرَةً&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;“Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan umroh.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu membaca &lt;em&gt;talbiyah&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لَبَّيْكَ   اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ  لَبَّيْكَ، إِنَّ   الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ  لَكَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;“Kusambut   panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu  tiada sekutu bagi-Mu,   kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala  pujian, nikmat dan kerajaan   hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berangkat ke Mekkah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memperbanyak ucapan &lt;em&gt;talbiyah&lt;/em&gt; ini dengan mengeraskan suara sepanjang perjalanan ke Mekkah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berhenti mengucapkan &lt;em&gt;talbiyah&lt;/em&gt; ketika menjelang thawaf.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengucapkan &lt;em&gt;talbiyah&lt;/em&gt; secara berjama’ah dengan membentuk sebuah &lt;em&gt;koor&lt;/em&gt; termasuk perbuatan bid’ah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Boleh  memakai sandal, sepatu yang tidak menutupi mata kaki, cincin,    kacamata, walkman, jam tangan, sabuk, dan tas yang digunakan untuk    menyimpan uang dan barang-barang berharga lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Boleh mencuci pakaian ihram atau mengganti dengan pakaian ihram yang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hendaklah  senantiasa menjalankan printah Allah Ta’ala dan menjauhi   larangan-Nya  seperti perbuatan syirik, kefasikan, kata-kata keji dan   kotor, berdebat  untuk membela kebatilan, dan lain-lain.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Larangan-larangan ihram ada 9, yaitu:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Memotong rambut (seluruh badan).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memotong kuku.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menggunakan wewangian (adapun menggunakan wewangian sebelumnya dilakukan sebelum ihram).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengenakan penutup kepala yang menempel (yang tidak menempel seperti payung atau berteduh di bawah atap tidak mengapa).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengenakan pakaian yang membentuk tubuh (yang diistilahkan oleh sebagian fuqaha dengan pakaian berjahit).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membunuh  hewan tanah haram, bahkan diharamkan sekedar menakutinya   atau membuat  dia lari. Termasuk dalam hal ini mencabut atau merusak   tumbuhan yang  ditumbuhkan Allah Ta’ala (bukan yang ditanam manusia) di   tanah haram.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akad nikah dan melamar atau menikahkan dan melamar utk orang lain&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berhubungan suami istri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bercumbu antara suami istri, baik dengan perkataan maupun perbuatan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hukuman bagi yang melanggar 9 larangan di atas terbagi 5 bentuk:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Melakukan  pelanggaran nomor 1-5 maka hukumannya adalah membayar   fidyah berupa  menyembelih seekor kambing atau memberi makan 6 orang   miskin (setiap  orang dapat 1/2 &lt;em&gt;sho’&lt;/em&gt;) atau berpuasa 3 hari. Boleh memilih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan  pelanggaran nomor 6 maka hukumannya hendaklah menyembelih   yang  semisalnya dari hewan yang biasa digunakan untuk zakat lalu   bersedekah  dengannya dan tidak boleh makan darinya sedikitpun. Atau   menakarnya  dengan makanan dan membaginya kepada fakir miskin, setiap   orang  mendapat 1/2 &lt;em&gt;sho’&lt;/em&gt;. Atau berpuasa selama sejumlah   orang-orang  miskin tersebut. Jika yang melanggar tidak menemukan hewan   yang  semisalnya baru dia diberi pilihan apakah memberi makan ataukah   puasa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan pelanggaran nomor 7 tidak ada &lt;em&gt;fidyah&lt;/em&gt; namun   berdosa jika dilakukan bukan karena lupa atau tidak tahu dan  nikahnya   dihukumi sebagai nikah syubhat, harus diulang setelah ihram.  Dan   hendaklah bertaubat kepada Allah Ta’ala.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan pelanggaran nomor 8 (berhubungan suami sitri), apabila sebelum &lt;em&gt;tahallul awwal&lt;/em&gt; (pada haji) maka hajinya tidak sah dan wajib membayar &lt;em&gt;fidyah&lt;/em&gt; dengan menyembelih seekor unta dan dibagikan bagi fakir miskin di haram dan wajib meng&lt;em&gt;qodho’&lt;/em&gt; haji tersebut di tahun depan. Apabila dilakukan setelah &lt;em&gt;tahalul awwal&lt;/em&gt; maka hajinya sah berdasarkan &lt;em&gt;ijma’&lt;/em&gt; dan baginya &lt;em&gt;fidyah&lt;/em&gt; berupa menyembelih seekor kambing. Adapun umroh jika pelanggarannya dilakukan sebelum tawaf atau &lt;em&gt;sa’yu&lt;/em&gt; maka batal umrohnya, hendaklah melakukan umroh lagi sebagai ganti, yaitu keluar lagi ke &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt; dan wajib baginya &lt;em&gt;fidyah&lt;/em&gt; menyembelih seekor kambing. Jika dilakukan pada umroh setelah &lt;em&gt;thawaf &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;sa’yu&lt;/em&gt; (yakni sebelum memendekkan atau mencukur rambut) maka umrohnya sah dan wajib baginya &lt;em&gt;fidyah&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan  pelanggaran nomor 9, jika seorang bercumbu dengan  istrinya  di selain  kemaluannya, walaupun sampai mengeluarkan mani,  maka hajinya  tidak  sampai batal, hendaklah dia menyembelih unta jika  hal itu  dilakukan  sebelum &lt;em&gt;tahalul awal&lt;/em&gt;. Jika setelahnya, hendaklah menyembelih kambing. Bagi wanita sama hukumanya dengan laki-laki kecuali jika dia dipaksa.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Hukuman-hukuman   di atas berlaku bagi orang yang sengaja  melakukannya baik karena butuh   atau tidak. Adapun yang tidak tahu  hukumnya atau karena lupa maka  tidak  ada hukuman baginya dan hajinya  tetap sah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua: Thawaf sebanyak 7 putaran mengelilingi kakbah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div&gt; &lt;div&gt;&lt;img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs941.snc4/73484_173644282652769_100000215951796_611167_5658972_n.jpg" alt="" /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;p&gt;﻿&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tiba di Masjidil Haram Makkah, pastikan telah bersuci dari najis dan hadats (sebagai syarat &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Masuk dengan kaki kanan dan membaca, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Bismillahi wash-sholaatu was-salamu ‘ala Rasulillahi, Allahumaf-tahliy abwaaba rahmatik.”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan &lt;em&gt;itthibagh&lt;/em&gt;.  Caranya, selempangkan pakaian atas ke   bawah ketiak kanan dan  membiarkan pundak kanan terbuka dan pundak  kiri  tetap tertutup (hal ini  khusus bagi laki-laki dan khusus pada  thawaf  qudum dan thawaf umroh).  Adapun selainnya tidak disyari’atkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Segera menuju Hajar Aswad,  menghadapnya, menyentuhnya dengan tangan   kanan dan menciumnya tanpa  ada suara ciuman. Jika tidak memungkinkan,   hendaklah menyentuhnya  dengan tangan kanan dan mencium tangan yang   menyentuhnya. Jika tidak  memungkinkan maka dengan tongkat dan  sejenisnya  lalu mencium tongkat  tersebut. Jika tidak memungkinkan maka  cukup  berisyarat kepadanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika seorang bisa menciumnya maka hendaklah dia membaca, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Bismillahi Allahu Akbar”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Jika berisyarat kepadanya sambil membaca, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Allahu Akbar”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lakukan &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt; sebanyak 7 putaran mengelilingi kakbah.   Mulai dari Hajar Aswad dengan  memosisikan kakbah di sebelah kiri,  sambil  mengucapkan bacaan di atas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari Hajar Aswad sampai ke Hajar Aswad lagi, terhitung 1 putaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disunnahkan berlari-lari kecil (&lt;em&gt;raml&lt;/em&gt;) pada tiga putaran pertama (hal ini disunnahkan pada &lt;em&gt;thawaf umroh&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;thawaf qudum&lt;/em&gt; pada haji).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Raml&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;itthibagh&lt;/em&gt; tidak disyari’atkan untuk wanita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disunnahkan setiap kali berada di antara dua rukun, yaitu Rukun Yamani dan Hajar Aswad, untuk membaca:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;“Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat, serta jagalah kami dari adzab api neraka.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Disunnahkan  setiap kali sejajar dengan Hajar Aswad untuk melakukan   sebagaimana  ketika mulai pertama kali, sampai pun pada putaran  terakhir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak disyari’atkan untuk mengusapkan tangan ke badan setelah mengusap Hajar Aswad maupun Rukun Yamani.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disunnahkan setiap kali sejajar dengan Rukun Yamani untuk menyentuhnya tanpa dicium, sambil mengucapkan, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Bismillahi Allahu Akbar”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Jika tidak memungkinkan untuk menyentuhnya maka tidak disyari’atkan untuk berisyarat kepadanya dan tidak pula mencucapkan &lt;em&gt;tasmiyyah&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;takbir&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disyari’atkan sepanjang &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt; untuk memperbanyak dzikir   dan doa, namun tidak ada dzikir dan doa  khusus yang disunnahkan selain   bacaan-bacaan yang telah kami sebutkan  di atas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah berdesak-desakan untuk mencapai Hajar Aswad  atau Rukun   Yamani, sehingga menyakiti kaum muslimin. Padahal mencium  Hajar Aswad   dan menyentuh Rukun Yamani hukumnya sunnah, sedangkan  menyakiti kaum   muslimin adalah haram.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Juga tidak boleh bagi wanita berdesak-desakan dengan laki-laki, melainkan mereka berjalan di belakang kaum laki-laki.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak  boleh bagi wanita membuka wajahnya jika terdapat laki-laki   asing,  hendaklah dia menutupi wajahnya dengan kerudungnya (bukan dengan  &lt;em&gt;niqob&lt;/em&gt;, kain yang menempel di wajahnya)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak mengapa melakukan &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt; di belakang zam-zam dan di   seluruh masjid (termasuk di lantai atas dan  atap), terutama ketika   sangat ramai, namun lebih dekat ke kakbah yang  lebih afdhal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika tidak mampu thawaf sambil berjalan, tidak mengapa mengendarai kendaraan atau digendong.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selain Hajar Aswad dan Rukun Yamani tidak disyari’atkan untuk disentuh dan tidak pula ada bacaan tertentu ketika melewatinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak disyari’atkan menyentuh Maqom Ibrahim, dinding kakbah dan kiswahnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdoa kepada kakbah adalah syirik besar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak ada lafazh niat &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika terjadi keraguan pada jumlah putaran &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt;, ambil hitungan yang paling sedikit, lalu menambah putaran yang masih kurang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika telah dikumandangkan &lt;em&gt;iqomah&lt;/em&gt; sholat hendaklah memutuskan &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt; dan melakukan sholat, setelah sholat dilanjutkan kembali, tanpa harus memulai dari awal kembali.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika batal wudhu’ sebelum selesai &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt; hendaklah berwudhu’ dan memulai &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt; dari hitungan pertama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt;, tutup kembali pundak kanan dengan pakaian ihram bagian atas seperti sebelum &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pergi ke Maqom Ibrahim (tempat berdirinya Nabi Ibrahim &lt;em&gt;‘alaihissalam&lt;/em&gt; ketika membangun Kakbah) lalu membaca, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Fattakhidzu min maqoomi Ibrahiima Musholla”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;div&gt; &lt;div&gt;&lt;img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1157.snc4/149900_173644372652760_100000215951796_611168_2694018_n.jpg" alt="" /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Lalu  sholat dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim walaupun tidak   tepat di  belakangnya. Jika tidak memungkinkan maka lakukan sholat di   mana saja  di Masjidil Haram. Lakukan sholat ini walaupun bertepatan   dengan  waktu-waktu yang dilarang untuk sholat. Jika lupa mengerjakannya   maka  tidak ada kewajiban &lt;em&gt;fidyah&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disunnahkan pada raka’at  pertama membaca surat Al-Fatihah dan   Al-Kafirun. Raka’at kedua membaca  surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlash. Dan   tidak ada doa khusus sebelum dan  selesai sholat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lalu minum zam-zam dan siramkan sebagiannya ke kepala.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika memungkinkan untuk kembali menyentuh atau mencium Hajar Aswad. Jika tidak, maka tidak perlu berisyarat kepadanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lalu pergi ke bukit Shafa untuk melakukan sa’yu.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga: &lt;em&gt;Sa’yu&lt;/em&gt; sebanyak 7 putaran antara Shafa dan Marwa&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div&gt; &lt;div&gt;&lt;img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs935.snc4/74857_173644562652741_100000215951796_611169_2494720_n.jpg" alt="" /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jika telah mendekati Shafa membaca:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِاللهِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;“Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk dari syi’ar-syi’ar Allah.” &lt;/em&gt;(Al-Baqarah: 158)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;“Aku memulai (sa’yu) dengan apa yang dimulai oleh Allah (yakni disebutkan dulu Shafa lalu Marwah).”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Masih di Shafa, jika memungkinkan untuk menaikinya, lalu menghadap kakbah dan mengucapkan:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;اللهُ   أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُلاَ إِلهَ إِلاَّ  اللهُ  وَحْدَهُ  لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ  يُحْيِي  وَيُمِيْتُ  وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لاَ إِلهَ إِلاَّ  اللهُ  وَحْدَهُ  أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ  اْلأَحْزَابَ  وَحْدَهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;“Allah  Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah  Maha Besar.  Tidak ada yang berhak  diibadahi kecuali Allah tiada sekutu  bagi-Nya,  hanya milik-Nya segala  kerajaan dan pujian, Dzat yang Maha   Menghidupkan dan Maha Mematikan  serta Maha Kuasa atas segala sesuatu.   Tidak ada yang berhak diibadahi  kecuali Allah semata, yang telah   menepati janji-Nya, memenangkan  hamba-Nya dan menghancurkan bala   tentara kafir tanpa bantuan siapa pun.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dibaca 3 kali, setiap kali selesai salah satunya, disunnahkan untuk berdoa kepada Allah Ta’ala sesuai keinginan kita.&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Setelah  itu berjalan ke Marwah, ketika lewat di antara dua tanda   hijau langkah  dipercepat. Namun bagi wanita tetap berjalan seperti   biasa. Dan boleh  naik kendaraan dalam melakukan &lt;em&gt;sa’yu&lt;/em&gt; jika terdapat &lt;em&gt;masyaqqoh&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tiba  di Marwah telah dianggap melakukan satu putaran (kembalinya ke   Marwah  juga terhitung satu putaran). Berdiri di Marwah dan lakukan   seperti  yang dilakukan di Shafa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah itu kembali lagi ke Shafa dan seterusnya sampai 7 putaran yang berakhir di Marwah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Boleh melakukan &lt;em&gt;sa’yu&lt;/em&gt; di lantai atas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak mengapa bagi orang yang mendahulukan &lt;em&gt;sa’yu&lt;/em&gt; sebelum &lt;em&gt;thawaf &lt;/em&gt;karena tidak tahu atau lupa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disyari’atkan untuk memperbanyak dzikir dan doa ketika melakukan &lt;em&gt;sa’yu&lt;/em&gt;. Dan menghindari perkataan dosa dan perkataan sia-sia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disunnahkan melakukan &lt;em&gt;sa’yu&lt;/em&gt; dalam keadaan suci, jika dilakukan dalam keadaan berhadats maka tidak mengapa. Sehingga jika seorang wanita haid setelah &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt;, bolah baginya melakukan &lt;em&gt;sa’yu&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Sa’yu&lt;/em&gt; tidak disyari’atkan pada selain haji dan umroh. Berbeda dengan &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt;, boleh melakukannya kapan saja.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keempat: Memendekkan atau mencukur rambut&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div&gt; &lt;div&gt;&lt;img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs949.snc4/74279_173644709319393_100000215951796_611170_6144376_n.jpg" alt="" /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Setelah melakukan &lt;em&gt;sa’yu&lt;/em&gt;, segera memendekkan atau mencukur rambut secara merata.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak cukup memendekkan atau mencukur sebagian, namun harus seluruh rambut secara merata.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencukur lebih afdhal dibanding memendekkan, kecuali yang melakukan umroh untuk haji &lt;em&gt;tamattu’&lt;/em&gt;, lebih afdhal baginya memendekkan, untuk kemudian mencukur pada tanggal 10 Dzulhijjah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi wanita hanya memotong pada ujung-ujung rambutnya sepanjang kuku.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan ini, telah masuk pada &lt;em&gt;tahallul&lt;/em&gt;, telah halal semua yang tadinya diharamkan ketika ihram. Selesailah rangkaian ibadah umroh.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Walhamdulillahi Rabbil’alamiin.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Rujukan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Catatan pribadi dari pelajaran fiqh pada kitab &lt;strong&gt;Ad-Durorul Bahiyyah&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Al-Imam Asy-Syaukani&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; di &lt;strong&gt;Al-Madrasah As-Salafiyyah Depok &lt;/strong&gt;yang disampaikan &lt;strong&gt;Al-Ustadz Abdul Barr&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt;, 1430 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Al-Ikhtiyaraat  Al-Fiqhiyyah fi Masaailil ‘Ibaadat wal   Mu’aamalaat min Fatawa  Samaahatil ‘Allaamah Al-Imam ‘Abdil ‘Aziz bin   ‘Abdillah bin Baaz&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;–rahimahullah-&lt;/em&gt;, ikhtaaroha &lt;strong&gt;Khalid bin Su’ud Al-‘Ajmi &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt;, Bab &lt;strong&gt;Shifatul Hajj&lt;/strong&gt;, hal. 322-352. Cetakan ke-6, 1431 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Bayaanu maa yaf’aluhul Haaj wal Mu’tamir&lt;/strong&gt;, karya &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt;, terbitan &lt;strong&gt;Kantor Pusat Haiah Al-Amri bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Munkar&lt;/strong&gt;, 1430 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tabshirun Naasik bi Ahkaamil Manasik ‘ala Dhauil Kitab was Sunnah wal Ma’tsur ‘anis Shahaabah, &lt;/strong&gt;karya &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt;, cetakan ke-3, 1430 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Jami’ul Manasik&lt;/strong&gt;, karya &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Sulthan bin AbdurRahman Al-‘Ied&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt;, cetakan ke-3, 1427 H.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt; &lt;a rel="nofollow" href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/05/cara-mudah-memahami-fiqh-umroh/" target="_blank"&gt;http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/05/cara-mudah-memahami-fiqh-umroh/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-3247671707961946773?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/3247671707961946773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=3247671707961946773' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/3247671707961946773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/3247671707961946773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2011/02/cara-mudah-memahami-fiqh-umroh.html' title='Cara mudah memahami fiqh umroh'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-8981775700554569276</id><published>2010-12-29T15:01:00.000-08:00</published><updated>2010-12-29T15:04:22.405-08:00</updated><title type='text'>KRITERIA BINATANG YANG HARAM DIMAKAN</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;KRITERIA BINATANG YANG HARAM DI MAKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Ustadz Nurul Mukhlisin Asyraf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan mempunyai pengaruh yang besar pada diri seseorang. Bukan saja  pada badannya, tetapi pada  perilaku dan akhlaknya. Bagi seorang muslim,  makanan bukan saja sekedar pengisi perut dan penyehat badan, sehingga  diusahakan harus sehat dan bergizi sebagaimana yang dikenal dengan nama  “Empat sehat lima sempurna”, tetapi selain itu juga harus halal. Baik  halal pada zat makanan itu sendiri, yaitu tidak termasuk makanan yang  diharamkan oleh Allah, dan halal pada cara mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menegaskan bahwa Dia Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang  baik, termasuk makanan. Dan Allah memerintahkan kepada orang mukmin  sebagaimana Dia memerintahkan kepada para Rasul untuk memakan makanan  yang baik,  sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَآأَيُّهَاالرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para rasul, makanlah yang baik dan lakukanlah perbuatan yang baik [Al-Mukminun :51]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَارَزَقْنَاكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik dari yang telah Kami rizkikan kepadamu. [Al-Baqarah : 172].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena makanan yang tidak baik atau tidak halal akan menjadikan ibadah  seseorang tidak diterima oleh Allah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh  Muslim dari Abu Hurairah seorang laki-laki yang sedang musafir rambutnya  kusut masai dan penuh debu. Dia menadahkan kedua tangannya ke langit  sembari berdo’a: “Wahai Tuhanku , wahai Tuhanku, sedangkan makanannya  haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan perutnya diisi dengan  makanan yang haram, maka kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :  “Bagaimana mungkin permohonannya dikabulkan? Al-Hafidz Ibnu Mardawaih  meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa ketika Rasulullah  Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً  وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ   الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ  مُّبِينٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang  terdapat di bumi, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan,  karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.  [Al-Baqarah : 168]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ad bin Abu Waqqash berdiri kemudian berkata: “Ya Rasulullah, doakan  kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan do’anya  oleh Allah”. Maka Rasulullah  Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah yang halal) niscaya engkau  akan menjadi orang yang selalu dikabulkan do’anya. Demi (Allah) Yang  jiwaku berada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan  makanan haram ke dalam perutnya,  maka tidak akan diterima amal-amalnya  selama empat puluh hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari  hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya”. [HR.  At-Thabrani, Ad-Durar al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur juz II hal 403]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan ayat di atas Syekh Abdurrahman As-Sa’di berkata:  “Perintah ini (memakan makanan yang halal lagi baik) ditujukan kepada  seluruh manusia, baik dia mukmin atau kafir. Mereka diperintahkan  memakan apa yang ada di bumi, baik berupa biji-bijian, buah-buahan, dan  binatang yang halal. Yaitu diperolehnya dengan cara yang halal (benar),  bukan dengan cara merampas atau dengan cara-cara yang  tidak  diperbolehkan. Dan Tayyiban (yang baik) maksudnya bukan termasuk makanan  yang keji atau kotor, seperti bangkai, darah, daging babi, dan  lainnya”. [Tafsir Taisir Karimirrahman, hal. 63].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah ditundukkan  semua yang ada di bumi ini beserta isinya untuk kepentingan manusia .  Allah  Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً ثُمَّ اسْتَوَى  إِلَى السَّمَاء فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ  عَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia  berkehendaki menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia  Maha Mengetahui segala sesuatu. [al-Baqarah : 29].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya adalah binatang atau hewan  yang Allah tundukkan  untuk manusia, baik untuk dimakan, dijadikan kendaraan atau untuk  perhiasan dan hiburan. Allah Azza wa Jalla berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا  تَأْكُلُونَ {5} وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ  تَسْرَحُونَ {6}‏&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu, padanya ada (bulu)  yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu  makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu  membawanya kembali ke kandang dan ketika melepaskannya ke tempat  penggembalaan. [an-Nahl : 5-6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat di atas, maka pada dasarnya apa yang ada di bumi ini  adalah halal bagi manusia. Baik untuk dimakan maupun dimanfaatkan untuk  keperluan yang lain. (Tafsir Karimurrahman. Hal.63) Karena Allah  tidaklah menciptakan semuanya itu sia-sia, tetapi untuk kepentingan  hamba-Nya. Dia tidak pernah melarang hamba-Nya untuk menikmati apa yang  ada selama itu dengan cara yang Dia benarkan. Adapun beberapa makanan  atau binatang yang dilarang untuk dimakan, semua itu demi kemaslahatan  manusia secara lahiriah maupun batiniyah, baik itu  disadari oleh  manusia atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian mengetahui kriteria binatang yang haram dimakan  berdasarkan nas-nas agama sangat penting, agar seorang muslim bisa  menghindarinya. Adapun di luar yang dilarang itu boleh-boleh saja  memakannya, selama tidak menimbulkan mudharat kepada dirinya. Dan  binatang tersebut tidak termasuk ke dalam golongan binatang yang haram  dimakan, baik karena kesamaan jenis, bentuk atau sifat. Dari Abu Darda,  Rasulullah bersabda, “Apa yang dihalalkan oleh Allah di dalam kitabNya  itulah yang halal, dan apa yang diharamkan itulah yang haram, adapun  yang tidak dijelaskan termasuk yang dimaafkan bagimu. Dan terimalah  pemaafan Allah, karena Allah tidak mungkin melupakan sesuatu kemudian  membaca surat Maryam : 64.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  وَماَ كَانَ رَبُّكَ نَسِيَّا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidaklah Tuhanmu lupa. [HR. Hakim dan dia menshahihkannya, juga  diriwayatkan secara ringkas oleh Imam Bukhari  bab: ma yukrahu min  kats-rati as-Su’al]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak boleh mengharamkan sesuatu –temasuk binatang-  yang tidak  pernah Allah haramkan dalam Al-Qur’an atau lewat RasulNya, karena yang  berhak menghalalkan dan yang mengharamkan sesuatu hanyalah Allah.  Mengharamkan sesuatu yang tidak pernah Allah haramkan, atau sebaliknya  termasuk iftira’ (berdusta) kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ  وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ  إِنَّ الَّذِينَ  يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh  lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan   kebohongan terhadap Allah. sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan  kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. [An-Nahl : 116].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINATANG YANG BOLEH DAN YANG HARAM DIMAKAN&lt;br /&gt;Pertama : Barri (Binatang Darat).&lt;br /&gt;Yaitu binatang yang sebagian besar hidupnya di darat, baik dari jenis  hewan maupun burung. Binatang darat ini ada yang suci (halal), seperti:  al-An’am (binatang ternak) yaitu onta, sapi, kambing, kuda, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuda termasuk  halal –walaupun sebagian ulama mengharamkan-, berdasarkan hadits Asma’ binti Abu Bakar yang berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَحَرْنَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَسًا فَأَكَلْنَاهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kami menyembelih kuda  kemudian kami memakannya.” Dalam riwayat yang lain ditambah: “Kami  berada di Madinah“  [Muttafaq Alaih].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang Darat Yang Haram.&lt;br /&gt;Adapun di antara binatang darat  yang di haramkan untuk di makan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haram Dimakan Karena Binatangnya Sendiri (Zatnya). Seperti:&lt;br /&gt;1. Babi.&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا  أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ  وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا  ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharamkan bagimu [memakan] bangkai, darah, daging babi, [daging hewan]  yang di sembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul,  yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kecuali yang  kamu sempat menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala.  [Al-Maidah :3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keumuman ayat di atas maka semua yang berkaitan dengan babi baik  kulit, daging, minyak, lemak dan lainnya diharamkan  untuk dimakan dan  dimanfaatkan untuk keperluan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Anjing.&lt;br /&gt;Ia diharamkan karena termasuk Al-Khabaits [sesuatu yang buruk dan  menjijikkan] sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شَرُّ الْكَسْبِ مَهْرُ الْبَغِيِّ وَثَمَنُ الْكَلْبِ وَكَسْبُ الْحَجَّامِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejelek-jelek pendapatan adalah upah pelacur, harga anjing dan pendapatan tukang bekam. [HR.Muslim No. 1568]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah mengharamkan semua yang khabaits (jelek), dan yang buruk sebagaimana firman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. [al-A’raf : 157].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah  yang memerintahkan untuk mencuci bejana dari jilatan anjing dengan  basuhan tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah ,menunjukkan  keharaman dari anjing. Dalam kaidah Ushul juga dikenal Qiyas aula, yaitu  kalau harganya saja diharamkan atau sebagian tubuhnya saja mesti  disucikan, maka lebih diharamkan memakan binatangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada dasarnya memelihara anjing dilarang oleh agama, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَاشِيَةٍ نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa memelihara anjing yang bukan untuk berburu atau anjing untuk  menjaga tanaman, maka kebaikannya akan berkurang dua Qirath’ setiap  hari. [HR. Muslim dari Ibnu Umar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Muslim yang lain Ibnu Umar berkata: “Kami diperintahkan  untuk membunuh anjing, kecuali anjing untuk berburu dan anjing untuk  menjaga tanaman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Semua Binatang Bertaring Yang Dengan Taringnya Ia Memangsa Dan Menyerang Musuhnya&lt;br /&gt;Sebagaimana  yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua binatang yang bertaring, maka memakannya adalah haram.[HR.muslim]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga apa yang diriwayatkan oleh Idris Al-Khalulani, dia mendengar Abu Tsa’labah al-Khutsani berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِعَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah melarang memakan semua binatang yang mempunyai taring. [HR. Muslim : No 1932]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Semua Bangsa Burung Berkuku Yang Dengan Kukunya Ia Mencengkeram Atau Menyerang Musuh-musuhnya.&lt;br /&gt;Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى  يَوْمَ  خَيْبَرَ عَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ وَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ  مِنَ السِّبَاعِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa ketika perang Khaibar, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  melarang memakan semua burung yang mempunyai kuku panjang dan setiap  binatang buas yang bertaring. [HR.Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung yang berkuku di atas adalah yang buas, sehingga tidak termasuk  sebangsa ayam, burung merpati dan sejenisnya. Abu Musa Al As’ariy  Radhiyallahu 'anhu  berkata: “Saya melihat Rasulullah memakan daging  ayam.” [Muttafaq Alaih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Binatang-Binatang Yang Diperintahkan Untuk Dibunuh.&lt;br /&gt;Merupakan hikmah Allah adalah Dia memerintahkan manusia untuk membunuh  beberapa jenis binatang. Karena binatang-binatang sering mengganggu dan  membahayakan manusia. Karena binatang tersebut dianjurkan untuk dibunuh,  maka itu sebagai isyarat atas larangan untuk memakannya. Karena kalau  binatang itu boleh dimakan, maka akan menjadi mubazzir kalau sekedar  dibunuh, padahal Allah melarang hambaNya untuk melakukan hal-hal yang  mubazzir [Al-Isra’: 26-27].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara binatang-binatang tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحَرَمِ  الْفَأْرَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْحُدَيَّا وَالْغُرَابُ وَالْكَلْبُ  الْعَقُورُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha Rasulullah bersabda: “Lima binatang jahat  yang boleh dibunuh, baik di tanah haram atau di luarnya: tikus,  kalajengking, burung buas, gagak, dan anjing hitam. [HR.Bukhari No;3136]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk binatang yang diperintahkan untuk dibunuh adalah  cecak,  seperti yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh  cecak, dan beliau dinamakan  Fuwaisiqah (binatang jahat yang kecil)”.  [HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada riwayat lain Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِي أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ  وَفِي الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِي الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa membunuh cecak dengan sekali pukulan, ditulis baginya  seratus kebajikan, barangsiapa yang membunuhnya pada pukulan yang kedua  maka baginya kurang dari itu, dan pada pukulan yang ketiga baginya  kurang dari itu. [HS. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Binatang-Binatang Yang Dilarang Untuk Dibunuh.&lt;br /&gt;Sebaliknya ada beberapa jenis binatang yang dilarang oleh agama untuk  dibunuh. Maka dilarangnya membunuh binantang itu, berarti dilarang pula  memakannya. Karena kalau binatang itu termasuk yang boleh dimakan,  bagaimana cara memakannya  kalau dilarang  membunuhnya? Di antara  binatang tersebut adalah seperti yang disebutkan dalam riwayat Ibnu  Abbas, beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ قَتْلِ  أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ  وَالصُّرَدُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Nabi n melarang membunuh empat jenis binatang, yaitu:  semut, lebah, burung hud-hud dan burung shurad (sejenis burung gereja).  [HR. Abu Daud, Kitab al-Adab, Bab fi Qatli Ad-Dzur No; 5267].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama berpendapat bahwa kodok termasuk dalam hal ini.  Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Utsman, seorang  thabib (dokter) datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm  dan bertanya tentang kodok yang dibuat menjadi obat, dan Nabi   Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang membunuhnya. [HR.Ahmad, Nasa’i  dan dishahihkan oleh Al-Hakim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kodok bisa hidup di dua tempat di air dan di darat, seperti halnya buaya, maka sebagia ulama mengharamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Binatang Yang Lahir Dari Perkawinan Dua Jenis Binatang Yang Berbeda, Yang Salah Satunya Halal Dan Yang Lainnya Haram.&lt;br /&gt;Hal ini karena memasukkannya ke binatang yang haram lebih baik dari  menghubungkannya kepada induknya yang halal. Seperti Bighal yang lahir  dari keledai negeri  yang haram dimakan dan kuda yang boleh dimakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Binatang Yang Menjijikkan.&lt;br /&gt;Semua yang menjijikkan -termasuk binatang - diharamkan oleh Allah. Sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. [al-A’raf : 157].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kriteria binatang yang buruk dan menjijikkan pada setiap orang dan  tempat pasti berbeda. Ada yang menjijikkan  pada seseorang misalnya,  tetapi tidak menjijikkan pada yang lainnya. Maka yang dijadikan standar  oleh para ulama’ adalah tabiat  dan perasaan yang normal (salim) dari  orang Arab yang tidak terlalu miskin yang membuatnya memakan apa saja.  Karena kepada merekalah  Al-Qur’an diturunkan pertama kali dan dengan  bahasa merekalah semuanya dijelaskan. Sehingga merekalah yang paling  mengetahui mana binatang  yang menjijikkan atau tidak. (lihat penjelasan  syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa, juz 9 hal. 26 dan  seterusnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau binatang itu tidak diketahui oleh orang Arab, karena tidak ada  binatang sejenis yang hidup di sana, maka dikiyaskan (dianalogikan)  dengan binatang yang paling dekat kemiripannya dengan binatang yang ada  di Arab. Jika ia mirip dengan binatang yang haram maka diharamkan, dan  sebaliknya. Tetapi jika tidak ada yang mirip dengan binatang tersebut  maka dikembalikan kepada urf (tradisi) penduduk setempat. Kalau  kebanyakan menganggapnya tidak menjijikkan, Imam at-Thabari membolehkan  untuk dimakan, karena pada asalnya semua binatang boleh dimakan, kecuali  kalau itu membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang Yang Haram Dimakan karena Faktor Yang Datang Dari Luar.&lt;br /&gt;Di antaranya adalah sebagai berikut;&lt;br /&gt;1. Binatang sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya.&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ  اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah  kamu memakan binatang –binatang yang tidak disebut nama  Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu  adalah suatu kefasikan. [Al-An’am : 121].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bangkai&lt;br /&gt;Yaitu binatang yang mati dengan tidak disembelih; atau binatang yang  disembelih tetapi dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat; atau  disembelih sesuai dengan syariat tetapi dengan tujuan yang tidak  dibenarkan oleh syara’, seperti penyembelihan yang dipersembahkan kepada  dewa atau ritual-ritual kesyirikan lainnya. Sebagaimana firman Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا  أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ  وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا  ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging  hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang  dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas,  kecuali yang kamu sempat menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang  disembelih untuk berhala. [Al-Maidah : 3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk sembelihan yang tidak boleh dimakan adalah  sembelihan-sembelihan yang ditujukan untuk arwah-arwah orang yang telah  mati, arwah-arwah dewa, jin dan lainnya. Begitu juga sembelihan orang  Nashrani dan orang-orang non muslim yang dilakukan pada kesempatan   acara ritual dan upacara keagamaan  mereka. Karena semuanya termasuk ke  dalam sembelihan yang disembelih untuk selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menafsirkan firman Allah  وَمَا  أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ berkata: “Zahir ayat ini menunjukkan  larangan menyembelih untuk selain Allah, seperti mengatakan: “Sembelihan  ini ditujukan untuk si fulan”, dan lainnya. Kalau ini yang dimaksud  maka diucapkan atau tidak sama saja. Dan ini lebih diharamkan daripada  mengatakan: “Saya menyembelih dengan nama Al-Masih”, atau seumpamanya.  Apabila menyembelih dengan nama al-Masih atau al-Zahrah diharamkan,   maka menyembelih untuk dipersembahkan demi al-Masih atau al-Zahrah lebih  diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu menyembelih karena selain Allah  untuk mendekatkan diri  kepadanya termasuk yang diharamkan. Sekalipun mereka membaca basmalah,   sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok munafik dari umat ini yang  mendekatkan dirinya kepada bintang-bintang dengan sembelihan dan  lainnya.  Begitu juga yang dilakukan oleh orang jahiliyah di Makkah yang  menyembelih untuk jin, oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu  'alaihi wa sallam melarang memakan sembelihan yang ditujukan untuk jin.  [Lihat Fathul Majid hal. 126].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Az-Zamakhsyari mencontohkan, kebiasaan orang-orang Jahiliyah apabila  membeli rumah atau membangun rumah baru, mereka mengeluarkan jin yang  ada di dalamnya dengan menyembelih sesembelihan, hal itu dilakukan  karena takut diganggu oleh jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim al-Marwazi juga menyebutkan bahwa sembelihan yang dilakukan  ketika menyambut  pemimpin untuk mendekatkan diri kepadanya, telah  difatwakan keharamannya oleh ulama-ulama Bukhara, karena termasuk yang  disembelih karena selain Allah. [Lihat Fathul Majid hal. 127]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang melakukan penyembelihan karena selain Allah telah melakukan  satu kesyirikan, karena menyembelih juga termasuk ibadah yang harus  dilakukan karena Allah dan untuk Allah  sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ  الْعَالَمِينَ {162} لاَشَرِيكَ لَهُ وَبِذّلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ  الْمُسْلِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku krena Allah pemilik  sekalian alam. Tidak ada sekutu bagiNya dan demikianlah kami  diperintahkan dan saya termasuk orang-orang yang muslim. [Al-An’am:  162-163].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang melakukan penyembelihan untuk selain Allah akan mendapat  laknat dari Allah, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim  dari Ali bin Abi Thalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk juga katagori bangkai adalah daging yang diambil dari binatang  yang masih hidup. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Waaqid  al-Laitsi, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Apa yang  diambil dari binatang yang masih hidup adalah termasuk bangkai”. [HR.  Abu Daud].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada juga bangkai yang boleh dimakan, yaitu bangkai ikan dan  belalang, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Rasulullah  Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ  فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihalalkan bagi kita dua bangkai,...yaitu ikan dan belalang. [HR.Ibnu Majah, Shahih lihat Silsilah Shahihah No;1118]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jalalah&lt;br /&gt;Yaitu binatang yang sebagian besar makanannya adalah sesuatu yang kotor  atau najis, seperti bangkai atau kotoran lainnya. Walaupun pada awalnya  ia adalah binatang yang halal dimakan, tetapi menjadi tidak boleh  dimakan apabila binatang tersebut tidak mau makan atau lebih banyak  memakan sesuatu yang kotor. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah  bin umar, beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ الْجَلَّالَةِ وَأَلْبَانِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah melarang memakan Jalalah dan meminum susunya. [HR.Abu Daud,  Kitab al-At’imah,Bab An-Nahyu an Aklil Jalah Wa Albaniha, No; 3785]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain ditambahkan:&lt;br /&gt;Rasulullah melarang memakan Jalalah dari onta, menunggangnya, dan  meminum susunya. [HR.Abu Daud, Kitab al-At’imah,Bab An-Nahyu an Aklil  Jalah Wa Albaniha, No; 376].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Jalalah tersebut menjadi halal diharuskan untuk dikurung minimal  tiga hari, dan diberi makanan yang bersih atau suci, sebagaimana yang  dicontohkan oleh Ibnu Umar bahwa beliau pernah mengurung ayam yang suka  makan makanan yang  kotor tiga hari (Hadits Shahih riwayat Ibnu Abi  Syaibah, Irwa’ No.2504).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud pengurungan itu adalah untuk mengembalikan binatang tersebut  menjadi normal, yaitu memakan makanan bersih yang biasa dia makan,  sekalipun harus mengurungnya lebih dari tiga hari atau kurang dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Bahrii (Binatang Laut)&lt;br /&gt;Yaitu binatang yang tidak bisa hidup kecuali di dalam air, jika tinggal  di darat dalam waktu yang lama akan mati. Adapun binatang air yang  sekali-kali bisa hidup di darat, seperti kepiting, dan lainnya, maka  menurut jumuhur ulama dari mazhab Maliki, Syafii, dan Ahmad adalah suci  dan boleh dimakan. Inilah yang lebih kuat karena keumuman hadits Nabi  Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu  Hurairah, beliau bertanya kepada Rasulullah tentang berwudhu’  menggunakan air laut, Nabi bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut itu suci airnya dan halal bangkainya. [HR.Tirmidzi, Kitab Abwab  Atthaharah, Bab Maa jaa Fi Maa’il Bahri annahu thahur No.69]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Tirmidzi berkata tentang hadits di atas: Hadits ini shahih dan  itulah yang dipegang oleh kebanyakan  sahabat di antaranya Abu Bakar,  Umar, Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada sebagian sahabat yang memakruhkan bersuci dengan air laut,  seperti Abdullah bin Umar dan Abdullah bin ‘Amr [Sunan Tirmidzi I/100].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sebagaimana yang diceritakan oleh sahabat Jabir bin Abdullah ketika  mengikuti sebuah peperangan dan mengalami kelaparan yang sangat,  kemudian tiba-tiba ada ikan besar yang sudah mati terdampar di tepi  laut, yang tidak pernah dilihat sebelumnya, Jabir berkata: “Kemudian  kami memakannya setengah bulan. Dan Abu Ubaidah mengambil salah satu  tulangnya dan orang yang menunggang kuda bisa lewat di bawahnya. Abu  Ubaidah berkata: “Makanlah!”. Ketika sampai di Madinah kami menceritakan  semuanya kepada Nabi, kemudian beliau bersabda: “Makanlah!”, itu adalah  rizki yang dikeluarkan oleh Allah  untuk dimakan. Kemudian beliau  meminta sisa ikan yang ada dan beliau juga ikut  memakannya. [HR.  Bukhari No. 4104].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun binatang laut yang mempunyai nama dan bentuk seperti binatang  darat misalnya anjing laut, babi laut, maka terjadi perbedaan pendapat  di antara ulama. Mayoritas ulama mengatakan boleh dimakan, karena  keumuman hadits yang menyebutkan air laut suci dan bangkainya boleh  dimakan. Namun sebagian di antara mereka mengharuskan untuk disembelih  terlebih dahulu karena termasuk binatang yang mempunyai darah yang  mengalir dan ini juga agar lebih cepat terbunuhnya. [Majmu’ Syarah  Muhazzab, Imam An-Nawawi, kitab al-Ath’imah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKAN YANG HARAM DALAM KEADAAN TERPAKSA&lt;br /&gt;Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا حَرَّمَ  عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ  وَمَا أُهِلَّ بِهِ  لِغَيْرِ اللّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ  عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya yang diharamkan bagimu hanyalah: bangkai, darah, daging  babi, dan apa yang disembelih karena selain Allah. Barangsiapa dalam  keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak  (pula) melampau batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah  Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Baqarah : 173]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata: “Barang siapa sangat butuh kepada makanan yang  haram yang telah disebutkan oleh Allah karena dharurat (keterpaksaan)  yang dihadapinya, maka boleh dia memakannya.  Dan Allah Maha Pengampun  lagi Maha Penyayang kepadanya. Dan Allah mengetahui kebutuhan hamba-Nya  ketika dia dalam keterpaksaan. Sehingga Dia memaafkan dan membolehkannya  untuk  memakan sesuatu yang diharamkan-Nya. Diriwayatkan oleh Ibnu  Umar, Rasulullah bersabda: “ Sesungguhnya Allah senang rukhsah-Nya  (keringanan yang Dia berikan) dilakukan, sebagaimana Dia tidak senang  larangan-Nya dilakukan. [Hadits Shahih, Irwa’ No. 564)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan memakan binatang yang haram tersebut, hukumnya bisa wajib ketika  keadaannya memaksa, yang kalau itu tidak dimakan ia akan mati. Tetapi  apakah memakan yang haram tersebut hanya  untuk sekedar pengganjal perut  saja, atau boleh sampai kenyang?, merupakan khilaf di antara ulama’.  Namun ada qaidah yang mengatakan “Addharuraat Tuqaddaru bi qadariha“  (keterpaksaan diukur  sesuai dengan ukurannya). Dan tidak ada batasan  waktu, seperti: harus tidak lebih dari tiga hari, sebagaimana yang  dipahami oleh kebanyakan orang awam, tetapi kapan saja dia terpaksa dia  boleh memakannya, selama dia tidak berpura-pura terpaksa. [Fiqhul Wajiz,  Syaikkh Abdul Adzim bin Badawi Al-Khalafi, hal. 397]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan utama.&lt;br /&gt;1. Kitab Al-Ath’imah (Risalah Dukturah ) Syekh Shalih Al-Faudzan&lt;br /&gt;2. Al-Wajiz Fi Fiqhi Asunnah wal Kitab AL-Aziz, Syekh Abdul Adzim Al-Khalafi&lt;br /&gt;3. Bulughul Maram, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani&lt;br /&gt;4. Kebanyakan rujukan juga di ambil dari disket di dalam komputer yang tidak mencantumkan halaman dan penerbitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi  Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-8981775700554569276?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/8981775700554569276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=8981775700554569276' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/8981775700554569276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/8981775700554569276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2010/12/kriteria-binatang-yang-haram-dimakan.html' title='KRITERIA BINATANG YANG HARAM DIMAKAN'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-5925908545377392338</id><published>2010-12-24T14:23:00.000-08:00</published><updated>2010-12-24T14:24:53.647-08:00</updated><title type='text'>Hukum Mencabut Uban</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(85, 85, 85); margin: 9px 0pt 3px; font-family: Georgia,Helvetica,Arial,Sans-Serif; line-height: 140%; font-size: 13px;"&gt; &lt;a rel="nofollow" name="1" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 18px;" target="_blank" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-mencabut-uban.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;Posted:&lt;/span&gt; 23 Dec 2010 03:00 AM PST&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sangat wajar jika seseorang menginjak usia senja, muncul pada kepala, wajah atau jenggotnya rambut putih, alias &lt;strong&gt;&lt;em&gt;uban&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Itulah fase kehidupan yang akan dilewati oleh setiap insan sebagaimana firman Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ  ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ  ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, &lt;strong&gt;kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban&lt;/strong&gt;. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.&lt;/em&gt;” (QS. Ar Ruum: 54)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kadangkala memang kita ingin menghilangkannya, mencabutnya, atau  mengganti warnanya dengan warna lain. Namun alangkah bagusnya jika  setiap tindak-tanduk kita didasari dengan ilmu agar kita tidak sampai  terjerumus dalam kesalahan dan dosa. Sebuah petuah bagus dari Mu’adz bin  Jabal yang harus senantiasa kita ingat:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan berada di belakang ilmu&lt;/em&gt;.” (&lt;em&gt;Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, &lt;/em&gt;Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni, hal. 15)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi dalam masalah uban ini, marilah kita ikuti petunjuk syari’at  Islam yang suci nan sempurna. Dengan mengikuti petunjuk inilah seseorang  akan menuai kebahagiaan. Sebaliknya, jika enggan mengikutinya, hanya  mau memperturutkan hawa nafsu semata dan menuruti perkataan manusia yang  mencocoki hawa nafsu tanpa ada dasar dari Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, niscaya orang seperti ini akan binasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.  Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah)  dengan terang.&lt;/em&gt;” (QS. An Nur: 54)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Berpegangteguhlah dengan ajaranku dan sunnah khulafa’ur rosyidin  yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah ajaran  tersebut dengan gigi geraham kalian.&lt;/em&gt;” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadits ini &lt;strong&gt;&lt;em&gt;hasan shohih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini &lt;strong&gt;&lt;em&gt;shohih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Lihat &lt;em&gt;Shohih At Targhib wa At Tarhib&lt;/em&gt; no. 37)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah seorang &lt;em&gt;khulafa’ur rosyidin&lt;/em&gt; dan manusia terbaik setelah Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam, &lt;/em&gt;Abu Bakar Ash Shiddiq &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu &lt;/em&gt;mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ  اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ  بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”&lt;em&gt;Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika  meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang&lt;/em&gt;.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ulama yang sudah tersohor namanya di tengah-tengah kita, yakni Imam Syafi’i mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;أجمع المسلمون على أن من استبان له سنة عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم لم يحل له أن يدعها لقول أحد&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya  ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal  baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya&lt;/em&gt;.” (Madarijus Salikin, 2/335, Darul Kutub Al ‘Arobi. Lihat juga &lt;em&gt;Al Haditsu Hujjatun bi Nafsihi fil ‘Aqoid wal Ahkam&lt;/em&gt;, Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 79, Asy Syamilah)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Uban adalah Cahaya Bagi Seorang Mukmin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al Baihaqi membawakan sebuah pasal dengan judul “larangan mencabut  uban”. Lalu di dalamnya beliau membawakan hadits dari ‘Abdullah bin  ‘Umar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;الشيب نور المؤمن لا يشيب رجل شيبة في الإسلام إلا كانت له بكل شيبة حسنة و رفع بها درجة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang  beruban –walaupun sehelai- dalam Islam melainkan setiap ubannya akan  dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya.&lt;/em&gt;” (HR. Al Baihaqi dalam &lt;em&gt;Syu’abul Iman&lt;/em&gt;. Syaikh Al Albani dalam &lt;em&gt;Al Jami’ Ash Shogir&lt;/em&gt; mengatakan bahwa hadits ini &lt;strong&gt;&lt;em&gt;hasan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Muhammad bin Hibban At Tamimi rahimahullah -yang lebih dikenal dengan  Ibnu Hibban- dalam kitab Shahihnya menyebutkan pembahasan “&lt;em&gt;Hadits  yang menceritakan bahwa Allah akan mencatat kebaikan dan menghapuskan  kesalahan serta akan meninggikan derajat seorang muslim karena uban yang  dia jaga di dunia&lt;/em&gt;.” Lalu Ibnu Hibban membawakan hadits berikut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;لا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari  kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka  dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu  akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu  derajat.&lt;/em&gt;” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini &lt;strong&gt;&lt;em&gt;hasan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Uban Tidak Boleh Dicabut&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban  dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi  cahaya baginya pada hari kiamat nanti.”&lt;/em&gt; (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam &lt;em&gt;Al Jami’ Ash Shagir&lt;/em&gt; mengatakan bahwa hadits ini &lt;strong&gt;&lt;em&gt;shahih&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hukuman bagi orang yang mencabut ubannya adalah kehilangan cahaya  pada hari kiamat nanti. Dari Fudholah bin ‘Ubaid, Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ  كَانَتْ نُورًا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدَ ذَلِكَ  فَإِنَّ رِجَالًا يَنْتِفُونَ الشَّيْبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى  اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَنْتِفْ نُورَهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Barangsiapa memiliki uban di jalan Allah walaupun hanya sehelai,  maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.&lt;/em&gt;” Kemudian ada seseorang yang berkata ketika disebutkan hal ini: “&lt;em&gt;Orang-orang pada mencabut ubannya&lt;/em&gt;.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “&lt;em&gt;Siapa saja yang ingin, silakan dia memotong cahaya (baginya di hari kiamat).&lt;/em&gt;” (HR. Al Bazzar, At Thabrani dalam &lt;em&gt;Al Kabir&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Al Awsath&lt;/em&gt; dari riwayat Ibnu Luhai’ah, namun perowi lainnya tsiqoh –terpercaya-. Syaikh Al Albani dalam &lt;em&gt;Shahih At Targib wa At Tarhib&lt;/em&gt; mengatakan bahwa hadits ini &lt;strong&gt;&lt;em&gt;hasan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “&lt;em&gt;Siapa saja yang ingin, maka silakan dia memotong cahaya (baginya di hari kiamat)”; &lt;/em&gt;tidak menunjukkan bolehnya mencabut uban, namun bermakna ancaman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rambut uban mana yang dilarang dicabut?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Larangan mencabut uban mencakup uban yang berada di &lt;strong&gt;kumis, jenggot, alis, dan  kepala&lt;/strong&gt;. (&lt;em&gt;Al Jami’ Li Ahkami Ash Shalat&lt;/em&gt;, Muhammad ‘Abdul Lathif ‘Uwaidah, 1/218, Asy Syamilah)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa hukum mencabut uban apakah haram ataukah makruh?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa mencabut uban adalah &lt;strong&gt;makruh&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abu Dzakaria Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Mencabut ubat &lt;strong&gt;dimakruhkan&lt;/strong&gt;  berdasarkan hadits dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya. …  Para ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa mencabut uban adalah makruh dan  hal ini ditegaskan oleh Al Ghozali sebagaimana penjelasan yang telah  lewat. Al Baghowi dan selainnya mengatakan bahwa seandainya mau  dikatakan &lt;strong&gt;haram&lt;/strong&gt; karena adanya larangan tegas mengenai  hal ini, maka ini juga benar dan tidak mustahil. Dan tidak ada bedanya  antara mencabut uban yang ada di jenggot dan kepala (yaitu sama-sama  terlarang). (&lt;em&gt;Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab&lt;/em&gt;, 1/292-293, Mawqi’ Ya’sub)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun jika uban tersebut terdapat di jenggot atau pada rambut yang tumbuh di wajah, maka hukumnya jelas &lt;strong&gt;haram&lt;/strong&gt; karena perbuatan tersebut termasuk &lt;em&gt;an namsh&lt;/em&gt; yang dilaknat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;لعن الله الربا و آكله و موكله و كاتبه و شاهده و هم يعلمون و الواصلة و المستوصلة و الواشمة و المستوشمة و النامصة و المتنمصة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Allah melaknat riba, pemakan riba (rentenir), orang yang  menyerahkannya (nasabah), orang yang mencatatnya (sekretaris) dan yang  menjadi saksi dalam keadaan mereka mengetahui (bahwa itu riba). Allah  juga melaknat orang yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan  rambut, orang yang mentato dan yang meminta ditato, &lt;strong&gt;begitu pula orang yang mencabut rambut pada wajah dan yang meminta dicabut&lt;/strong&gt;.&lt;/em&gt;” (Diriwayatkan dalam Musnad Ar Robi’ bin Habib. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini &lt;strong&gt;&lt;em&gt;shahih&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah mengatakan,  “Adapun mencabut uban dari jenggot atau uban dari rambut yang tumbuh di  wajah, maka perbuatan seperti ini &lt;strong&gt;diharamkan&lt;/strong&gt; karena termasuk &lt;em&gt;an namsh&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;An namsh&lt;/em&gt;  adalah mencabut rambut yang tumbuh di wajah dan jenggot. Padahal  terdapat hadits yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam melaknat orang yang melakukan &lt;em&gt;an namsh&lt;/em&gt;.” (&lt;em&gt;Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin&lt;/em&gt;, 11/80, Asy Syamilah)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;: hukum mencabut uban dapat dikatakan &lt;strong&gt;haram&lt;/strong&gt;  karena ada dalil tegas mengenai hal ini, sedangkan mayoritas ulama  mengatakan hukumnya adalah makruh. Namun sebagai seorang muslim yang  ingin selalu mengikuti petunjuk Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan agar tidak kehilangan cahaya di hari kiamat kelak, maka seharusnya  seorang muslim membiarkan ubannya (tidak perlu dicabut). Dengan inilah  dia akan mendapat tiga keutamaan: &lt;em&gt;[1]&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Allah akan  mencatatnya kebaikan, [2]  dan menghapuskan kesalahan serta [3] akan  meninggikan derajat seorang muslim karena uban yang dia jaga di dunia.&lt;/em&gt; Namun, jika uban tersebut berada pada jenggot atau rambut yang tumbuh di wajah, maka ini jelas &lt;strong&gt;haramnya&lt;/strong&gt;. &lt;em&gt;Wallahu a’lam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;-bersambung pada pembahasan menyemir rambut, Insya Allah-&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/"&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-5925908545377392338?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/5925908545377392338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=5925908545377392338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/5925908545377392338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/5925908545377392338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2010/12/hukum-mencabut-uban.html' title='Hukum Mencabut Uban'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-5795616396722174643</id><published>2010-11-27T16:55:00.000-08:00</published><updated>2010-11-27T16:56:37.613-08:00</updated><title type='text'>Jalani Hidupmu Seperti Yang Diperintahkan Rabbmu</title><content type='html'>&lt;span&gt;Posted:&lt;/span&gt; 25 Nov 2010 01:00 AM PST &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Hidup Bukan Sebuah Kesia-siaan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Apakah kalian   mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan kalian   tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha tinggi Allah Raja Yang Maha   benar. Tiada sesembahan -yang benar- kecuali Dia, Rabb Yang memiliki   Arsy yang mulia.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. al-Mu’minun: 115-116&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Tidaklah   Kami menciptakan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di   antara keduanya ini untuk kesia-siaan. Itu adalah persangkaan   orang-orang kafir saja, maka celakalah orang-orang kafir itu karena   mereka akan masuk ke dalam neraka.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. Shaad: 27&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Untuk Apa Kita Hidup?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. adz-Dzariyat: 56&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Katakanlah;    Sesungguhnya sholat dan sembelihanku, hidup dan matiku, adalah untuk   Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku   diperintahkan, dan aku termasuk orang yang pertama-tama pasrah.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. al-An’am: 162-163&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. al-Mulk: 2&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Tidaklah   mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan   mengikhlaskan agama untuk-Nya, dalam keadaan mentauhidkan-Nya, agar   mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan itulah agama yang   lurus.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. al-Bayyinah: 5&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Apa Balasan Bagi Orang Yang Taat Beribadah?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan meraih keberuntungan yang sangat besar.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. al-Ahzab: 71&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Barangsiapa   yang beramal salih dari kalangan lelaki ataupun perempuan sedangkan  dia  beriman, niscaya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik,  dan  akan Kami sempurnakan balasan untuk mereka dengan sesuatu yang  lebih  baik daripada apa yang telah mereka lakukan.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. an-Nahl: 97&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Sesungguhnya   orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik   makhluk. Balasan bagi mereka adalah surga-surga yang mengalir di   bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.   Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah   balasan bagi orang-orang yang takut kepada Rabbnya.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. al-Bayyinah: 7-8&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Apakah Kita Wajib Beragama Islam?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Sesungguhnya agama yang sah di sisi Allah hanyalah Islam.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. Ali Imran: 19&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Barangsiapa   yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima   darinya, dan kelak di akherat dia pasti menjadi termasuk orang-orang   yang merugi.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. Ali Imran: 85&lt;/strong&gt;). Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Demi   Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun di   antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah beragama Yahudi atau   Nasrani lalu dia meninggal dalam keadaan tidak mau beriman terhadap   ajaranku, niscaya dia termasuk golongan penghuni neraka.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;HR. Muslim&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Hai   orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar   takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan   beragama Islam.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. Ali Imran: 102&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Dan   katakanlah kepada orang-orang yang telah diberikan al-Kitab (Yahudi  dan  Nasrani) dan kaum yang ummi/buta huruf (yaitu orang-orang musyrik);   ‘Apakah kalian mau masuk Islam?’. Apabila mereka masuk Islam, sungguh   mereka mendapatkan petunjuk, dan apabila mereka justru berpaling, maka   sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha melihat  semua  hamba.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. Ali Imran: 20&lt;/strong&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Beribadah Kepada Allah?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Maka barangsiapa   yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaknya dia melakukan   amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya   dengan sesuatu apapun.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. al-Kahfi: 110&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; juga berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. an-Nisaa’: 36&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Rabb   kalian berfirman; Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku kabulkan.   Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah   kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. al-Mukmin: 16&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Di   antara manusia ada yang mengangkat selain Allah sebagai sekutu-sekutu,   mereka mencintainya sebagaimana cintanya kepada Allah. Adapun   orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. al-Baqarah: 165&lt;/strong&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Bolehkah Kita Berdoa Kepada Selain Allah?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Sesungguhnya   masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa   kepada sesuatu yang lain bersama Allah siapapun juga.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. al-Jin: 18&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Barangsiapa   yang berdoa kepada suatu sesembahan yang lain bersama Allah yang jelas   tidak ada keterangan atasnya maka sesungguhnya perhitungan atasnya ada   di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak memperoleh   keberuntungan.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. al-Mukminun: 117&lt;/strong&gt;). Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Intisari ibadah itu adalah doa.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;HR. Tirmidzi dan lain-lain&lt;/strong&gt;).   Karena doa adalah ibadah maka tidak boleh ditujukan kepada selain   Allah. Barangsiapa menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia telah   melakukan dosa syirik dan kekafiran, yang pelakunya diancam kekal di   dalam neraka, &lt;em&gt;na’udzu billahi min dzalik! &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Apa Akibat Dosa Syirik?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Sesungguhnya   Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan masih akan   mengampuni dosa-dosa yang lain di bawahnya bagi orang-orang yang   dikehendaki-Nya.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. an-Nisaa’: 48&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Sesungguhnya   barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah haramkan atasnya   surga dan tempat kembalinya kelak adalah neraka, dan sama sekali tidak   ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim itu.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. al-Ma’idah: 72&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Sesungguhnya   orang-orang kafir yaitu dari kalangan ahli kitab dan orang musyrik  akan  menempati neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah   seburuk-buruk makhluk.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. al-Bayyinah: 6&lt;/strong&gt;). Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti masuk neraka.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;HR. Muslim&lt;/strong&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Apa Saja Keutamaan Tauhid?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Orang-orang yang   beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu   syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan   dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. al-An’aam: 82&lt;/strong&gt;). Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda: Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman, &lt;em&gt;“Wahai   anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir   sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak   mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan   mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;HR. Tirmidzi&lt;/strong&gt;, dan dia menghasankannya).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Kepada Siapa Kita Mencontoh?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Barangsiapa yang taat kepada rasul, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. an-Nisaa’: 80&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Katakanlah;   Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya   Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. Ali Imran: 31&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Sungguh   telah ada bagi kalian pada diri rasulullah suri teladan yang baik,  bagi  orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak  mengingat  Allah.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. al-Ahzab: 21&lt;/strong&gt;). Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Orang-orang   yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar,  dan  juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha  kepada  mereka dan mereka pun pasti ridha kepada-Nya, dan Allah telah  persiapkan  untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir  sungai-sungai,  mereka kekal di dalamnya, itulah keberuntungan yang  sangat-sangat  besar.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. at-Taubah: 100&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Apakah Nabi Muhammad Nabi Terakhir?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Muhammad itu   bukanlah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, akan tetapi   dia adalah seorang utusan Allah dan penutup nabi-nabi.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. al-Ahzab: 40&lt;/strong&gt;). Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alahi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“…Dahulu para nabi itu diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada segenap umat manusia.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;HR. Bukhari dan Muslim&lt;/strong&gt;).  Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alahi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Perumpamaan   diriku dengan para nabi seperti perumpamaan seorang lelaki yang   membangun sebuah rumah lalu dia berusaha menyempurnakan dan   melengkapinya kecuali tersisa satu tempat yang belum terisi batu-bata.   Maka orang-orang pun mulai memasukinya dan terkagum-kagum terhadapnya,   namun mereka berkata, ‘Seandainya satu tempat batu-bata ini terisi   sungguh sempurna!’.” &lt;/em&gt;Maka Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Akulah yang menempati tempat batu-bata itu, aku datang lalu menutup nabi-nabi.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;HR. Bukhari dan Muslim&lt;/strong&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Apakah Kita Boleh Menyelisihi Ajaran Nabi?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah&lt;em&gt; ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Hendaklah merasa   takut orang-orang yang menyelisihi urusan/tuntunan rasul itu, karena   mereka akan tertimpa bencana atau siksaan yang sangat pedih.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. an-Nuur: 63&lt;/strong&gt;). Allah&lt;em&gt; ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Barangsiapa   yang menentang rasul setelah jelas petunjuk baginya dan dia mengikuti   selain jalan orang-orang beriman, maka Kami akan membiarkan dirinya   tenggelam dalam kesesatan yang dipilihnya, dan kelak Kami akan   memasukkannya ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk   tempat kembali.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. an-Nisaa’: 115&lt;/strong&gt;). Allah&lt;em&gt; ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (yang artinya), &lt;em&gt;“Tidak   layak bagi seorang mukmin lelaki dan perempuan, apabila Allah dan   rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka   pilihan yang lain. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya   sungguh dia tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. al-Ahzab: 36&lt;/strong&gt;). Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Semua   umatku pasti akan masuk surga kecuali yang enggan.”… “Barangsiapa yang   taat kepadaku niscaya masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka  kepadaku  maka dialah orang yang enggan.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;HR. Bukhari&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://abumushlih.com/"&gt;Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-5795616396722174643?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/5795616396722174643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=5795616396722174643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/5795616396722174643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/5795616396722174643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2010/11/jalani-hidupmu-seperti-yang.html' title='Jalani Hidupmu Seperti Yang Diperintahkan Rabbmu'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-1390229399116914348</id><published>2010-11-13T05:40:00.000-08:00</published><updated>2010-11-13T05:42:12.805-08:00</updated><title type='text'>Waktu-waktu terkabulnya doa</title><content type='html'>&lt;p&gt;Sungguh berbeda Allah &lt;em&gt;Subhanahu Wa Ta’ala &lt;/em&gt;dengan  makhluk-Nya. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lihatlah manusia,  ketika ada orang meminta sesuatu darinya ia merasa kesal dan berat hati.  Sedangkan Allah &lt;em&gt;Ta’ala &lt;/em&gt;mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Sebagaimana perkataan seorang penyair:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;الله يغضب إن تركت سؤاله  وبني آدم حين يسأل يغضب&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Allah murka pada orang yang enggan meminta kepada-Nya, sedangkan manusia ketika diminta ia marah&lt;/em&gt;”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ya, Allah mencintai hamba yang berdoa kepada-Nya, bahkan karena  cinta-Nya Allah memberi ‘bonus’ berupa ampunan dosa kepada hamba-Nya  yang berdoa. Allah &lt;em&gt;Ta’ala &lt;/em&gt;berfirman dalam sebuah hadits &lt;em&gt;qudsi&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;يا ابن آدم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu&lt;/em&gt;” (HR. At Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sungguh Allah memahami keadaan manusia yang lemah dan senantiasa  membutuhkan akan Rahmat-Nya. Manusia tidak pernah lepas dari keinginan,  yang baik maupun yang buruk. Bahkan jika seseorang menuliskan segala  keinginannya dikertas, entah berapa lembar akan terpakai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka kita tidak perlu heran jika Allah Ta’ala melaknat orang yang enggan berdoa kepada-Nya. Orang yang demikian oleh Allah &lt;em&gt;‘Azza Wa Jalla&lt;/em&gt; disebut sebagai hamba yang sombong dan diancam dengan neraka Jahannam. Allah &lt;em&gt;Ta’ala &lt;/em&gt;berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh  orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku,  akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina&lt;/em&gt;” (QS. Ghafir: 60)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah Maha Pemurah terhadap  hamba-Nya, karena hamba-Nya diperintahkan berdoa secara langsung kepada  Allah tanpa melalui perantara dan dijamin akan dikabulkan. Sungguh  Engkau Maha Pemurah Ya Rabb…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Berdoa Di Waktu Yang Tepat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diantara usaha yang bisa kita upayakan agar doa kita dikabulkan oleh Allah &lt;em&gt;Ta’ala &lt;/em&gt;adalah  dengan memanfaatkan waktu-waktu tertentu yang dijanjikan oleh Allah  bahwa doa ketika waktu-waktu tersebut  dikabulkan. Diantara waktu-waktu  tersebut adalah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;1. Ketika sahur atau sepertiga malam terakhir&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; mencintai hamba-Nya yang berdoa disepertiga malam yang terakhir. Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, salah satunya:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُون&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdoa memohon ampunan&lt;/em&gt;” (QS. Adz Dzariyat: 18)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sepertiga malam yang paling akhir adalah waktu yang penuh berkah, sebab pada saat itu Rabb kita &lt;em&gt;Subhanahu Wa Ta’ala&lt;/em&gt; turun ke langit dunia dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang berdoa ketika itu. Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء  الدنيا ، حين يبقى ثلث الليل الآخر، يقول : من يدعوني فأستجيب له ، من  يسألني فأعطيه ، من يستغفرني فأغفر له&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir  pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku  akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan,  orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni&lt;/em&gt;‘” (HR. Bukhari no.1145, Muslim no. 758)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun perlu dicatat, sifat ‘turun’ dalam hadits ini jangan sampai membuat kita membayangkan Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;  turun sebagaimana manusia turun dari suatu tempat ke tempat lain.  Karena tentu berbeda. Yang penting kita mengimani bahwa Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; turun ke langit dunia, karena yang berkata demikian adalah Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; diberi julukan &lt;em&gt;Ash shadiqul Mashduq&lt;/em&gt; (orang jujur yang diotentikasi kebenarannya oleh Allah), tanpa perlu mempertanyakan dan membayangkan bagaimana caranya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari hadits ini jelas bahwa sepertiga malam yang akhir adalah waktu  yang dianjurkan untuk memperbanyak berdoa. Lebih lagi di bulan Ramadhan,  bangun di sepertiga malam akhir bukanlah hal yang berat lagi karena  bersamaan dengan waktu makan sahur. Oleh karena itu, manfaatkanlah  sebaik-baiknya waktu tersebut untuk berdoa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;2. Ketika berbuka puasa&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu berbuka puasa pun merupakan waktu yang penuh keberkahan, karena  diwaktu ini manusia merasakan salah satu kebahagiaan ibadah puasa,  yaitu diperbolehkannya makan dan minum setelah seharian menahannya,  sebagaimana hadits:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika  berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak&lt;/em&gt;” (HR. Muslim, no.1151)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keberkahan lain di waktu berbuka puasa adalah dikabulkannya doa orang yang telah berpuasa, sebagaimana sabda  Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم&lt;/p&gt; &lt;p&gt;‘”&lt;em&gt;Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa  ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang  terzhalimi” &lt;/em&gt;(HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di &lt;em&gt;Shahih At Tirmidzi&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon  apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Namun perlu  diketahui, terdapat doa yang dianjurkan untuk diucapkan ketika berbuka  puasa, yaitu &lt;strong&gt;doa berbuka puasa&lt;/strong&gt;. Sebagaimana hadits&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)&lt;/em&gt;” (HR. Abu Daud no.2357, Ad Daruquthni 2/401, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di &lt;em&gt;Hidayatur Ruwah&lt;/em&gt;, 2/232)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan lafazh berikut:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين&lt;/p&gt; &lt;p&gt;adalah &lt;strong&gt;hadits palsu&lt;/strong&gt;, atau dengan kata lain, ini  bukanlah hadits. Tidak terdapat di kitab hadits manapun. Sehingga kita  tidak boleh meyakini doa ini sebagai hadits Nabi &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu, doa dengan lafazh ini dihukumi sama seperti ucapan  orang biasa seperti saya dan anda. Sama kedudukannya seperti kita berdoa  dengan kata-kata sendiri. Sehingga doa ini tidak boleh dipopulerkan  apalagi dipatenkan sebagai doa berbuka puasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang ada hadits tentang doa berbuka puasa dengan lafazh yang mirip dengan doa tersebut, semisal:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka membaca doa: &lt;em&gt;Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim&lt;/em&gt;”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam &lt;em&gt;Al Futuhat Ar Rabbaniyyah&lt;/em&gt; (4/341), dinukil perkataan Ibnu Hajar Al Asqalani: “Hadits ini &lt;em&gt;gharib&lt;/em&gt;, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga di-&lt;em&gt;dhaif&lt;/em&gt;-kan oleh Al Albani di &lt;em&gt;Dhaif Al Jami’ &lt;/em&gt;(4350). Atau doa-doa yang lafazh-nya semisal hadits ini semuanya berkisar antara hadits &lt;em&gt;dhaif&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;munkar&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;3. Ketika malam &lt;em&gt;lailatul qadar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Malam &lt;em&gt;lailatul qadar&lt;/em&gt; adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Malam ini lebih utama dari 1000 bulan. Sebagaimana firmanAllah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Malam Lailatul Qadr lebih baik dari 1000 bulan&lt;/em&gt;” (QS. Al Qadr: 3)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada malam ini dianjurkan memperbanyak ibadah termasuk memperbanyak doa. Sebagaimana yang diceritakan oleh &lt;em&gt;Ummul Mu’minin&lt;/em&gt; Aisyah &lt;em&gt;Radhiallahu’anha&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang  sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau  bersabda: &lt;em&gt;Berdoalah&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni ['&lt;em&gt;Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku&lt;/em&gt;'']”(HR. Tirmidzi, 3513, Ibnu Majah, 3119, At Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada hadits ini Ummul Mu’minin ‘Aisyah &lt;em&gt;Radhiallahu’anha&lt;/em&gt; meminta diajarkan ucapan yang sebaiknya diamalkan ketika malam Lailatul Qadar. Namun ternyata Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;  mengajarkan lafadz doa. Ini menunjukkan bahwa pada malam Lailatul Qadar  dianjurkan memperbanyak doa, terutama dengan lafadz yang diajarkan  tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;4. Ketika adzan berkumandang&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain dianjurkan untuk menjawab adzan dengan lafazh yang sama, saat adzan dikumandangkan pun termasuk waktu yang &lt;em&gt;mustajab &lt;/em&gt;untuk berdoa.  Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam &lt;/em&gt;bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil  kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang  berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang&lt;/em&gt;” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam &lt;em&gt;Nata-ijul Afkar&lt;/em&gt;, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;5. Di antara adzan dan iqamah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu jeda antara adzan dan iqamah adalah juga merupakan waktu yang dianjurkan untuk berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak&lt;/em&gt;” (HR. Tirmidzi, 212, ia berkata: “Hasan Shahih”)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan demikian jelaslah bahwa amalan yang dianjurkan antara adzan dan iqamah adalah berdoa, bukan &lt;em&gt;shalawatan&lt;/em&gt;, atau membaca &lt;em&gt;murattal &lt;/em&gt;dengan suara keras, misalnya dengan menggunakan mikrofon. Selain tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah  &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam, &lt;/em&gt;amalan-amalan tersebut dapat mengganggu orang yang berdzikir atau sedang shalat sunnah. Padahal Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam &lt;/em&gt;bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;لا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka  janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan  suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,&lt;/em&gt;” (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, dishahihkan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di &lt;em&gt;Nata-ijul Afkar&lt;/em&gt;, 2/16).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu, orang yang &lt;em&gt;shalawatan &lt;/em&gt;atau membaca Al Qur’an dengan suara keras di waktu jeda ini, telah meninggalkan amalan yang di anjurkan oleh Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;,  yaitu berdoa. Padahal ini adalah kesempatan yang bagus untuk memohon  kepada Allah segala sesuatu yang ia inginkan. Sungguh merugi jika ia  melewatkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt; &lt;strong&gt;6. Ketika sedang sujud dalam shalat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam &lt;/em&gt;bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu&lt;/em&gt;” (HR. Muslim, no.482)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;7. Ketika sebelum salam pada shalat wajib&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar  oleh Allah? Beliau bersabda: “Diakhir malam dan diakhir shalat wajib&lt;/em&gt;” (HR. Tirmidzi, 3499)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam &lt;em&gt;Zaadul Ma’ad &lt;/em&gt;(1/305) menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘akhir shalat wajib’ adalah sebelum salam. Dan tidak terdapat riwayat bahwa Nabi &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; dan para sahabat merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib. Ahli fiqih masa kini, Syaikh Ibnu Utsaimin &lt;em&gt;Rahimahullah&lt;/em&gt; berkata: “Apakah berdoa setelah shalat itu disyariatkan atau tidak? Jawabannya: &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;tidak disyariatkan&lt;/span&gt;. Karena Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Jika engkau selesai shalat, berdzikirlah&lt;/em&gt;” (QS. An Nisa:  103). Allah berfirman ‘berdzikirlah’, bukan ‘berdoalah’. Maka setelah  shalat bukanlah waktu untuk berdoa, melainkan sebelum salam” (&lt;em&gt;Fatawa Ibnu Utsaimin&lt;/em&gt;, 15/216).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun sungguh disayangkan kebanyakan kaum muslimin merutinkan berdoa  meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib yang sebenarnya tidak  disyariatkan, kemudian justru meninggalkan waktu-waktu mustajab &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;yang disyariatkan &lt;/span&gt;yaitu diantara adzan dan iqamah, ketika adzan, ketika sujud dan sebelum salam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;8. Di hari Jum’at&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر يوم  الجمعة ، فقال : فيه ساعة ، لا يوافقها عبد مسلم ، وهو قائم يصلي ، يسأل  الله تعالى شيئا ، إلا أعطاه إياه . وأشار بيده يقللها&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan tentang hari   Jumat kemudian beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika  seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’.  Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu  tersebut&lt;/em&gt;” (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Hajar Al Asqalani dalam &lt;em&gt;Fathul Baari&lt;/em&gt; ketika menjelaskan  hadits ini beliau menyebutkan 42 pendapat ulama tentang waktu yang  dimaksud. Namun secara umum terdapat 4 pendapat yang kuat. &lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendapat pertama&lt;/strong&gt;, yaitu waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum’at, berdasarkan hadits:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai&lt;/em&gt;” (HR. Muslim, 853 dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, An Nawawi, Al Qurthubi, Ibnul Arabi dan Al Baihaqi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendapat kedua&lt;/strong&gt;, yaitu setelah ashar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan hadits:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim  meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan.  Carilah waktu itu di waktu setelah ashar&lt;/em&gt;” (HR. Abu Daud, no.1048 dari sahabat Jabir bin Abdillah &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;. Dishahihkan Al Albani di &lt;em&gt;Shahih Abi Daud&lt;/em&gt;). Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Pendapat ini yang lebih masyhur dikalangan para ulama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendapat ketiga&lt;/strong&gt;, yaitu setelah ashar, namun  diakhir-akhir hari Jum’at. Pendapat ini didasari oleh riwayat dari Abi  Salamah. Ishaq bin Rahawaih, At Thurthusi, Ibnul Zamlakani menguatkan  pendapat ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendapat keempat&lt;/strong&gt;, yang juga dikuatkan oleh Ibnu  Hajar sendiri, yaitu menggabungkan semua pendapat yang ada. Ibnu ‘Abdil  Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua  waktu yang disebutkan”. Dengan demikian seseorang akan lebih  memperbanyak doanya di hari Jum’at tidak pada beberapa waktu tertentu  saja. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu ‘Abdil Barr.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;9. Ketika turun hujan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hujan adalah nikmat Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;. Oleh karena itu tidak  boleh mencelanya. Sebagian orang merasa jengkel dengan turunnya hujan,  padahal yang menurunkan hujan tidak lain adalah Allah Ta’ala. Oleh  karena itu, daripada tenggelam dalam rasa jengkel lebih baik  memanfaatkan waktu hujan untuk berdoa memohon apa yang diinginkan kepada  Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun&lt;/em&gt;” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di &lt;em&gt;Shahih Al Jami’&lt;/em&gt;, 3078)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;10. Hari Rabu antara Dzuhur dan Ashar&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sunnah ini belum diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin, yaitu  dikabulkannya doa diantara shalat Zhuhur dan Ashar dihari Rabu. Ini  diceritakan oleh Jabir bin Abdillah &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا في مسجد  الفتح ثلاثا يوم الاثنين، ويوم الثلاثاء، ويوم الأربعاء، فاستُجيب له يوم  الأربعاء بين الصلاتين فعُرِفَ البِشْرُ في وجهه&lt;br /&gt;قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wasalam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; berdoa di  Masjid Al Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu  lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini diketahui dari  kegembiraan di wajah beliau. Berkata Jabir : ‘Tidaklah suatu perkara  penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk  berdoa,dan saya mendapati dikabulkannya doa saya&lt;/em&gt;‘”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam riwayat lain:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;فاستجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين الظهر والعصر&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Zhuhur dan Ashar&lt;/em&gt;” (HR. Ahmad, no. 14603, Al Haitsami dalam &lt;em&gt;Majma Az Zawaid&lt;/em&gt;, 4/15, berkata: “Semua perawinya &lt;em&gt;tsiqah&lt;/em&gt;”, juga dishahihkan Al Albani di &lt;em&gt;Shahih At Targhib&lt;/em&gt;, 1185)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;11. Ketika Hari Arafah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hari Arafah adalah hari ketika para jama’ah haji melakukan wukuf di  Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari tersebut dianjurkan  memperbanyak doa, baik bagi jama’ah haji maupun bagi seluruh kaum  muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sebab Rasulullah  Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;خير الدعاء دعاء يوم عرفة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah&lt;/em&gt;” (HR. At Tirmidzi, 3585. Di shahihkan Al Albani dalam &lt;em&gt;Shahih At Tirmidzi&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;12. Ketika Perang Berkecamuk&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah satu keutamaan pergi ke medan perang dalam rangka berjihad di  jalan Allah adalah doa dari orang yang berperang di jalan Allah ketika  perang sedang berkecamuk, diijabah oleh Allah Ta’ala. Dalilnya adalah  hadits yang sudah disebutkan di atas:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil  kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang  berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang&lt;/em&gt;” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam &lt;em&gt;Nata-ijul Afkar&lt;/em&gt;, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;13. Ketika Meminum Air Zam-zam&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;ماء زمزم لما شرب له&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Khasiat Air Zam-zam itu sesuai niat peminumnya&lt;/em&gt;” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Dishahihkan Al Albani dalam &lt;em&gt;Shahih Ibni Majah&lt;/em&gt;, 2502)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian uraian mengenai waktu-waktu yang paling dianjurkan untuk  berdoa. Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa kita dan menerima  amal ibadah kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Amiin Ya Mujiibas Sa’iliin&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: &lt;a href="http://kangaswad.wordpress.com/2009/07/16/sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun/"&gt;Yulian Purnama&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-1390229399116914348?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/1390229399116914348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=1390229399116914348' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/1390229399116914348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/1390229399116914348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2010/11/waktu-waktu-terkabulnya-doa.html' title='Waktu-waktu terkabulnya doa'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-7851000983309945130</id><published>2010-10-14T06:10:00.000-07:00</published><updated>2010-10-14T06:13:19.473-07:00</updated><title type='text'>Pemanfaatan Hewan Qurban</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita   Muhammad, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti   petunjuk mereka hingga akhir zaman.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam pemanfaatan hasil sembelihan qurban, seringkali kali kita   saksikan beberapa hal yang dinilai kurang tepat menurut kacamata   syari’at. Beberapa pelanggaran dalam ibadah ini sering terjadi, mungkin   saja karena belum sampainya ilmu kepada orang yang melakukan ibadah   qurban. Dalam tulisan kali ini -dengan taufik dan pertolongan Allah-,   kami berusaha menjelaskan bagaimana pemanfaatan hasil sembelihan qurban   yang tepat yang sesuai dengan tuntunan syari’at, juga bagaimanakah   penilaian syariat terhadap praktek kaum muslimin saat ini dalam hal jual   kulit hasil sembelihan qurban. &lt;em&gt;Semoga Allah memberi kemudahan dan memberi taufik bagi siapa saja yang membaca risalah ini.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Pemanfaatan Hasil Sembelihan Qurban yang Dibolehkan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="ltr"&gt;لِيَشْهَدُوا  مَنَافِعَ لَهُمْ  وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ  عَلَى مَا  رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا  وَأَطْعِمُوا  الْبَائِسَ الْفَقِيرَ&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;“&lt;em&gt;Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka   dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan   atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang   ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi)  berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir&lt;/em&gt;.” (QS. Al Hajj: 28)&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Dalam hadits dari Salamah bin Al Akwa’ &lt;em&gt;radhiyallahu&lt;/em&gt;, ia berkata bahwa Nabi  &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="ltr"&gt;« مَنْ ضَحَّى  مِنْكُمْ فَلاَ  يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ  شَىْءٌ » . فَلَمَّا  كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ  اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا  فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى قَالَ « كُلُوا  وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا  فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ  جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ  تُعِينُوا فِيهَا »&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;em&gt;”Barangsiapa di antara kalian berqurban, maka janganlah   ada daging qurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari   ketiga.”&lt;/em&gt; Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat mengatakan, &lt;em&gt;”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?”&lt;/em&gt; Maka beliau menjawab, &lt;em&gt;”(Adapun  sekarang), makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain  dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami  paceklik sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam  hal itu.”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn1"&gt;&lt;strong&gt;[1]&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Jika kita melihat dalam hadits di atas, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam &lt;/em&gt;memerintahkan   pada shohibul qurban untuk memakan daging qurban, memberi makan pada   orang lain dan menyimpan daging qurban yang ada. Namun apakah perintah   di sini wajib? Jawabnya, perintah di sini tidak wajib. Alasannya,   perintah ini datang setelah adanya larangan. Dan berdasarkan kaedah   Ushul Fiqih, ”&lt;em&gt;Perintah setelah adanya larangan adalah kembali ke hukum sebelum dilarang.&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn2"&gt;&lt;strong&gt;[2]&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;”   Hukum makan dan menyimpan daging qurban sebelum adanya larangan   tersebut adalah mubah. Sehingga hukum shohibul qurban memakan daging   qurban, memberi makan pada orang lain dan menyimpannya adalah mubah.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Ibnu Hajar Al Asqolani dalam &lt;em&gt;Fathul Bari&lt;/em&gt; mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;وَقَوْله ”  كُلُوا وَأَطْعِمُوا  ” تَمَسَّكَ بِهِ مَنْ قَالَ بِوُجُوبِ الْأَكْل مِنْ  الْأُضْحِيَّة ،  وَلَا حُجَّة فِيهِ لِأَنَّهُ أَمْر بَعْد حَظْر فَيَكُون  لِلْإِبَاحَةِ&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;”&lt;em&gt;Sebagian orang yang berpendapat bahwa shohibul qurban  wajib  memakan sebagian daging qurbannya beralasan dengan perintah Nabi   –shallallahu ’alaihi wa sallam- ”makanlah dan berilah makan” dalam   hadits di atas. Namun sebenarnya mereka tidak memiliki dalil yang jelas.   Karena perintah tersebut datang setelah adanya larangan, maka dihukumi   mubah (boleh).&lt;/em&gt;”&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Dalam hadits ini kita juga mengetahui bahwa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  pernah melarang menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari. Hal itu   agar umat Islam pada saat itu menshodaqohkan kelebihan daging qurban   yang ada. Namun larangan tersebut kemudian dihapus. Dalam hadits lain,   Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;dengan tegas menghapus larangan tersebut dan menyebutkan alasannya. Beliau bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;« كُنْتُ  نَهَيْتُكُمْ عَنْ  لُحُومِ الأَضَاحِى فَوْقَ ثَلاَثٍ لِيَتَّسِعَ ذُو  الطَّوْلِ عَلَى مَنْ  لاَ طَوْلَ لَهُ فَكُلُوا مَا بَدَا لَكُمْ  وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا ».  قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ  وَعَائِشَةَ وَنُبَيْشَةَ  وَأَبِى سَعِيدٍ وَقَتَادَةَ بْنِ النُّعْمَانِ  وَأَنَسٍ وَأُمِّ  سَلَمَةَ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُرَيْدَةَ حَدِيثٌ  حَسَنٌ صَحِيحٌ.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;“&lt;em&gt;Dulu aku melarang kalian dari menyimpan daging qurban   lebih dari tiga hari agar orang yang memiliki kecukupan memberi  keluasan  kepada orang yang tidak memiliki kecukupan. Namun sekarang,  makanlah  semau kalian, berilah makan, dan simpanlah.&lt;/em&gt;”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Setelah menyebutkan hadits ini, At Tirmidzi mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَغَيْرِهِمْ.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;“&lt;em&gt;Hadits ini telah diamalkan oleh para ulama dari sahabat  Nabi dan selain mereka.&lt;/em&gt;”&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Apakah Mesti Ada Pembagian 1/3 – 1/3?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Syaikh Abu Malik dalam &lt;em&gt;Shahih Fiqh Sunnah &lt;/em&gt;memberikan   keterangan, “Kebanyakan ulama menyatakan bahwa orang yang berqurban   disunnahkan bersedekah dengan sepertiga hewan qurban, memberi makan   dengan sepertiganya dan sepertiganya lagi dimakan oleh dirinya dan   keluarga. Namun riwayat-riwayat tersebut sebenarnya adalah riwayat yang  lemah.  Sehingga yang lebih tepat hal ini dikembalikan pada keputusan  orang  yang berqurban (shohibul qurban). Seandainya ia ingin sedekahkan  seluruh  hasil qurbannya, hal itu diperbolehkan. Dalilnya, dari Ali bin  Abi  Thalib &lt;em&gt;radhiyallahu ’anhu&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;أَنَّ  النَّبِىَّ – صلى الله  عليه وسلم – أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ ،  وَأَنْ يَقْسِمَ  بُدْنَهُ كُلَّهَا ، لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا  وَجِلاَلَهَا ] فِى  الْمَسَاكِينِ[  ، وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا  شَيْئًا&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;em&gt;Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan dia   untuk mengurusi unta-unta hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua   daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung   unta untuk melindungi dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan beliau   tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu kepada   tukang jagal (sebagai upah)&lt;/em&gt;.&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Dalam hadits ini terlihat bahwa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; sampai menyedekahkan seluruh hasil sembelihan qurbannya kepada orang miskin.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia)   mengatakan,  “Hasil sembelihan qurban dianjurkan dimakan oleh shohibul   qurban. Sebagian lainnya diberikan kepada faqir miskin untuk memenuhi   kebutuhan mereka pada hari itu. Sebagian lagi diberikan kepada kerabat   agar lebih mempererat tali silaturahmi. Sebagian lagi diberikan pada   tetangga dalam rangka berbuat baik. Juga sebagian lagi diberikan pada   saudara muslim lainnya agar semakin memperkuat ukhuwah.”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Dalam fatwa lainnya, Al Lajnah Ad Da-imah menjelaskan   bolehnya pembagian hasil sembelihan qurban tadi lebih atau kurang dari   1/3. Mereka menjelaskan, “Adapun daging hasil sembelihan qurban, maka   lebih utama sepertiganya dimakan oleh shohibul qurban; sepertiganya lagi   dihadiahkan pada kerabat, tetangga, dan sahabat dekat; serta   sepertiganya lagi disedekahkan kepada fakir miskin. Namun jika lebih/   kurang dari sepertiga atau diserahkan pada sebagian orang tanpa lainnya   (misalnya hanya diberikan pada orang miskin saja tanpa yang lainnya,   pen), maka itu juga tetap diperbolehkan. Dalam masalah ini ada   kelonggaran.”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Intinya, pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang dibolehkan adalah:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dimakan oleh shohibul qurban.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disedekahkan kepada faqir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dihadiahkan pada kerabat untuk mengikat tali silaturahmi, pada   tetangga dalam rangka berbuat baik dan pada saudara muslim lainnya agar   memperkuat ukhuwah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Bolehkah Memberikah Hasil Sembelihan Qurban pada Orang Kafir?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah   diajukan pertanyaan: Bolehkah daging qurban hasil sembelihan atau   sesuatu yang termasuk sedekah diserahkan pada orang kafir?&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Jawaban ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Da-imah: “Orang  kafir boleh diberi hewan hasil sembelihan qurban, asalkan ia bukan kafir  harbi (yaitu bukan kafir yang diajak perang) …. Dalil hal ini adalah  firman Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="ltr"&gt;لا  يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ  الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ  وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ  دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا  إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ  يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;“&lt;em&gt;Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan   berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama   dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah   menyukai orang-orang yang berlaku adil&lt;/em&gt;.” (QS. Al Mumtahanah: 8). Alasan lainnya, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  pernah memerintahkan pada Asma’ binti Abi Bakr agar menyambung hubungan   baik dengan ibunya padahal ibunya adalah seorang musyrik sebagaimana   diriwayatkan oleh Al Bukhari&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;.”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Kesimpulan: Memberikan hasil hewan qurban kepada orang   kafir (asalkan bukan kafir harbi) dibolehkan karena status hewan qurban   sama dengan sedekah atau hadiah. Dan kita diperbolehkan memberikan   sedekah maupun hadiah kepada siapa saja termasuk orang kafir. Sedangkan   pendapat yang melarang adalah pendapat yang tidak kuat karena tidak   berdalil.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Pemanfaatan Hasil Sembelihan Qurban yang Terlarang&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Ada dua bentuk pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang   terlarang, yaitu [1] Menjual sebagian dari hasil sembelihan qurban dan   [2] Memberi upah pada jagal dari hasil sembelihan qurban. Berikut   penjelasannya.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Larangan pertama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Menjual sebagian dari hasil sembelihan qurban baik berupa kulit, wol, rambut, daging, tulang dan bagian lainnya.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Dalil terlarangnya hal ini adalah hadits Abu Sa’id, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="ltr"&gt;وَلاَ تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْىِ وَالأَضَاحِىِّ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَلاَ تَبِيعُوهَا&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;“&lt;em&gt;Janganlah menjual hewan hasil sembelihan hadyu&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn10"&gt;&lt;strong&gt;[10]&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;  dan sembelian udh-hiyah (qurban).Tetapi makanlah, bershodaqohlah, dan   gunakanlah kulitnya untuk bersenang-senang, namun jangan kamu   menjualnya.&lt;/em&gt;” Hadits ini adalah hadits yang &lt;em&gt;dho’if&lt;/em&gt; (lemah).&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Walaupun hadits di atas dho’if, menjual hasil sembelihan qurban tetap terlarang. Alasannya, qurban disembahkan sebagai bentuk &lt;em&gt;taqorrub&lt;/em&gt;  pada Allah yaitu mendekatkan diri pada-Nya sehingga tidak boleh   diperjualbelikan. Sama halnya dengan zakat. Jika harta zakat kita telah   mencapai nishob (ukuran minimal dikeluarkan zakat) dan telah memenuhi   haul (masa satu tahun), maka kita harus serahkan kepada orang yang   berhak menerima tanpa harus menjual padanya. Jika zakat tidak boleh   demikian, maka begitu pula dengan qurban karena sama-sama bentuk &lt;em&gt;taqorrub&lt;/em&gt;  pada Allah. Alasan lainnya lagi adalah kita tidak diperkenankan   memberikan upah kepada jagal dari hasil sembelihan qurban sebagaimana   nanti akan kami jelaskan.&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Dari sini, tidak tepatlah praktek sebagian kaum muslimin   ketika melakukan ibadah yang satu ini dengan menjual hasil qurban   termasuk yang sering terjadi adalah menjual kulit. Bahkan untuk menjual   kulit terdapat hadits khusus yang melarangnya. Dari Abu Hurairah, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;“&lt;em&gt;Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya&lt;/em&gt;.”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Maksudnya, ibadah qurbannya tidak ada nilainya.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Larangan menjual hasil sembelihan qurban adalah pendapat   para Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Asy Syafi’i mengatakan,   “Binatang qurban termasuk nusuk (hewan yang disembelih untuk mendekatkan   diri pada Allah). Hasil sembelihannya boleh dimakan, boleh diberikan   kepada orang lain dan boleh disimpan. Aku tidak menjual sesuatu dari   hasil sembelihan qurban (seperti daging atau kulitnya, pen). Barter   antara hasil sembelihan qurban dengan barang lainnya termasuk jual   beli.”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat dibolehkannya menjual hasil sembelihan qurban, namun hasil penjualannya disedekahkan.&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;  Akan tetapi, yang lebih selamat dan lebih tepat, hal ini tidak  diperbolehkan berdasarkan larangan dalam hadits di atas dan alasan yang  telah disampaikan. &lt;em&gt;Wallahu a’lam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Catatan penting yang perlu diperhatikan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;:   Pembolehan menjual hasil sembelihan qurban oleh Abu Hanifah adalah   ditukar dengan barang karena seperti ini masuk kategori pemanfaatan   hewan qurban menurut beliau. Jadi beliau tidak memaksudkan jual beli di   sini adalah menukar dengan uang. Karena menukar dengan uang secara  jelas  merupakan penjualan yang nyata. Inilah keterangan dari Syaikh  Abdullah  Ali Bassam dalam &lt;em&gt;Tawdhihul Ahkam&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn16"&gt;&lt;strong&gt;[16]&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; dan Ash Shon’ani dalam &lt;em&gt;Subulus Salam&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn17"&gt;&lt;strong&gt;[17]&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;.   Sehingga tidak tepat menjual kulit atau bagian lainnya, lalu   mendapatkan uang sebagaimana yang dipraktekan sebagian panitia qurban   saat ini. Mereka sengaja menjual kulit agar dapat menutupi biaya   operasional atau untuk makan-makan panitia.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Mengenai penjualan hasil sembelihan qurban dapat kami rinci:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Terlarang menjual daging qurban (udh-hiyah atau pun hadyu) berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama.&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tentang menjual kulit qurban, para ulama berbeda pendapat:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Pertama:  Tetap terlarang. Ini pendapat mayoritas ulama  berdasarkan hadits di  atas. Inilah pendapat yang lebih kuat karena  berpegang dengan &lt;em&gt;zhahir&lt;/em&gt; hadits (tekstual hadits) yang melarang  menjual kulit sebagaimana  disebutkan dalam riwayat Al Hakim. Berpegang  pada pendapat ini lebih  selamat, yaitu terlarangnya jual beli kulit  secara mutlak.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Kedua:  Boleh, asalkan ditukar dengan barang (bukan dengan  uang). Ini pendapat  Abu Hanifah. Pendapat ini terbantah karena menukar  juga termasuk jual  beli. Pendapat ini juga telah disanggah oleh Imam  Asy Syafi’i dalam &lt;em&gt;Al Umm&lt;/em&gt; (2/351). Imam Asy Syafi’i mengatakan,  “Aku tidak suka menjual daging  atau kulitnya. Barter hasil sembelihan  qurban dengan barang lain juga  termasuk jual beli.” &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Ketiga: Boleh secara mutlak. Ini pendapat Abu Tsaur sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt;. Pendapat ini jelas lemah karena bertentangan dengan &lt;em&gt;zhahir&lt;/em&gt; hadits yang melarang menjual kulit.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Sebagai nasehat bagi yang menjalani ibadah qurban:   Hendaklah kulit tersebut diserahkan secara cuma-cuma kepada siapa saja   yang membutuhkan, bisa kepada fakir miskin atau yayasan sosial. Setelah   diserahkan kepada mereka, terserah mereka mau manfaatkan untuk apa.   Kalau yang menerima kulit tadi mau menjualnya kembali, maka itu   dibolehkan. Namun hasilnya tetap dimanfaatkan oleh orang  yang menerima   kulit qurban tadi dan bukan dimanfaatkan oleh &lt;em&gt;shohibul qurban&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;panitia qurban&lt;/em&gt; (wakil &lt;em&gt;shohibul qurban&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Larangan kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Memberi upah pada jagal dari hasil sembelihan qurban. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Dalil dari hal ini adalah riwayat yang disebutkan oleh ‘Ali bin Abi Tholib,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;أَمَرَنِى  رَسُولُ اللَّهِ -صلى  الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ  أَتَصَدَّقَ  بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ  الْجَزَّارَ  مِنْهَا قَالَ « نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا ».&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;“Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan jilalnya &lt;em&gt;(kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin)&lt;/em&gt;.   Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada   tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang   jagal dari uang kami sendiri”.”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Dari hadits ini, An Nawawi &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;  mengatakan, “Tidak boleh memberi tukang jagal sebagian hasil sembelihan   qurban sebagai upah baginya. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi’iyah,   juga menjadi pendapat Atho’, An Nakho’i, Imam Malik, Imam Ahmad dan   Ishaq.”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Namun sebagian ulama ada yang membolehkan memberikan upah   kepada tukang jagal dengan kulit semacam Al Hasan Al Bashri. Beliau   mengatakan, “Boleh memberi jagal upah dengan kulit.”  An Nawawi lantas   menyanggah pernyataan tersebut, “Perkataan beliau ini telah membuang   sunnah.”&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Sehingga yang tepat, upah jagal bukan diambil dari hasil sembelihan qurban. Namun &lt;em&gt;shohibul qurban&lt;/em&gt; hendaknya menyediakan upah khusus dari kantongnya sendiri untuk tukang jagal tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Demikian pembahasan kami seputar pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang terlarang dan yang dibolehkan. &lt;em&gt;Semoga   Allah memudahkan kita beramal sholih dan menjauhkan dari apa yang Dia   larang. Semoga Allah memberikan kita petunjuk, sikap takwa, keselamatan   dan kecukupan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;em&gt;Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala   kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad,   keluarga, para sahabat dan siapa saja yang mengikuti petunjuk mereka   dengan baik hingga hari kiamat.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Pangukan, Sleman, 29 Dzulqo’dah 1430 H&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Penulis: &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/"&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Artikel &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslim.or.id/"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;hr /&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; HR. Bukhari no. 5569 dan Muslim no. 1974.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Inilah yang menjadi pendapat para ulama salaf. Lihat &lt;em&gt;Ma’alim Ushul Fiqh&lt;/em&gt;, Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jizaniy, hal. 408-409, Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1422 H.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; HR. Tirmidzi no. 1510, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini &lt;em&gt;hasan shahih&lt;/em&gt;. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini &lt;em&gt;shahih&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; HR. Bukhari no. 1717 dan Muslim no. 1317.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lihat &lt;em&gt;Shahih Fiqh Sunnah&lt;/em&gt;, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 2/378, Al Maktabah At Taufiqiyah.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’&lt;/em&gt;,   soal kesembilan dari Fatwa no. 5612, 11/423-424, Mawqi’ Al Ifta’.  Fatwa  ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai  ketua,  Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, Syaikh ‘Abdullah  bin  Qu’ud dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan sebagai Anggota.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’&lt;/em&gt;,   soal ketiga dari Fatwa no. 1997, 11/424-425, Mawqi’ Al Ifta’. Fatwa  ini  ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai ketua,  Syaikh  ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, Syaikh ‘Abdullah bin  Qu’ud  sebagai Anggota.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Hadits selengkapnya lihat Shahih Al Bukhari no. 2620.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’&lt;/em&gt;,   soal kedua dari Fatwa no. 2752, 11/425-426, Mawqi’ Al Ifta’. Fatwa ini   ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai ketua, Syaikh   ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud dan   Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan sebagai Anggota.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Hadyu&lt;/em&gt;  adalah binatang ternak (unta, sapi atau kambing) yang disembelih oleh   orang yang berhaji dan dihadiahkan kepada orang-orang miskin di Mekkah.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;  HR. Ahmad no. 16256, 4/15. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa   sanad hadits ini dho’if (lemah). Ibnu Juraij yaitu ‘Abdul Malik bin   ‘Abdul ‘Aziz adalah seorang &lt;em&gt;mudallis&lt;/em&gt;. Zubaid yaitu Ibnul Harits Al Yamiy sering meriwayatkan dengan &lt;em&gt;mu’an’an&lt;/em&gt;. Zubaid pun tidak pernah bertemu dengan salah seorang sahabat. Sehingga hadits ini dihukumi munqothi’ (sanadnya terputus).&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Lihat keterangan Syaikh Abu Malik dalam &lt;em&gt;Shahih Fiqh Sunnah&lt;/em&gt;, 2/379.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa hadits ini &lt;em&gt;shahih&lt;/em&gt;.   Adz Dzahabi mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat Ibnu ‘Ayas yang   didho’ifkan oleh Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits  ini &lt;em&gt;hasan&lt;/em&gt;. Lihat &lt;em&gt;Shahih At Targhib wa At Tarhib&lt;/em&gt; no. 1088.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Lihat &lt;em&gt;Tanwirul ‘Ainain bi Ahkamil Adhohi wal ‘Idain&lt;/em&gt;, hal. 373, Syaikh Abul Hasan Musthofa bin Isma’il As Sulaimani, terbitan Maktabah Al Furqon, cetakan pertama, tahun 1421 H.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Lihat &lt;em&gt;Shahih Fiqh Sunnah,&lt;/em&gt; 2/379.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Lihat &lt;em&gt;Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom&lt;/em&gt;, Syaikh ‘Abdullah Ali Bassam, 4/465, Darul Atsar, cetakan pertama, tahun 1425 H.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Lihat &lt;em&gt;Subulus Salam Syarh Bulughul Marom&lt;/em&gt;, Muhammad bin Isma’il Ash Shon’ani, 4/177, Darul Fikr, cetakan tahun 1411 H.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Lihat &lt;em&gt;Tawdhihul Ahkam&lt;/em&gt;, 4/465.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Lihat pendapat Imam Asy Syafi’i ini dalam &lt;em&gt;Tanwirul ‘Ainain bi Ahkamil Adhohi wal ‘Idain&lt;/em&gt;, hal. 373.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Syarh Muslim&lt;/em&gt;, An Nawawi, 4/453, Mawqi’ Al Islam.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt; HR. Muslim no. 1317.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Syarh Muslim&lt;/em&gt;, An Nawawi, 4/453.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2791-bolehkah-menjual-kulit-hasil-sembelihan-qurban.html#_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Idem&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-7851000983309945130?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/7851000983309945130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=7851000983309945130' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/7851000983309945130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/7851000983309945130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2010/10/pemanfaatan-hewan-qurban.html' title='Pemanfaatan Hewan Qurban'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-4406063486529804947</id><published>2010-10-09T03:09:00.000-07:00</published><updated>2010-10-09T03:10:56.862-07:00</updated><title type='text'>Pembagian Orang Kafir dalam Islam</title><content type='html'>&lt;p&gt;Setelah terpenuhinya ketiga syarat di atas, langkah selanjutnya  adalah dengan melihat keadaan orang kafir yang akan diserang dan  diperangi tersebut apakah dia termasuk orang kafir yang boleh/halal  untuk dibunuh ataukah tidak, karena orang kafir dalam syari’at Islam  yang mulia ini ada empat macam : &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Pertama &lt;/strong&gt; : Kafir &lt;em&gt;Dzimmy&lt;/em&gt;, yaitu orang kafir yang membayar &lt;em&gt;jizyah&lt;/em&gt;  (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka  tinggal di negeri kaum muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh  selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada  mereka. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut di antaranya firman Allah Al-‘Az&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;z Al-Hak&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;m : &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلاَ  بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ  وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى  يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan  tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang  telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan  agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan  Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh  sedang mereka dalam keadaan shogirun (hina, rendah, patuh)”.&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. At-Taubah : 29&lt;/strong&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Kedua&lt;/strong&gt; : Kafir &lt;em&gt;Mu’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;had&lt;/em&gt;, yaitu  orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum  muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati.  Dan kafir seperti ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang mereka  menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman : &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; إِلاَّ الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ  يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا  إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَى مُدَّتِهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ  الْمُتَّقِينَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Kecuali orang-orang musyrikin yang kalian telah mengadakan  perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi dari kalian  sesuatu pun (dari isi perjanjian) dan tidak (pula) mereka membantu  seseorang yang memusuhi kalian, maka terhadap mereka itu penuhilah  janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang  yang bertakwa”.&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. At-Taubah : 4&lt;/strong&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lihi wa sallam bersabda dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr riwayat Bukhary : &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Siapa yang membunuh kafir Mu’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;had ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun”. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga &lt;/strong&gt; : Kafir &lt;em&gt;Musta’man&lt;/em&gt;, yaitu orang  kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian  kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang masih  berada dalam jaminan keamanan. Allah Subhanahu Wa Ta’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;la berfirman : &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ  حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ  بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَعْلَمُونَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Dan jika seorang di antara kaum musyrikin meminta perlindungan  kepadamu, maka lindungilah ia agar ia sempat mendengar firman Allah,  kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu  disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”.&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. At-Taubah : 6&lt;/strong&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt; : Kafir &lt;em&gt;Harby&lt;/em&gt;, yaitu kafir selain  tiga di atas. Kafir jenis inilah yang disyari’atkan untuk diperangi  dengan ketentuan yang telah kita jelaskan di atas. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah pembagian orang kafir oleh para ulama seperti syeikh Muqbil bin H adi Al-W&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;di’iy, syeikh Ibnu ‘Utsaimin, ‘Abdullah Al-Bass&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;m dan lain-lainnya. Dan bagi yang menelaah buku-buku fiqih dari berbagai madzhab akan menemukan benarnya pembagian ini. &lt;em&gt;Wallahul Musta’ an&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber&lt;/strong&gt; : Jurnal Al-Atsariyyah Vol. 01/Th01/2006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-4406063486529804947?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/4406063486529804947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=4406063486529804947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/4406063486529804947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/4406063486529804947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2010/10/pembagian-orang-kafir-dalam-islam.html' title='Pembagian Orang Kafir dalam Islam'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-1836925374217900208</id><published>2010-08-24T13:53:00.000-07:00</published><updated>2010-08-24T13:53:22.904-07:00</updated><title type='text'>Perselisihan Ulama Mengenai Puasa Wanita Hamil dan Menyusui</title><content type='html'>&lt;a href="http://muslim.or.id/ramadhan/perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html"&gt;Perselisihan Ulama Mengenai Puasa Wanita Hamil dan Menyusui&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-1836925374217900208?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://muslim.or.id/ramadhan/perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html' title='Perselisihan Ulama Mengenai Puasa Wanita Hamil dan Menyusui'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/1836925374217900208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=1836925374217900208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/1836925374217900208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/1836925374217900208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2010/08/perselisihan-ulama-mengenai-puasa.html' title='Perselisihan Ulama Mengenai Puasa Wanita Hamil dan Menyusui'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-5424746301300471370</id><published>2010-08-21T16:26:00.000-07:00</published><updated>2010-08-21T16:26:07.071-07:00</updated><title type='text'>Dalil Pendukung Shalat Tarawih 23 Raka’at</title><content type='html'>&lt;a href="http://muslim.or.id/ramadhan/dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-raka%E2%80%99at.html"&gt;Dalil Pendukung Shalat Tarawih 23 Raka’at&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-5424746301300471370?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://muslim.or.id/ramadhan/dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-raka’at.html' title='Dalil Pendukung Shalat Tarawih 23 Raka’at'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/5424746301300471370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=5424746301300471370' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/5424746301300471370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/5424746301300471370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2010/08/dalil-pendukung-shalat-tarawih-23.html' title='Dalil Pendukung Shalat Tarawih 23 Raka’at'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-7383900360443502709</id><published>2009-03-22T02:24:00.000-07:00</published><updated>2010-01-23T16:25:47.464-08:00</updated><title type='text'>KAJIAN ISLAM ILMIAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;INFO KAJIAN ISLAM ILMIAH BERMANHAJ SALAF&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak person : Samingun 085225227717&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kajian shoutiyah live dari Madinah Saudi Arabia online by skype&lt;br /&gt;  Ahad pertama tiap bulan&lt;br /&gt;  Jam 09:00  pagi wib&lt;br /&gt;  Pemateri : 1. Ustadz Arifin Badri (Mahasiswa S3 Jami'uah Islamiyah Madinah)&lt;br /&gt;                      2. Ustadz Abdullah Taslim (Mahasiswa S3 Jami'uah Islamiyah Madinah)&lt;br /&gt;2. Kajian Aqidah wasitiyah karya Syaikh Islam ibnu Taimiyah&lt;br /&gt;  Ahad ke 2 tiap bulan&lt;br /&gt;  Jam 10:00 pagi&lt;br /&gt;  Tempat Masjid Sholahuddin Kantor Pelayanan Pajak Kudus Jln. Niti Semito Kudus&lt;br /&gt;   Pemateri : Ustadz Abu Izzi (Ma'had Imam Ahmad bin Hambal Semarang)&lt;br /&gt;3. Kajian Kitab Fawaaid Adz Dzahabiyyah&lt;br /&gt;   Ahad ke 3&lt;br /&gt;   Jam 09:30 wib&lt;br /&gt;   Tempat Masjid Sholahuddin Kantor Pelayanan Pajak Kudus Jln. Niti Semito Kudus&lt;br /&gt;Pemateri : Ustadz Haritz Budiyatna&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-7383900360443502709?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/7383900360443502709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=7383900360443502709' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/7383900360443502709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/7383900360443502709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2009/03/kajian-islam-ilmiah.html' title='KAJIAN ISLAM ILMIAH'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-2521204034173762309</id><published>2008-06-28T06:12:00.000-07:00</published><updated>2008-10-03T08:01:08.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KAJIAN BAHASA ARAB'/><title type='text'>KAJIAN BAHASA ARAB</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KAJIAN KHUSUS UNTUK IKWAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;1. Lughotul Arobiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahasan kitab Mokhtashor Ilmu Nahwu dan Shorof&lt;br /&gt;Waktu      : Setiap Malam Sabtu setiap minggunya jam 19:00 (ba'da Isya sampai dengan selesai)&lt;br /&gt;Tempat    : Masjid Sholahuddin, Kantor Pelayanana Pajak Kudus Jln. Niti Semito Kudus&lt;br /&gt;Pemateri  : Ustadz Kuswanto Murid Senior Ustadz Abu Izzi&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;2. Lughotul Arobiyah Lanjutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahasan Kitab Matan Jurumiyah&lt;br /&gt;Materi       : I'rob Jurumiyah&lt;br /&gt;Waktu        : Setiap Malam Ahad  setiap minggunya jam 19:00 (ba'da Isya sampai selesai)&lt;br /&gt;Tempat      : Masjid Sholahuddin, Kantor Pelayanana Pajak Kudus Jln. Niti Semito Kudus&lt;br /&gt;Pemateri    : Ustadz Kuswanto Murid Senior Ustadz Abu Izzi&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;3. Mulazamah KITAB TANBIIHAT Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Waktu         : Setiap Malam Senin  setiap minggunya jam 19:00 (ba'da Isya sampai  selesai&lt;br /&gt;Pemateri     : Ustaz Kuswanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Note:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Jadwal kajian harinya sawaktu-waktu dapat berubah, Info lebih lanjut hubungi: Samingun 0811276483&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-2521204034173762309?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/2521204034173762309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=2521204034173762309' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/2521204034173762309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/2521204034173762309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2008/06/kajian-bahasa-arab.html' title='KAJIAN BAHASA ARAB'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-904972668412504935</id><published>2008-06-28T05:58:00.000-07:00</published><updated>2008-06-28T06:09:46.437-07:00</updated><title type='text'>INFO KAJIAN UMUM SALAFY</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;KAJIAN UMUM UNTUK IKWAN DAN AKWAT&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;br /&gt;1. KAJIAN AQIDAH WASHITHIYAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Hari                   : Setiap AHAD pekan ke 2 dan pekan ke 5  setiap bulannya&lt;br /&gt;    Pemateri           : Ustadz Abu Izzi (Mudir Madrasah Imam Ahmad bin Hambal Semarang)&lt;br /&gt;    Tempat             : Masjid Sholahuddi Kantor Pelayanan Pajak Kudus, Jln. Niti Semito Kudus&lt;br /&gt;    Waktu               : Pukut 10:00 wib sampa dengan pukul 1:00&lt;br /&gt;    Kontak person : &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Samingun 0811276483&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;2. KAJIAN SYARKHUS SUNNAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Hari                    : Ahad pekan ke 4&lt;br /&gt;    Pemateri            : Ustadz Harits&lt;br /&gt;    Tempat              :Masjid Sholahuddi Kantor Pelayanan Pajak Kudus, Jln. Niti Semito Kudus&lt;br /&gt;    Waktu                : Pukut 10:00 wib sampa dengan pukul 1:00&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-904972668412504935?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/904972668412504935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=904972668412504935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/904972668412504935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/904972668412504935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2008/06/info-kajian-umum-salafy.html' title='INFO KAJIAN UMUM SALAFY'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4587830534517099956.post-4953906292002924612</id><published>2008-06-08T02:43:00.000-07:00</published><updated>2008-06-08T02:51:25.126-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekilas tentang madu'/><title type='text'>Keajaiban Madu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BISMILAAHIROHMAANIRROHIIM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Assalau'alaikum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tahukah Anda, betapa madu merupakan sumber makanan penting yang disediakan Allah untuk manusia melalui serangga kecil ini?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Dalil dari Al-Qur'an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.&lt;br /&gt;(QS. Al Jatsiyah, 45: 13)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Madu tersusun atas beberapa senyawa gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, kalsium, natrium, klor, belerang, besi, dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas nektar dan serbuk sari. Di samping itu, dalam madu terdapat pula sejumlah kecil tembaga, yodium, dan seng, serta beberapa jenis hormon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Dewasa ini, apikultur dan produk lebah telah membuka cabang penelitian baru di negara-negara yang sudah maju dalam hal ilmu pengetahuan. Manfaat madu lainnya dapat dijelaskan di bawah ini:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Mudah dicerna:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Karena molekul gula pada madu dapat berubah menjadi gula lain (misalnya fruktosa menjadi glukosa), madu mudah dicerna oleh perut yang paling sensitif sekalipun, walau memiliki kandungan asam yang tinggi. Madu membantu ginjal dan usus untuk berfungsi lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Rendah kalori:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Kualitas madu lain adalah, jika dibandingkan dengan jumlah gula yang sama, kandungan kalori madu 40% lebih rendah. Walau memberi energi yang besar, madu tidak menambah berat badan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Berdifusi lebih cepat melalui darah:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Jika dicampur dengan air hangat, madu dapat berdifusi ke dalam darah dalam waktu tujuh menit. Molekul gula bebasnya membuat otak berfungsi lebih baik karena otak merupakan pengonsumsi gula terbesar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Membantu pembentukan darah:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Madu menyediakan banyak energi yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan darah. Lebih jauh lagi, ia membantu pembersihan darah. Madu berpengaruh positif dalam mengatur dan membantu peredaran darah. Madu juga berfungsi sebagai pelindung terhadap masalah pembuluh kapiler dan arteriosklerosis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Membunuh bakteri:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Sifat madu yang membunuh bakteri disebut "efek inhibisi". Penelitian tentang madu menunjukkan bahwa sifat ini meningkat dua kali lipat bila diencerkan dengan air. Sungguh menarik bahwa lebah yang baru lahir dalam koloni diberi makan madu encer oleh lebah-lebah yang bertanggung jawab merawat mereka-seolah mereka tahu kemampuan madu ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Royal jelly:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; Royal jelly adalah zat yang diproduksi lebah pekerja di dalam sarang. Zat bergizi tinggi ini mengandung gula, protein, lemak, dan berbagai vitamin. Royal jelly digunakan untuk menanggulangi masalah-masalah yang disebabkan kekurangan jaringan atau kelemahan tubuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="article_seperator"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Wassalamu'alaikum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4587830534517099956-4953906292002924612?l=sehatdenganmadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/feeds/4953906292002924612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4587830534517099956&amp;postID=4953906292002924612' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/4953906292002924612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4587830534517099956/posts/default/4953906292002924612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatdenganmadu.blogspot.com/2008/06/keajaiban-madu.html' title='Keajaiban Madu'/><author><name>CARA ISLAM BEROBAT DENGAN MADU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16859544202413474161</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
